Super Kawaii Cute Cat Kaoani
Tampilkan postingan dengan label EXCL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label EXCL. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Desember 2024

Merger dengan EXCL, FREN Ungkap Alasan Jatuh Tempo Waran Dipercepat

IDXChannel - PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) buka suara terkait rencana merger dengan PT XL Axiata Tbk (EXCL). Rencana aksi korporasi itu berdampak pada jatuh tempo waran seri III FREN (FREN-W2) yang dipercepat satu tahun lebih awal.

FREN sebelumnya mempercepat jatuh tempo waran seri III. Dalam prospektus, FREN-W2 seharusnya jatuh tempo pada April 2026. Namun, jatuh tempo dipercepat menjadi April 2025 setelah FREN berencana merger dengan EXCL, sehingga dikhawatirkan merugikan investor publik pemegang waran.

Sekretaris Perusahaan FREN, James Wawengkang mengatakan, percepatan jatuh tempo waran terkait merger diatur dalam Akta Pernyataan Penerbitan Waran FREN-W2. Dalam akta tersebut pasal 10.2, bila terjadi merger, perseroan memberikan hak kepada pemegang waran dalam jangka waktu tiga bulan sebelum merger berlaku efektif.

Dalam akta yang sama pasal 10.4 juga diatur semua waran FREN-W2 kadaluwarsa setelah merger sehingga pemegang waran tidak dapat menuntut dengan dasar atau alasan apapun juga atas ganti rugi atau kompensasi berupa apapun kepada perseroan.

James juga menanggapi materi dalam prospektus IV perseroan yang menyatakan bahwa perseroan dapat mengubah ketentuan soal waran, kecuali mengubah jangka waktu pelaksanaan. Menurutnya, dalam kasus merger, maka yang menjadi patokan adalah Akta Pernyataan Penerbitan.

"Dalam hal perseroan melakukan penggabungan atau peleburan dengan perusahaan lain, maka perusahaan yang menerima penggabungan atau peleburan yang merupakan hasil penggabungan atau peleburan dengan perseroan wajib bertanggung jawab dan tunduk pada Akta Pernyataan Penerbitan Seri III," katanya lewat keterbukaan informasi, Selasa (24/12/2024).

Dalam akta tersebut diatur bahwa pemegang waran bisa mengeksekusi waran miliknya menjadi saham perusahaan hasil merger. Hal tersebut sesuai definisi waran sesuai Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 32 Tahun 2015.

Menurut James, ketentuan yang dimuat dalam Prospektus IV soal "kecuali mengubah jangka waktu pelaksanaan" adalah sesuatu yang sama dan baku berdasarkan penelaahan perseroan terhadap ketentuan penerbitan waran di beberapa perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Di samping menjadi domain Akta Pernyataan Penerbitan, James menilai, percepatan jatuh tempo waran tidak diatur dalam POJK. Hal itu didasarkan pada hasil konsultasi antara perseroan dengan konsultan hukum. Dia mengatakan, POJK 32/2025 tak mengatur soal ketentuan atau pembatasan perubahan jangka waktu eksekusi waran terkait waran yang masih beredar dan belum dikonversi menjadi saham atas perusahaan terbuka atau perusahaan terbuka yang melakukan merger.

"Atas dasar tersebut, dapat kami sampaikan pengumuman kepada pemegang waran seri III yang telah dilakukan oleh perseroan merupakan bentuk transparansi atas proses penggabungan usaha (merger) dalam rangka memberikan pertimbangan kepada pemegang waran seri III untuk melakukan konversi saham perseroan," ujar James.

(Rahmat Fiansyah)




Berita ini dikutip dari : IDX Channel
Market news, Rahmat Fiansyah 24/12/2024 09:52 WIB

Jumat, 13 Desember 2024

Begini Analisis Moody's Pasca XL Axiata & Smartfren Merger

Bloomberg Technoz, Jakarta - Moody's Ratings menegaskan peringkat Baa3 PT XL Axiata Tbk (EXCL) pasca-pengumuman merger dengan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN). Lembaga pemeringkat ini juga mempertahankan prospek stabil.

Dalam keterangan resmi yang disampaikan Moody's, dijelaskan penetapan peringkat ini menyusul pengumuman XL Axiata pada tanggal 11 Desember lalu mengenai rencana penggabungan usaha (merger) dengan PT Smartfren Telecom Tbk. Dimana XL Axiata, akan menjadi perusahaan hasil penggabungan, akan berganti nama menjadi PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (MergeCo).

