Super Kawaii Cute Cat Kaoani
Tampilkan postingan dengan label BBRI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BBRI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Februari 2025

BBRI Punya Target Harga Baru di Tengah Tekanan

JAKARTA, investor.id – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) atau BRI membukukan laba bersih Rp 60,15 triliun pada 2024, naik tipis dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 60,1 triliun. Perolehan laba tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar (99%) dan KB Valbury Sekuritas (100%).

Adapun pendapatan bunga BBRI pada 2024 tumbuh 9,9% yoy menjadi Rp 199,26 triliun, meskipun menghadapi tahun yang penuh tantangan akibat tingginya biaya pendanaan. Biaya tersebut telah membatasi pertumbuhan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) BBRI.

“Tetapi, pendapatan berbasis biaya (fee income) dan pemulihan yang kuat mendorong pertumbuhan pre-provision operating profit (PPOP) sebesar 9,6% yoy,” tulis analis KB Valbury Sekuritas, Akhmad Nurcahyadi dalam risetnya.

Meskipun pertumbuhan kredit melambat ke 7% yoy, pendekatan BBRI yang berhati-hati dalam menyalurkan kredit – dengan memprioritaskan kualitas aset di tengah peningkatan biaya kredit – dianggap sebagai langkah yang bijak.

“Margin bunga bersih (net interest margin/NIM) sedikit turun menjadi 7,74%. Itu masih sesuai dengan panduan manajemen BRI dan proyeksi kami, sekaligus sejalan dengan tren industri,” jelas Akhmad.

Sedangkan non-performing loan (NPL) sebesar 2,78% atau mengalahkan ekspektasi KB Valbury Sekuritas dan panduan manajemen BRI, meski biaya kredit mencapai 3,23% atau sedikit meleset dari 3,2%. Selain itu, cost to income ratio (CIR) tetap dalam panduan sebesar 41,59%.

Rekomendasi dan Target Harga Baru 

Tahun ini, BBRI memiliki beberapa faktor utama pendorong pertumbuhan. Pertama, peningkatan pertumbuhan kredit di segmen mikro. Kedua, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang lebih kuat. Ketiga, penurunan biaya pendanaan. Keempat, kualitas aset yang tetap terjaga dengan baik.

“Solidnya pendapatan berbasis biaya dan komisi, serta pemulihan lebih lanjut dan pengelolaan biaya yang efisien juga bakal berkontribusi,” sebut Akhmad.

Dengan berbagai faktor tersebut, KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BRI (BBRI). Namun, target harga saham BBRI diturunkan menjadi Rp 5.390 atau 9,6% lebih rendah.

Hal itu mencerminkan tekanan terhadap saham BBRI belakangan ini. Penyesuaian target harga juga sejalan dengan revisi oleh konsensus (turun 20,5%).

Target harga baru tersebut menyiratkan estimasi P/B 2025 sebesar 2,5 kali. Saat ini, saham BBRI diperdagangkan pada estimasi P/B 2025 sebesar 1,8 kali atau sedikit di atas standar deviasi (SD) -1 yang sebesar 1,7 kali.




Berita ini dikutip dari : Investor Daily
Penulis : Jauhari Mahardhika
19 Feb 2025 | 14:02 WIB

Rabu, 22 Januari 2025

Giliran BBRI

JAKARTA, investor.id - Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) atau BRI, Sunarso memborong sebanyak 210.000 saham perseroan.

Sunarso melakukan transaksi beli saham BBRI pada 16 Januari 2025 di harga Rp 4.200/saham. Sehingga nilai keseluruhan transaksinya Rp 882 juta.

Sebelum transaksi, bos BBRI itu memiliki 5.658.656 saham perseroan. Setelah transaksi menjadi 5.868.656 saham.

“Tujuan transaksi, investasi,” jelas Sekretaris Perusahaan BRI, Agustya Hendy Bernadi dalam keterbukaan informasi dikutip Rabu (22/1/2025).

Saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) sendiri ditutup menghijau 0,95% ke Rp 4.260 pada perdagangan 21 Januari kemarin. Sebanyak 345,22 juta saham ditransaksikan, frekuensi 60.127 kali, dan nilai transaksi Rp 1,49 triliun. BBRI masuk top leaders kemarin di nomor dua dengan kontribusi +6,15%.

Pada perdagangan 20 Januari, saham ini bahkan mampu lompat 3,18%. Giliran BBRI yang ambil panggung. Asing sendiri mulai masuk lagi ke saham BRI. Dalam sepekan terakhir, asing net buy BBRI Rp 1,2 triliun.

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) atau BRI, Sunarso sempat muncul di podcast konglomerat Hermanto Tanoko. Sebagaimana dapat diakses pada Youtube Hermanto Tanoko.

Sunarso mengungkit banyak hal, di antaranya mengenai fundamental BRI (BBRI).

Dalam kesempatan tersebut, Sunarso menegaskan bahwa fundamental BRI masih sangat baik dan sangat solid. “Dalam situasi yang tidak mudah kita masih berusaha mempertahankan bahwa profitabilitas kita, laba kita sama dengan tahun lalu,” paparnya.

Dia juga menambahkan bahwa rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) BBRI masih lebih dari 26%. “Dan sekarang kalau kita punya 26% itu berarti kita masih punya room untuk penggunaan capital itu lebih dari 7%. Artinya itu sampai 5 tahun ke depan berapapun laba BRI tidak perlu ditahan untuk memperkuat permodalan,” katanya.

“Artinya berapapun laba BRI harus dibagi supaya return on equity saya masih bisa bertahan dan ini sebenarnya bank kalau saya katakan jarang di dunia ini. Di dalam waktu yang bersamaan punya modal yang kuat tapi return on equity-nya masih berkisar 19-20% itu jarang,” sambungnya.

Prediksi Dividen

Sementara itu, Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) atau BRI diprediksi memberikan imbal hasil (yield) dividen tertinggi tahun 2025 sehingga tak perlu dipertanyakan lagi. BRI kini berada di jalur tepat untuk meraih profitabilitas, ditopang oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih (NII) dan terkendalinya biaya operasional. 

Berdasarkan riset Macquarie, yield dividen BBRI tahun 2025 diprediksi mencapai 8,2%, diikuti oleh PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sebesar 6,7%, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) 6,2%, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) 3,4%, dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) 1,1%. 

Secara umum, Macquarie mencatat, per November 2024, tiga bank Himbara mencetak pertumbuhan laba bersih 4-5%, sedangkan BBCA memimpin sebesar 14%. Secara umum, kinerja ini sudah sejalan dengan proyeksi.




Berita ini dikutip dari : Investor Daily
Penulis : Thresa Sandra Desfika
22 Jan 2025 | 07:29 WIB

Selasa, 14 Januari 2025

Ramalan Dividen Bank 2025, BBRI Paling Tinggi

JAKARTA, investor.id – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) atau BRI diprediksi memberikan imbal hasil (yield) dividen tertinggi tahun 2025. BRI kini berada di jalur tepat untuk meraih profitabilitas, ditopang oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih (NII) dan terkendalinya biaya operasional. 

Berdasarkan riset Macquarie, yield dividen BBRI tahun 2025 diprediksi mencapai 8,2%, diikuti oleh PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sebesar 6,7%, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) 6,2%, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) 3,4%, dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) 1,1%. 

Secara umum, Macquarie mencatat, per November 2024, tiga bank Himbara mencetak pertumbuhan laba bersih 4-5%, sedangkan BBCA memimpin sebesar 14%. Secara umum, kinerja ini sudah sejalan dengan proyeksi. 

“BBNI sudah dekat mencapai target laba bersih, karena sudah mencapai 96% dari total setahun penuh, sedangkan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) baru 74%,” tulis Macquarie, yang dikutip pada Selasa (14/1/2025). 

