Super Kawaii Cute Cat Kaoani
Tampilkan postingan dengan label INPC. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INPC. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 November 2024

Saham Bank Artha Graha (INPC) Milik Aguan Pulih Cepat, Naik 16 Persen

IDXChannel – Saham PT Bank Artha Graha Internasional Tbk (INPC) rebound pada perdagangan Kamis (28/11/2024), kembali menghijau usai mengalami aksi ambil untung (profit taking) sebelumnya.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 10.10 WIB, saham INPC meningkat 15,97 ke Rp334 per saham. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp79,94 miliar.

Pada Selasa (26/11) lalu, saham INPC turun 7,69 persen, usai reli 5 hari beruntun.

Di awal perdagangan Selasa, INPC sempat menembus Rp380 per saham, melampaui level tertinggi terakhir, yakni pada 3 Maret 2021, yang saat itu berada di di level Rp320 per saham.

Saham INPC bergerak fluktuatif sejak 21 Oktober 2024, beberapa kali naik belasan hingga di atas 20 persen.

Seiring dengan itu, pihak BEI juga sempat melakukan penghentian sementara (suspensi) perdagangan INPC, yakni pada 25 Oktober 2024 dan 30 Oktober 2024-7 November 2024.

Saham INPC melambung 75,53 persen dalam sepekan dan melonjak 148,12 persen dalam sebulan.

Sebelumnya, pengamat pasar modal Michael Yeoh berpendapat, investor berbondong-bondong membeli saham INPC seiring dengan rumor soal rencana anak usaha emiten properti PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) untuk melantai di bursa di akhir 2024.

Apalagi, kata Michael, valuasi INPC saat ini terbilang murah.

“Anak usaha dari PANI akan melakukan penawaran publik perdana (IPO) pada Desember 2024. Respons pasar dari aksi ini mengarah ke pergerakan INPC, mengingat PBV [price-to book value] INPC yang juga masih dalam valuasi murah, yaitu 0,7-0,8 kali,” kata Michael kepada IDXChannel.com, Selasa (19/11/2024).

Kedua emiten tersebut memang memiliki keterkaitan kuat di bawah kendali taipan Aguan alias Sugianto Kusuma.

Aguan, bos properti raksasa Agung Sedayu Group, berkongsi dengan pengusaha kawakan Tomy Winata di INPC dan menjadi pengendali PANI bersama dengan Grup Salim.

Untuk menjadi catatan, kendati tampak memiliki potensi ke atas, kenaikan tajam yang berkelanjutan pada saham INPC bisa memicu aksi ambil untung (profit taking) oleh investor yang ingin mengamankan keuntungan mereka.

Risiko ini perlu menjadi perhatian, terutama bagi investor yang masuk di level harga tinggi. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.



Berita ini dikutip dari : IDX Channel
Market news, TIM RISET IDX CHANNEL 28/11/2024 10:18 WIB

Rabu, 20 November 2024

Saham Bank Artha Graha (INPC) Milik Taipan Aguan Kembali Naik Tajam

IDXChannel – Saham PT Bank Artha Graha Internasional Tbk (INPC) kembali menguat signifikan pada perdagangan Rabu (20/11/2024).

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 09.52 WIB, saham INPC melambung 21,95 persen ke Rp200 per saham. Nilai transaksi mencapai Rp48,03 miliar dan volume perdagangan 249 juta saham.

Pada Selasa (19/11), saham INPC melesat 34,43 persen, menyentuh auto rejection atas (ARA).

Saham INPC bergerak liar sejak 21 Oktober 2024, beberapa kali naik belasan hingga di atas 20 persen.

Seiring dengan itu, pihak BEI juga sempat melakukan penghentian sementara (suspensi) perdagangan INPC, yakni pada 25 Oktober 2024 dan 30 Oktober 2024-7 November 2024.

Dalam sepekan, saham INPC meningkat 62,60 persen, dalam sebulan melonjak 85,19 persen, dan sejak awal tahun (YtD) melesat 173,97 persen.

Pengamat pasar modal Michael Yeoh berpendapat, investor melirik saham INPC seiring dengan rumor soal rencana anak usaha emiten properti PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) untuk melantai di bursa di akhir 2024.

Apalagi, kata Michael, valuasi INPC terbilang murah.

“Anak usaha dari PANI akan melakukan penawaran publik perdana (IPO) pada Desember 2024. Respons pasar dari aksi ini mengarah ke pergerakan INPC, mengingat PBV [price-to book value] INPC yang juga masih dalam valuasi murah, yaitu 0,7-0,8 kali,” kata Michael kepada IDXChannel.com, Selasa (19/11/2024).

Kedua emiten tersebut memang memiliki keterkaitan kuat di bawah kendali taipan Aguan alias Sugianto Kusuma.