“Perusahaan hasil penggabungan akan mendapatkan keuntungan dari skala yang lebih besar, posisi pasar yang lebih baik, kepemilikan spektrum yang lebih luas dan kualitas jaringan yang lebih baik, namun juga akan menghadapi risiko integrasi dan eksekusi serta ketidakpastian yang terkait dengan kebijakan keuangan di masa depan,” kata Sweta Patodia, Asisten Vice President dan Analis Moody's Ratings, dalam keterangannya, Kamis (12/12/2024). 

“Kami berharap merger ini akan menciptakan peluang penghematan biaya dan sinergi, yang akan mendukung deleveraging yang stabil selama dua tahun ke depan, sehingga metrik kredit MergeCo akan diposisikan secara tepat untuk peringkatnya,” tambah Patodia, yang juga merupakan analis utama untuk XL Axiata.

Menurut Moody's setelah penyelesaian penggabungan usaha yang diusulkan, hubungan antara MergeCo dan Axiata Group Berhad (Axiata, Baa2 stabil) akan berkurang.

"Namun demikian kami percaya bahwa Axiata dan Sinar Mas, yang masing-masing akan memiliki 34,8% saham di MergeCo, akan menjadi pemegang saham yang mendukung, seperti yang ditunjukkan melalui perwakilan mereka dalam manajemen dan dewan direksi MergeCo," sebut keterangan yang disampaikan Moody's.

Moody's menganggap MergeCo sebagai investasi yang penting dan strategis bagi Axiata dan Sinar Mas, mengingat pasar Indonesia yang besar dan terus bertumbuh. Ada harapan MergeCo akan menjadi kontributor dividen secara teratur setelah integrasi operasional selesai dan sinergi terwujud.

Berdasarkan proforma penggabungan usaha yang diusulkan, MergeCo akan memiliki pendapatan sebesar Rp45 triliun dan EBITDA sebesar Rp22 triliun untuk 12 bulan yang berakhir September 2024. Ini akan mengukuhkan posisinya sebagai perusahaan telekomunikasi terbesar ketiga di Indonesia.

Namun, pangsa pasar MergeCo sebesar 27%, berdasarkan basis pelanggan gabungan sekitar 95 juta, kemungkinan akan menurun selama 12 bulan ke depan, mengingat hilangnya pelanggan yang sama di antara kedua merek telekomunikasi tersebut.

Menurut catatan Moody's penggabungan ini akan menciptakan peluang penghematan biaya dan sinergi, termasuk optimalisasi infrastruktur yang duplikat dan rasionalisasi saluran penjualan dan distribusi. Dengan demikian, intensitas modal MergeCo akan menjadi sekitar 30% dari pendapatannya pada tahun 2025-26.

Peningkatan marjin yang signifikan kemungkinan baru akan terwujud mulai tahun 2027 karena adanya biaya integrasi pada tahun 2025-2026 terkait dengan penggabungan usaha.

"Kami memperkirakan proforma leverage utang/EBITDA MergeCo akan berada di kisaran 2,9 kali pada September 2024, yang termasuk tinggi untuk peringkat Baa3. Dengan demikian, peringkat Baa3 didasarkan pada perusahaan yang merealisasikan sinergi biaya tahunan sebesar US$300 juta-US$400 juta selama 3-5 tahun ke depan sesuai rencana, yang akan mendukung penurunan leverage yang stabil hingga di bawah 2,5 kali dalam dua tahun ke depan. Penyimpangan dari ekspektasi ini akan mengakibatkan tekanan peringkat negatif," ulas catatan dari Moody's ini lagi

Laju deleveraging juga akan bergantung pada kebijakan keuangan MergeCo, termasuk toleransi risiko, alokasi modal, dan target pembayaran dividen, yang semuanya masih belum pasti.

Prospek yang stabil mencerminkan ekspektasi kami bahwa MergeCo akan berhasil mengeksekusi sinergi yang diharapkan dan meningkatkan metrik kreditnya.

Moody's juga mengubah Credit Impact Score (CIS) XL Axiata menjadi CIS-3 dari CIS-2, yang mencerminkan penilaian kami bahwa atribut-atribut ESG dianggap memiliki dampak yang terbatas pada peringkat saat ini, dengan potensi yang lebih besar untuk dampak negatif di masa depan dari waktu ke waktu. Perubahan skor CIS mengindikasikan bahwa faktor-faktor ESG akan berdampak negatif terhadap profil kredit perusahaan kecuali jika dimitigasi.