Broker asing itu mencatat, tiga bank besar BUMN mendapatkan tambahan likuiditas Rp 94 triliun pada November 2024, lebih tinggi dari Oktober sebesar Rp 8 triliun. Ini menandakan pendanaan yang kurang agresif dari pemerintah. 

Sementara itu, semua bank yang diriset Macquarie, kecuali BRI atau BBRI, berada di jalur tepat untuk memenuhi target pencadangan alias provisi. 

Kinerja 2025 dan Target Harga 

Memasuki 2025, Macquarie menilai, bank dengan aset baik akan mencetak performa solid, yakni BBCA dan BRIS. Maka, saham BBCA dan BRIS berada di pilihan teratas Macquarie. 

“Begitu pelonggaran moneter terjadi, dua saham ini akan mengalami rerating. BBCA da BRIS memiliki pertumbuhan EPS resilien, selain memiliki pendanaan kuat dan aset berkualitas, sehingga menjustifikasi valuasi premium,” papar Macquarie. 

Geliat dua saham itu, tulis Macquarie, akan diikuti oleh bank lain. Ketika itu terjadi, Macquarie memilih saham BBRI dan BBNI yang menyandang rekomendasi outperform. Broker ini juga sudah meng-upgrade saham BMRI ke outperform, karena menjanjikan yield dividen 6% tahun 2025. 

Saham BBTN, demikian Macquarie, juga mendapatkan rekomendasi outperform, karena akan diuntungkan oleh program perumahan pemerintah. Namun, dalam jangka pendek, profitabilitas bank ini bakal tertekan. 

Macquarie menetapkan target harga saham BBCA, BBRI, BMRI, BBNI, dan BRIS masing-masing Rp 12.590, Rp 5.690, Rp 6.900, Rp 6.000, dan Rp 3.485. 
 





Berita ini dikutip dari : Investor Daily
Penulis : Harso Kurniawan
14 Jan 2025 | 10:24 WIB

Senin, 23 Desember 2024

Saham BBRI Bangkit, IHSG Balik ke 7.000-an,

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil melesat lebih dari 1% pada perdagangan sesi I Senin (23/12/2024), meski sentimen pasar cenderung minim pada pekan ini karena perdagangan hanya berlangsung selama tiga hari akibat adanya libur Natal

Hingga pukul 12:00 WIB, IHSG melonjak 1,25% ke posisi 7.071,33. IHSG pun kembali ke level psikologis 7.000 pada sesi I hari ini dan bahkan IHSG makin dekati level psikologis 7.100.

Nilai transaksi indeks pada sesi I hari ini sudah mencapai sekitar Rp 5 triliun dengan volume transaksi mencapai 15 miliar lembar saham dan sudah ditransaksikan sebanyak 597.681 kali. Sebanyak 323 saham menguat, 238 saham melemah, dan 216 saham cenderung stagnan.

Secara sektoral, sektor infrastruktur menjadi penopang terbesar IHSG di sesi I hari ini yakni mencapai 1,7%.

Sementara dari sisi saham, perbankan raksasa mendominasi penopang IHSG di sesi I, dengan saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi penopang terbesar yakni mencapai 17,6 indeks poin.

Selain itu, adapula emiten telekomunikasi PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) yang juga menopang IHSG sebesar 10,5 indeks poin.

Berikut ini saham-saham penopang IHSG di sesi I hari ini.

Pada pekan ini, perdagangan pasar keuangan RI hanya berjalan tiga hari saja. Lantaran pada tanggal 25-26 merupakan hari libur Natal dan cuti bersama.

Meskipun pasar keuangan RI hanya berjalan tiga hari saja, pasar masih berharap adanya Santa Rally pada perdagangan pekan ini, mengingat pergerakan IHSG sudah terjun cukup dalam sepanjang pekan lalu.

Pekan ini, dunia menunggu fenomena Santa Claus Rally di pasar saham, termasuk di Indonesia. Santa Claus rally menjadi momentum menarik mendulang cuan jelang akhir tahun dan diyakini menjadi suatu pertanda yang baik untuk tahun yang akan datang.