Aguan, bos properti raksasa Agung Sedayu Group, berkongsi dengan pengusaha kawakan Tomy Winata di INPC dan menjadi pengendali PANI bersama dengan Grup Salim.

Secara teknikal, menurut amatan Michael, dalam terang Teori Elliott Wave, INPC bergerak dalam gelombang (wave) kelima, rebound dari titik terendah 120.

“Hal tersebut mengindikasikan INPC mencapai dasar (bottom) dari wave keempat, di mana wave kelima berada di angka 200,” katanya.

Sebagai informasi, dalam khazanah analisis teknikal, Teori Elliott Wave membantu memprediksi pergerakan harga dengan pola gelombang berurutan yang terbagi dalam dua fase.

Kedua fase tersebut, yakni fase impulsif (gelombang 1-2-3-4-5) yang searah tren utama, dan fase korektif (gelombang A-B-C) yang melawan tren.

Pola ini kerap digunakan untuk memetakan titik balik harga, terutama saat dikombinasikan dengan Fibonacci retracement. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.



Berita ini dikutip dari : IDX Channel
Market news, TIM RISET IDX CHANNEL 20/11/2024 10:04 WIB

Selasa, 29 Oktober 2024

Saham Bank Mini Kembali Naik Panggung, INPC Melonjak 27 Persen

IDXChannel – Saham emiten bank mini (KBMI 1 & 2) kembali naik tajam pada perdagangan Selasa (29/10/2024), melanjutkan tren positif beberapa waktu belakangan.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 10.22 WIB, saham PT Bank Artha Graha Internasional Tbk (INPC) melesat 27,07 persen ke Rp169 per saham.

Dalam sepekan, saham bank milik taipan Sugianto Kusuma alias Aguan dan Tomy Winata tersebut melonjak 42,02 persen dan dalam sebulan naik tajam 148,53 persen.

Keterbukaan informasi teranyar dari INPC adalah soal laporan bulanan registrasi pemegang saham per 30 September 2024 yang terbit pada 10 Oktober 2024.

Saham PT Bank IBK Indonesia Tbk (AGRS) turut menghijau, yakni sebesar 6,33 persen.

Selanjutnya, saham PT Bank Victoria Internasional Tbk (BVIC) juga terkerek, yaitu 5,94 persen.

Berdasarkan pemberitaan Kontan, Selasa (15/10/2024) lalu, PT Bank Tabungan Negara (BTN) telah menyepakati harga dengan calon bank syariah, yang diperkirakan adalah PT Bank Victoria Syariah, untuk menjadi cangkang dalam proses spin-off Unit Usaha Syariah (UUS) BTN Syariah.

Proses akuisisi ini merupakan bagian dari rencana BTN memisahkan BTN Syariah menjadi bank umum syariah. Sebelumnya, BTN sempat membatalkan rencana akuisisi Bank Muamalat Indonesia.

Manajemen BBTN mengatakan Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat (CSPA) diharapkan selesai tahun ini. Transaksi ini akan difinalisasi setelah rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB), dengan target spin-off pada Juni atau Juli 2025. Menurut sumber Kontan, nilai akuisisi mencapai Rp 1,7 triliun.

Dalam analisis terbaru terkait kabar di atas, Stockbit juga memberikan perkiraan mengenai identitas bank syariah yang akan diakuisisi oleh BBTN.

“Walaupun nama bank syariah yang hendak diakuisisi BBTN tersebut belum diungkapkan, kami memperkirakan bahwa bank tersebut adalah PT Bank Victoria Syariah,” kata Stockbit, Rabu (16/10/2024).

Bank ini dimiliki 80,2 persen oleh PT Victoria Investama Tbk (VICO) dan 19,8 persen oleh BVIC.

Jika akuisisi senilai Rp1,7 triliun tersebut terwujud, kata Stockbit, valuasi implikasinya adalah PBV (price-to book) 1,6x (kali) atau P/E (price-to earnings) 174x berdasarkan kinerja PT Bank Victoria Syariah pada FY23.

Menurut penjelasan Stockbit, dalam konteks beberapa akuisisi besar bank swasta publik dalam beberapa tahun terakhir, Bangkok Bank mengakuisisi Bank Permata (BNLI) dengan valuasi 1,63x PBV pada 2020 dan MUFG mengakuisisi Bank Danamon (BDMN) dengan valuasi 2,0x PBV pada 2017–2019.

Sementara itu, Bank OCBC NISP (NISP) baru-baru ini mengakuisisi Bank Commonwealth dengan valuasi PBV 0,54x.  

Tidak hanya nama-nama di atas, saham DNAR terapresiasi 3,70 persen, BABP 3,03 persen, BGTG 2,44 persen, BCIC 2,11 persen, BBYB 1,54 persen, AGRO 1,50 persen, dan BBHI 1,04 persen. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.



Berita ini dikutip dari : IDX Channel
Market news, TIM RISET IDX CHANNEL 29/10/2024 10:44 WIB