Moody's juga mengingatkan, kenaikan peringkat tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat. Peringkat bisa naik dari waktu ke waktu jika profil keuangan MergeCo membaik. Harapannya utang/EBITDA yang disesuaikan turun di bawah 2,0 kali dan arus kas yang ditahan (RCF)  atau utang yang disesuaikan tetap di atas 35%-40% secara berkelanjutan.

Peringkat XL Axiata juga bisa turun jika perusahaan kesulitan untuk berintegrasi dengan Smartfren, menunda manfaat merger, atau jika perusahaan mengadopsi kebijakan keuangan yang lebih berisiko. Utang yang lebih tinggi dari peningkatan belanja modal atau pengembalian pemegang saham juga dapat menyebabkan penurunan peringkat.

Selain itu, penurunan peringkat mungkin terjadi jika profil kredit MergeCo memburuk secara material karena persaingan yang ketat, perubahan peraturan yang merugikan, atau kinerja operasi yang lemah.

Metrik kredit yang mengindikasikan penurunan peringkat meliputi (1) utang yang disesuaikan/EBITDA di atas 2,5x; atau (2) RCF/utang yang disesuaikan di bawah 30%-35%, keduanya secara berkelanjutan.



Berita ini dikutip dari : Bloombergtechnoz
Houtmand P Saragih
13 December 2024 10:05

Kamis, 12 Desember 2024

Pandangan Analis soal Merger XL Axiata (EXCL) dan Smartfren (FREN)

IDXChannel - PT XL Axiata Tbk (EXCL), PT Smartfren Telecom Tbk (FREN), dan PT Smart Telecom (SmartTel) resmi mengumumkan rencana merger yang akan melahirkan entitas baru bernama PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (XLSmart).

Menurut catatan singkat analis Trimegah Sekuritas, Sabrina dan Vincentius Frodo Gozali, yang terbit pada Rabu (11/12/2024), proses ini diharapkan efektif mulai 15 April 2025, dengan potensi sinergi tahunan sebelum pajak sebesar USD300-400 juta.

Valuasi XLSmart diproyeksikan mencapai 5,3 kali Enterprise Value (EV) terhadap EBITDA gabungan.

Berdasarkan analisis Trimegah Sekuritas, EXCL memiliki valuasi 4,7 kali EV/EBITDA dengan enterprise value sekitar Rp83,1 triliun. FREN, di sisi lain, dinilai 6,0 kali EV/EBITDA dengan valuasi perusahaan Rp29,1 triliun.

Merger ini menempatkan Axiata Group Berhad dan Sinar Mas sebagai pemegang saham pengendali bersama, masing-masing memiliki 34,8 persen saham di XLSmart.

Untuk menyelaraskan kepemilikan, Axiata akan menjual 2,4 miliar saham EXCL kepada PT Bali Media Telekomunikasi (BMT) dengan nilai transaksi USD475 juta (Rp7,5 triliun).

“Akibatnya, valuasi XLSmart diperkirakan mencapai sekitar Rp57,3 triliun, dengan rasio EV/EBITDA sebesar 5,3 kali berdasarkan EBITDA gabungan,” kata analis Trimegah.

Efisiensi dan Sinergi Strategis
Merger ini diharapkan menciptakan efisiensi besar melalui pengurangan tumpang tindih infrastruktur, termasuk penghapusan 20-30 persen situs yang beririsan. Proses ini diproyeksikan menghemat biaya hingga Rp2 triliun.

Selain itu, masih mengutip analis Trimegah, optimalisasi jumlah karyawan dan efisiensi operasional lainnya dapat menambah penghematan sebesar Rp427 miliar. Total, sinergi ini bisa mencapai Rp2,4 triliun dalam tiga hingga lima tahun.

Dari sisi operasional, XLSmart akan menjadi salah satu pemain terbesar di industri dengan jumlah pelanggan gabungan mencapai 94,5 juta.

Entitas baru ini juga akan memiliki posisi strategis sebagai pemegang spektrum terbesar kedua di Indonesia, memperkuat daya saingnya di pasar telekomunikasi.

Arah Baru Industri Telekomunikasi
Trimegah Sekuritas mencatat, konsolidasi ini menjadi langkah strategis untuk menciptakan dinamika harga yang lebih sehat.

Di tengah pasar yang sebelumnya terfragmentasi dengan fokus ekspansi agresif, merger ini dinilai mampu mendorong profitabilitas dan meningkatkan pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU) di sektor telekomunikasi.