Untuk diketahui, Santa Claus rally merupakan sebuah reli di pasar saham AS yang terjadi pada lima perdagangan terakhir di bulan Desember hingga dua hari perdagangan pertama di bulan Januari.

Ada beberapa penjelasan di balik fenomena Santa Claus rally, seperti optimisme menyambut tahun baru dan investasi dari bonus musim liburan misalnya.

Selain itu, ada juga teori yang mengatakan bahwa beberapa investor institusi besar yang cenderung lebih pesimistis terhadap pasar saham sedang berlibur pada periode ini, sehingga pasar didominasi oleh investor ritel yang cenderung lebih optimistis.

Jika melihat data historis pada IHSG selama 10 tahun terakhir, momentum Santa Claus Rally yang juga bertepatan dengan Window Dressing membuat probabilitas IHSG ditutup hijau sangat dominan, peluangnya mencapai 90%.

Adapun sentimen pasar dari global yang perlu dicermati oleh pelaku pasar pada pekan ini yakni rilis data indeks keyakinan konsumen (IKK) Amerika Serikat (AS) per Desember 2024 dan diperkirakan naik ke level 113 dari level 111.7 di November 2024.

Jika benar demikian, maka hal ini menandakan bahwa tingkat kepercayaan konsumen di AS terhadap kondisi ekonomi AS cenderung terjaga.

CNBC INDONESIA RESEARCH




Berita ini dikutip dari : CNBC
Chandra Dwi, CNBC Indonesia
23 December 2024 12:27

Senin, 16 Desember 2024

Saham Long Term, Dividen Besar, Ya Ini

JAKARTA, investor.id - PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) atau BRI mengumumkan rencana pembagian dividen interim tahun buku 2024 senilai Rp 20,4 triliun atau Rp 135/saham.

Direksi BRI menjelaskan bahwa pembagian dividen interim sesuai dengan keputusan rapat direksi dan persetujuan dewan komisaris perseroan.

“Berdasarkan laporan keuangan yang berakhir pada 30 September 2024, perseroan akan membagikan dividen interim tahun buku 2024 Rp 135/saham,” jelas direksi BRI (BBRI) dalam keterbukaan informasi, Senin (16/12/2024).

Data keuangan per 30 September 2024 yang mendasari pembagian dividen di antaranya laba bersih yang diatribusikan kepada entitas induk Rp 45,06 triliun.

Lead Investment Analyst Stockbit Rahmanto Tyas Raharja menjelaskan rencana pembagian dividen interim BRI (BBRI) tahun buku 2024 sebesar sekitar Rp 20 triliun atau Rp135/saham, setara 45% dividend payout ratio dari laba bersih 9M24.

Jumlah tersebut mengindikasikan dividend yield sebesar 3,2% berdasarkan harga saham BBRI secara intraday pada Senin (16/12) di Rp 4.200/saham. Dividen interim ini lebih tinggi +61% dibandingkan dividen interim yang dibagikan oleh BBRI pada Desember 2023 sebesar Rp 84/saham.

Dividen interim tersebut akan dibagikan kepada pemegang saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) atau BRI yang namanya tercatat pada penutupan perdagangan tanggal 30 Desember 2024.

Cum dividen interim BRI di pasar reguler dan pasar negosiasi pada 24 Desember 2024. Ex dividen di pasar reguler dan pasar negosiasi pada 27 Desember 2024.

Sedangkan pembayaran dividen interim Bank Rakyat Indonesia (BBRI) atau BRI dilakukan pada 15 Januari 2025.

Long Term

Stockbit Sekuritas sebelumnya sempat mengungkapkan bahwa harga saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) atau BRI sedang menawarkan entry point yang menarik, terutama untuk investasi dengan jangka waktu yang lebih long term.

