IDXChannel - Emiten properti, PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) mencetak laba bersih sebesar Rp933,71 miliar hingga kuartal III-2024. Realisasi tersebut melonjak 42,98 persen dibanding periode sama tahun lalu sebesar Rp653,02 miliar.
Peningkatan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk itu sejalan dengan pendapatan bersih perseroan yang tercatat Rp7,54 triliun dalam sembilan bulan ini.
Capaian tersebut naik 48,85 persen dari realisasi Januari-September 2023 yang sebesar Rp5,07 triliun, berdasarkan laporan keuangan SMRA, Jumat (22/11/2024).
Hingga akhir September ini, beban pokok penjualan dan beban langsung SMRA membengkak menjadi Rp3,55 triliun dari sebelumnya Rp2,51 triliun. Pun dengan beban penjualan serta beban umum dan administrasi yang naik masing-masing menjadi Rp338,09 miliar dan Rp875,99 miliar.
Biaya keuangan meningkat menjadi Rp786,46 miliar, beban pajak final naik menjadi Rp484,98 miliar, dan timbuh bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB) terkait kombinasi bisnis sebesar Rp402,24 miliar.
Sementara itu, total ekuitas SMRA per akhir September 2024 naik menjadi Rp13,32 triliun dari posisi akhir 2023 yang sebesar Rp12,3 triliun.
Jumlah liabilitas tercatat membengkak dari Rp18,86 triliun menjadi Rp20,13 triliun, dan total aset naik menjadi Rp33,45 triliun dari sebelumnya Rp31,17 triliun.
Hingga pukul 11.14 WIB, saham SMRA naik 0,91 persen di Rp555 pada perdagangan Jumat ini.
JAKARTA, investor.id - PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp 753,68 miliar sepanjang semester I-2024.
Hal tersebut sebagaimana terungkap dari laporan keuangan perseroan untuk periode yang berakhir pada 30 Juni 2024.
Adapun angka laba bersih itu melonjak 70,5% dari Rp 442,03 miliar pada periode yang sama tahun 2023 lalu.
Summarecon (SMRA) mencatatkan pendapatan neto Rp 5,67 triliun di enam bulan pertama tahun ini. Meningkat dari Rp 2,99 triliun pada semester I-2023.
Sementara itu, Stockbit Sekuritas menilai laba bersih Summarecon (SMRA) selama 1H24 mencapai hampir Rp 754 miliar telah memenuhi 81% dari estimasi FY24F konsensus, dengan hasil laba operasional yang lebih kuat lagi.
Adanya beban one–off berupa pajak BPHTB sebesar Rp 402 miliar dari penjualan Summarecon Mal Kelapa Gading ke PT Summarecon Investment Property (SMIP) menutupi kinerja operasional SMRA yang sangat baik pada 2Q24 sebesar Rp 1,5 triliun (+233% yoy, +111% qoq).
“Laba operasional SMRA selama 1H24 sendiri mencapai Rp 2,2 triliun (+141% yoy), telah melampaui (103%) estimasi FY24F konsensus,” jelas ulasan Stockbit Sekuritas, Kamis (19/9/2024).
Menurut Stockbit Sekuritas, laba Summarecon Agung (SMRA) didorong oleh peningkatan tajam pada pengakuan pendapatan dari segmen residensial selama 2Q24, dengan pendapatan mencapai Rp 3,5 triliun (+137% yoy, +66% qoq).
“Margin laba kotor yang relatif stabil (+30 bps yoy, +140 bps qoq) dan pertumbuhan pendapatan yang kuat memberikan leverage operasional yang signifikan, sehingga mendorong lonjakan laba operasionalnya. Pendapatan dari segmen residensial melonjak +398% yoy dan +115% qoq pada 2Q24, serta berkontribusi atas 68% dari total pendapatan,” terang Stockbit Sekuritas.
Anak Usaha IPO?
Stockbit Sekuritas melihat penjualan Summarecon Mal Kelapa Gading ke SMIP sebagai bagian dari restrukturisasi untuk mempersiapkan SMIP melakukan initial public offering (IPO). SMRA juga mencatat biaya dibayar di muka sebesar Rp 11 miliar sebagai ‘biaya IPO entitas anak'.
“Faktor ini, ditambah dengan pemotongan suku bunga dari The Fed dan Bank Indonesia, membuat kami beropini bahwa SMRA akan segera melakukan IPO untuk SMIP, yang berpotensi unlock value bagi perseroan,” papar Stockbit.
Stockbit Sekuritas menyebutkan, Summarecon Agung (SMRA) mencatat hasil kuat pada 2Q24, meski terdapat one–off beban pajak bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB) sebesar Rp 402 miliar akibat konsolidasi properti investasinya ke anak usaha, Summarecon Investment Property (SMIP). Kinerja kuat SMRA tersebut terlihat pada laba operasional 1H24 yang sudah melewati estimasi FY24F konsensus, didorong oleh peningkatan signifikan dalam pengakuan pendapatan dari proyek residensial.
“Laporan keuangan terbaru SMRA dan dimulainya pemotongan suku bunga oleh the Fed dan Bank Indonesia membuat kami melihat bahwa IPO untuk SMIP kemungkinan akan segera dilakukan. Kami melihat IPO ini dapat menjadi katalis positif untuk unlock value SMRA di tengah momentum positif pemotongan suku bunga,” pungkas Stockbit.
Berita ini dikutip dari : Investor Daily Penulis : Thresa Sandra Desfika 19 Sep 2024 | 09:46 WIB