“Kami melihat merger ini sebagai katalis positif bagi industri telekomunikasi, karena berpotensi mendorong dinamika penetapan harga yang lebih rasional pasca-merger, sehingga membuka peluang untuk peningkatan ARPU yang lebih sehat,” kata analis Trimegah.

Merger Jumbo

Diwartakan sebelumnya, EXCL, FREN, dan PT Smart Telcom (ST) resmi mencapai kesepakatan merger, membentuk entitas baru bernama XLSmart.

Nilai gabungan pra-sinergi merger ini mencapai lebih dari Rp104 triliun atau sekitar USD6,5 miliar.

Group CEO Axiata Group, Vivek Sood, menyatakan merger ini merupakan langkah strategis untuk membangun fondasi ekonomi digital yang tangguh.

"Merger ini akan memungkinkan kami untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur yang unik bagi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan menyediakan platform yang dapat berkembang," katanya dalam keterangan resminya di keterbukaan informasi BEI, Rabu (11/12/2024).

XLSmart diproyeksikan menjadi pemain utama di pasar telekomunikasi Indonesia dengan skala besar, kekuatan finansial, dan keahlian yang memungkinkan investasi infrastruktur digital lebih luas.

Dengan total pelanggan mencapai 94,51 juta dan pangsa pasar 27 persen, XLSmart diperkirakan mencatat pendapatan Rp45,4 triliun (USD2,8 miliar) dan EBITDA Rp22,4 triliun (USD1,4 miliar).

Chairman Sinar Mas Telecommunication and Technology, Franky Oesman Widjaja, menambahkan, merger ini adalah upaya penting yang perusahaan lakukan untuk memberikan nilai tambah yang besar kepada seluruh pemangku kepentingan melalui layanan yang prima, konektivitas digital, dan inovasi.

EXCL akan menjadi entitas yang bertahan, sementara FREN dan ST akan melebur ke dalam XLSmart.

Axiata Group Berhad dan Sinar Mas akan menjadi pemegang saham pengendali bersama, masing-masing memiliki 34,8 persen saham dengan pengaruh setara.

Merger ini diproyeksikan menghasilkan sinergi biaya sebelum pajak sebesar USD300-400 juta melalui integrasi jaringan dan optimalisasi sumber daya.

Transaksi ini masih memerlukan persetujuan regulator dan pemegang saham, dengan target penyelesaian pada paruh pertama 2025.

CIMB dan J.P. Morgan bertindak sebagai penasihat keuangan untuk entitas tertentu di bawah Sinar Mas.

Deutsche Bank dan Maybank bertindak sebagai penasihat keuangan untuk Axiata. Citibank bertindak sebagai penasihat keuangan untuk XL Axiata. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.



Berita ini dikutip dari : IDX Channel
Market news, TIM RISET IDX CHANNEL 12/12/2024 11:40 WIB

Rabu, 11 Desember 2024

Umumkan Kelanjutan Rencana Merger, Saham EXCL dan FREN Kompak Jatuh

IDXChannel - PT XL Axiata Tbk (EXCL) mengumumkan perkembangan terbaru soal merger atau penggabungan usaha dengan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) dan PT Smart Telecom (ST).

Operator seluler itu mengungkapkan skema merger, di mana EXCL akan menjadi perusahaan yang menerima penggabungan, sementara Smartfren dan ST akan dibubarkan. Merger ini akan efektif pada 15 April 2025.

Saat ada pengumuman penting ini, saham EXCL dan FREN justru kompak di zona merah. Saham EXCL merosot 1,31 persen di Rp2.260 pada perdagangan Rabu ini (11/12/2024) hingga pukul 10.19 WIB. Sedangkan penurunan saham FREN lebih parah, karena anjlok 7,41 persen menjadi Rp25.

Diketahui, semua aset, kewajiban, dan bisnis Smartfren dan ST akan digabungkan ke dalam EXCL melalui penggabungan menurut hukum Indonesia sebagai pertimbangan untuk penerbitan saham baru dalam entitas yang digabungkan.

Dasar perhitungan konversi saham Smartfren dan ST menjadi saham EXCL yang menerima penggabungan didasarkan pada rasio pertukaran penggabungan yang disepakati, yaitu sebesar 1,000 atau 0,011 atau 0,005.

"Harga saham penggabungan XL yang telah disepakati sebesar Rp2.350 per saham," tutur manajemen EXCL di keterbukaan informasi BEI, Rabu (11/12).