“Pandangan kami tersebut didasarkan oleh valuasi BRI (BBRI) saat ini yang hampir menyentuh level terendahnya dalam 10 tahun terakhir (di luar periode pandemi), perbaikan pada fundamental, dan dividend yield sudah cukup menarik dengan hampir menyentuh level 8%,” jelas Investment Analyst Lead Stockbit, Rahmanto Tyas Raharja dalam ulasannya pada 25 November 2024.

Ia melanjutkan, manajemen BBRI mengisyaratkan bahwa perseroan berada di posisi yang cukup kuat untuk meningkatkan dividend payout ratio hingga 85% atau lebih (vs. 2023: 80%), bergantung pada persetujuan pemegang saham. Dividen tersebut tentu besarnya bukan main.

Jika BRI (BBRI) dapat mencapai laba bersih FY24F sebesar Rp 61 triliun sesuai ekspektasi konsensus, maka dividend payout sebesar 85% setara dengan dividend yield sebesar 7,8% berdasarkan harga Rp 4.400/saham per penutupan bursa 22 November 2024.

Sementara itu, Mandiri Sekuritas dalam Mansek Universe pada 4 Desember 2024 merekomendasikan beli saham BBRI dengan target harga Rp 6.000.





Berita ini dikutip dari : Investor Daily
Penulis : Thresa Sandra Desfika
16 Des 2024 | 11:25 WIB

Rabu, 11 Desember 2024

Empat Saham Bank Besar Kompak Hijau, BBRI Naik Hampir 1 Persen

IDXChannel – Empat saham bank raksasa serentak menguat hingga penutupan sesi I perdagangan Rabu (11/12/2024), menjaga momentum pemulihan sejak awal Desember lalu.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan, saham bank BUMN PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) naik 0,92 persen ke Rp4.400 per saham. Nilai transaksi sebesar Rp529,9 miliar dan volume perdagangan 120,3 juta saham.

Saham bank pelat merah lainnya, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) terapresiasi 0,49 persen dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) meningkat 0,40 persen.

Demikian pula, saham bank Grup Djarum PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tumbuh 0,48 persen.

Saham bank-bank di muka berusaha rebound dari tekanan jual yang terjadi selama dua bulan terakhir seiring keluarnya investor asing di tengah situasi ekonomi makro, geopolitik, dan politik di negara-negara utama.

Prospek Cerah

Meskipun dalam jangka pendek saham-saham perbankan utama masih mengalami guncangan, termasuk efek kekhawatiran investor, terutama asing, terhadap kebijakan presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Donald Trump nantinya, emiten tersebut dinilai masih memiliki prospek yang cerah ke depannya.

Laporan kinerja kuartal III-2024 dari sejumlah bank yang dipantau DBS Group Research menunjukkan hasil yang umumnya sesuai ekspektasi.

Menurut riset DBS yang terbit pada 4 November 2024, BBRI sedikit mengungguli perkiraan analis berkat pemulihan kinerja keuangan yang lebih tinggi dari yang diharapkan.

Analis DBS menjelaskan, pertumbuhan laba perbankan di kuartal III-2024 didorong oleh peningkatan penyaluran kredit yang kuat, meski dihadapkan pada tekanan biaya dana (cost of funds/CoF).

Beberapa bank juga berhasil menjaga biaya kredit pada level yang rendah. DBS memperkirakan tren positif ini akan berlanjut pada kuartal IV-2024, seiring dengan proyeksi pertumbuhan kredit yang kuat.

Sementara, analis CGS International menilai, bank-bank besar relatif stabil karena tren kualitas aset membaik sejak titik terendah pada kuartal II-2024.

Saat ini, kata analis CGS International, bank-bank besar menikmati pertumbuhan kredit yang kuat dan/atau Net Interest Margin (NIM) yang tetap tangguh meskipun ada penurunan suku bunga oleh bank sentral.

Dengan demikian, laba bank utama diperkirakan tetap stabil pada kuartal IV-2024.

Riset lainnya datang dari Sucor Sekuritas, terbit pada 9 Desember 2024, yang mengungkapkan, tekanan besar yang dialami sektor perbankan Indonesia akhir-akhir ini akibat aliran dana asing keluar, pertumbuhan laba yang lemah, dan kekhawatiran kualitas kredit.