Pemegang saham EXCL akan mengalami dilusi kepemilikan sebesar 27,95 persen. Jumlah saham yang disetujui dan tetap untuk diterbitkan oleh EXCL, yaitu 5,07 miliar saham atau yang mewakili 27,95 persen.

Setelah merger rampung, Stellar menggenggam saham EXCL 32,2 persen, Gerbangmas Tunggal Sejahtera 2,62 persen. Sementara kepemilikan Axiata Investments sebagai pengendali EXCL terdilusi menjadi 34,8 persen.

Untuk mengeksekusi merger EXCL, FREN, dan ST, akan digelar RUPS Luar Biasa pada 21 Maret 2025.

Merger antara XL, Smartfren dan ST diyakini memiliki manfaat strategis, operasional dan keuangan yang signifikan dan memberikan kesempatan untuk menciptakan nilai yang signifikan bagi kedua perusahaan, pemegang saham masing-masing, pelanggan mereka, dan untuk semua pemangku kepentingan lain yang terlibat.

"Penggabungan ini akan menciptakan perusahaan yang menerima penggabungan (EXCL) dengan skala yang lebih besar dan struktur biaya yang lebih efisien, memungkinkannya untuk mempercepat investasi dalam jaringannya," ujar manajemen.

"Serta meningkatkan kualitas layanan dan meningkatkan inovasi produk dan layanan dengan cara yang tidak mungkin dilakukan oleh XL, Smartfren atau ST secara mandiri," katanya.

(Fiki Ariyanti)



Berita ini dikutip dari : IDX Channel
Market news, Fiki Ariyanti 11/12/2024 10:30 WIB

Senin, 09 Desember 2024

Cuti Massal & Mundurnya Dian Siswarini di Tengan Merger XL (EXCL)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Serikat Pekerja XL Axiata (SPXL) lakukan cuti massal yang diikuti oleh lebih dari 1.300 pegawai yang dimulai pada Jumat, 6 Desember 2024 lalu. Cuti massal tersebut dilakukan atas dasar rencana merger PT XL Axiata Tbk (EXCL) dengan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN).

Ketua SPXL Mustakim mengatakan, cuti massal tersebut ditujukan untuk menuntut transparansi proses merger antara dua perusahaan besar penyedia layanan telekomunikasi tersebut. Tuntutan tersebut diarahkan kepada pada pemegang saham, yaitu Axiata Malaysia.

“Sehubungan dengan rencana merger antara XL Axiata dan Smartfren Telecom, kami dari Serikat Pekerja XL Axiata (SPXL), Anggota dari Federasi Aspek Indonesia dan UNI Global Union,  dimana anggota kami saat ini sudah mencapai lebih dari 1.300 orang,” kata Mustakim dalam siaran tertulis, dikutip Senin (9/12/2024).

Dalam siaran resmi secara tertulis tersebut, terdapat tiga poin utama dalam tuntutan para pekerja yang mengajukan cuti massal. Pertama, SPXL menuntut transparansi dari proses merger dari kedua perusahaan penyedia layanan telekomunikasi tersebut.

“Bahwa pada prinsipnya kami memahami bahwa proses merger ini dibutuhkan untuk meningkatkan kinerja industri Telekomunikasi terutama layanan yang optimal untuk masyarakat di seluruh tanah air,” tulisnya.

Kedua, SPXL menuntut bahwa proses merger kedua perusahaan tersebut akan memberikan dampak positif kepada para karyawan sebagai komponen penting penggerak perusahaan.

“Mengacu point 1 di atas, SPXL mengharapkan dan mensyaratkan bahwa proses merger ini juga memberi dampak positif kepada karyawan sebagai komponen penting dan stakeholder kunci dalam layanan telekomunikasi,’ tuturnya.

Terakhir, tuntutan terkait dengan tanggapan dari pertanyaan SPXL kepada manajemen XL Axiata soal bagaimana kejelasan, rencana, perlakuan, kedudukan, serta nasib dari para karyawan usai merger kedua perusahaan raksasa telekomunikasi tersebut.

Terkait poin terakhir, Mustakim mengaku pihaknya, dalam hal ini SPXL, telah berkali-kali mengirimkan surat agar mendapatkan kejelasan informasi kepada Dewan Direksi dan Dewan Komisaris XL Axiata. Namun, pihaknya mengaku belum mendapatkan balasan terkait dengan surat tersebut.