Dalam sebulan terakhir, empat bank besar (BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI) mencatat aliran keluar dana asing mencapai Rp14,4 triliun atau 92 persen dari total outflow Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

BBRI menjadi yang paling terdampak, dengan kepemilikan asing anjlok ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir, yakni 68,5 persen pada November 2024, turun dari puncaknya 79,2 persen pada Februari 2024.

Penurunan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap eksposur BBRI pada segmen pendapatan menengah ke bawah yang rentan terhadap lemahnya daya beli.

Prospek jangka pendek masih penuh tantangan, termasuk daya beli yang tertekan oleh inflasi, pelemahan rupiah, dan kenaikan tajam suku bunga SRBI di atas 7 persen.

Selain itu, kata analis Sucor, potensi "kitchen sinking" terkait pergantian manajemen usai perubahan pemerintahan bisa menekan laba sementara. Ketegangan geopolitik juga dapat memicu kenaikan imbal hasil obligasi yang memperburuk arus keluar modal.

Namun, Sucor Sekuritas optimistis terhadap prospek jangka panjang sektor perbankan, didukung oleh reformasi ekonomi struktural pemerintah di sektor hilirisasi mineral, pertanian, dan energi.

Langkah ini diperkirakanmendongkrak pertumbuhan ekonomi (PDB) dan permintaan kredit. Mereka memproyeksikan pertumbuhan (CAGR) laba bersih tahunan gabungan empat bank besar mencapai 13,4 persen dalam lima tahun ke depan.

Dengan valuasi saham yang kini mendekati rata-rata 10 tahun (rasio PBV) dan imbal hasil dividen menarik—BBRI, BMRI, dan BBNI masing-masing sekitar 8 persen, 6 persen, dan 6 persen—Sucor Sekuritas menilai peluang investasi tetap ada.

Namun, investor disarankan menunggu hingga sentimen sektor ini membaik, terutama terkait perbaikan kualitas kredit, penurunan biaya dana, dan penguatan likuiditas. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.




Berita ini dikutip dari : IDX Channel
Market news, TIM RISET IDX CHANNEL 11/12/2024 12:55 WIB

Rabu, 20 November 2024

Gerak Saham Usai JP Morgan Lebih Bullish dengan BBRI

Bloomberg Technoz, Jakarta - Kenaikan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) terhenti, setelah sebelumnya sempat naik sejalan dengan perubahan sikap JP Morgan pada saham bank pelat merah ini.

Berdasarkan data Bloomberg, Rabu (20/11/2024), saham BBRI kehilangan 10 poin atau setara 0,23% ke level Rp4.350/saham pada pukul 13.42.

Padahal, saham BBRI dibuka menghijau di level Rp4.400/saham pada pembukaan pagi tadi.

Harga saham BBRI juga sempat menyentuh level tertingginya di level Rp4.440/saham sebelum akhirnya berbalik arah hingga masuk zona merah mulai perdagangan sesi II siang ini.

Nilai transaksi saham BBRI sejauh ini tercatat Rp731,99 miliar. Adapun frekuensi yang terjadi sebanyak 28.342 kali.

JP Morgan baru saja mengubah pandangannya terhadap saham BBRI. Mulanya neutral, kini dia merevisi pandangannya menjadi overweight. Pada saat yang bersamaan, JP Morgan juga menyesuaikan target harga yang mulanya Rp5.500/saham, menjadi Rp5.200/saham.

Bankir asal AS tersebut juga mulanya memberi perhatian pada potensi penurunan kualitas aset BBRI. Ini juga menjadi alasan fund manager tersebut sebelumnya yang bersikap neutral terhadap saham BBRI.

(fik)



Berita ini dikutip dari : Bloombergtechnoz
Muhammad Fikri
20 November 2024 13:55

Rabu, 30 Oktober 2024

BBRI Cetak Laba Rp 45,36 T di Kuartal III-2024, Kredit Naik 14,23%

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank pelat merah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) kembali mencetak kinerja positif dalam sembilan bulan pertama tahun ini. Secara konsolidasi, BRI telah membukukan laba bersih periode berjalan Rp45,36 triliun, tumbuh 2,59% secara tahunan (yoy) pada kuartal III-2024, dari setahun sebelumnya sebesar Rp44,21 triliun.

Mengutip laporan keuangan di media massa, pencapaian tersebut tidak terlepas dari pendapatan bunga bersih sebesar Rp107,75 triliun, naik 4,6% yoy dari setahun sebelumnya Rp103,01 triliun.

Pada fungsi intermediasi, penyaluran kredit BRI yang tercatat sebesar Rp1.353,36 triliun, tumbuh 14,23% yoy pada periode September 2024. Dari jumlah tersebut, kredit UMKM tercatat sebesar Rp1.105,70 triliun, dengan komersial kredit UMKM sebesar 81,70%.

Kualitas kredit pun terjaga pada sembilan bulan pertama tahun ini, dengan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) gross sebesar 3,04% dan NPL net sebesar 0,84%. BRI juga mencatatkan NPL coverage sebesar 215,44%.

Pada penghimpunan dana, BRI berhasil mencatatkan total dana pihak ketiga sebesar Rp1.362,42 triliun, tumbuh 5,59% yoy pada kuartal III-2024, dari setahun sebelumnya Rp1.290,28 triliun. Dengan komposisi dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) sebesar 64,17%.

Dengan begitu, rasio pinjaman terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) BRI sebesar 89,18% per enam bulan pertama tahun ini.

Aset BRI pun tercatat melonjak 5,93% yoy menjadi Rp1.961,92 triliun pada kuartal III-2024.




Berita ini dikutip dari : CNBC
Zefanya Aprilia, CNBC Indonesia
30 October 2024 06:55

Selasa, 29 Oktober 2024

Ada Pengumuman Penting dari BRI (BBRI) & Bank Mandiri (BMRI) Besok

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk akan mengumumkan capaian kinerja keuangan kuartal III-2024, besok Rabu (30/10/2024).

Rencananya emiten bersandi BBRI akan mengumumkan capaian kuartal III-2024 lebih dahulu atau pukul 08.30 WIB. Lalu emiten bersandi BMRI akan mengumumkan capaian triwulan ketiga tahun ini pada pukul 15.00 WIB.

Sebagai informasi, BRI membukukan laba bersih Rp 29,9 triliun, tumbuh 1,13% secara tahunan (yoy) pada semester I-2024, dari setahun sebelumnya sebesar Rp 29,56 triliun.

Mengutip laporan keuangan yang dipublikasikan di media massa, Kamis (25/7/2024), pencapaian tersebut tidak terlepas dari pendapatan bunga bersih sebesar Rp 69,93 triliun, naik 6,7% yoy dari setahun sebelumnya Rp 65,54 triliun.

Pada fungsi intermediasi, penyaluran kredit BRI yang tercatat sebesar Rp 1.336,78 triliun, tumbuh 11,2% yoy pada periode Juni 2024. Dari jumlah tersebut, kredit UMKM tercatat sebesar Rp 1.095,64 triliun, atau menyumbang komposisi sebesar 81,95%.

Sementara itu, Bank Mandiri membukukan laba bersih Rp26,55 triliun per akhir Juni 2024, naik 5,23%yoy. Kenaikan laba Bank Mandiri ditopang oleh pendapatan bunga dan syariah bersih yang terkerak naik 3,75% yoy menjadi Rp 49,08 triliun.

Hingga paruh pertama tahun ini, Bank Mandiri secara konsolidasi menyalurkan kredit hingga Rp 1.526,82 triliun atau tumbuh 9,64% dibandingkan posisi akhir tahun lalu sebesar Rp 1.392,58 triliun.



Berita ini dikutip dari : CNBC
mkh, CNBC Indonesia
29 October 2024 13:08