“Adanya respon ini menimbulkan keresahan yang nyata yang dirasakan oleh karyawan dan dikhawatirkan hal ini berdampak kepada produktivitas bahkan mundurnya mayoritas karyawan untuk bergabung bersama institusi merger yang baru,” tulisnya.

“Kami menyampaikan pesan kepada Kemnaker, Komdigi, OJK dan DPR RI agar dapat bersama-sama kami mengawal dan mengawasi proses merger ini berada pada jalur yang benar, menjadikan aspirasi SPXL sebagai perhatian utama,” tulis Mustakim.

Mundurnya Dian Siswarini

Sebelum aksi tersebut, Presiden Direktur EXCL Dian Siswarini mengundurkan diri dari jabatannya. Hal tersebut disampaikan perseroan melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI). 

Corporate Secretary XL Axiata Ranty Astari Rachman dalam surat kepada BEI menyebutkan perseroan menerima surat pengunduran diri Dian Siswarini pada, Selasa (3/12/2024). Permohonan pengunduran diri tersebut akan berlaku efektif setalah mendapatkan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) terdekat. 

"Adapun alasan pengunduran diri beliau adalah karena alasan pribadi. Selanjutnya permohonan pengunduran diri tersebut akan diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Perseroan terdekat sesuai dengan anggaran dasar Perseroan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku," kata Ranty dalam keterbukaan tersebut, Rabu (4/12/2024). 

Dian menjabat sebagai Presiden Direktur di XL Axiata mulai 2015. Ia memperoleh memperoleh gelar Sarjana Elektro dari Institut Teknologi Bandung pada 1991. Berdasarkan catatan perseroan, Dian telah mengikuti berbagai program eksekutif, salah satunya adalah Harvard Advance Management Program, Harvard Business School di Amerika Serikat pada tahun 2013.

(fik/dhf)



Berita ini dikutip dari : Bloombergtechnoz
Muhammad Fikri
09 December 2024 13:30

Jumat, 22 November 2024

Usai Sebulan Melemah, Harga Saham Blue Chip Ini Mulai Bangkit, Apakah Saatnya Beli?


Reporter: Akmalal Hamdhi | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga salah satu saham blue chip di Bursa Efek Indonesia (BEI), PT XL Axiata Tbk (EXCL) mulai bangkit pada perdagangan Kamis 21 November 2024. Sebelumnya, harga saham blue chip ini dalam tren melemah setidaknya selama sebulan terakhir. Apakah kebangkitan harga saham blue chip ini menjadi waktu tepat untuk mulai mengoleksi?

Saham blue chip adalah saham lapis satu yang telah berpengalaman lama di bursa efek. Saham blue chip biasanya memiliki fundamental kuat dan nilai kapitalisasi pasar besar mencapai puluhan hingga ratusan triliun rupiah.

Di BEI, saham blue chip biasanya menjadi anggota indeks mayor seperti LQ45. Saham EXCL merupakan salah satu anggota LQ45 yang belakangan ini mengalami kenaikan harga.

Harga saham EXCL pada perdagangan Kamis 21 November 2024 ditutup di level 2.210, naik 40 poin atau 1,84% dibandingkan sebelumnya. Sebulan terakhir, harga saham EXCL masih terakumulasi melemah 70 poin atau 3,07%.

Sejumlah analis rekomendasi beli saham EXCL. Alasannya, EXCL memiliki kinerja solid dari awal tahun hingga akhir kuartal ketiga 2024. Ke depan, merger bersama PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) akan membuka ruang bagi EXCL untuk meningkatkan tarif data, serta memperluas cakupan pelanggan.

Di kuartal ketiga, EXCL mencatatkan laba bersih kuartalan turun sekitar 39,8% QoQ dan -16,4% YoY menjadi Rp 292 miliar. Hasil ini mengikuti terkontraksinya pendapatan emiten telko tersebut di kuartal ketiga yang lebih rendah 3,5% QoQ dan -2,5% YoY menjadi Rp 8,3 triliun, sejalan dengan tren industri.

Alhasil, laba bersih EXCL mencapai Rp 1,3 triliun yang bertumbuh signifikan 31,7% YoY selama periode Januari–September 2024. Sementara itu, pendapatan EXCL terpantau bertumbuh 6,3% YoY menjadi Rp 25,37 triliun.

Deputy Head of Research Sucor Sekuritas Paulus Jimmy melihat, kinerja EXCL di sepanjang tahun ini didukung oleh peningkatan Average Revenue Per User (ARPU) dan bisnis mobile data. Sementara itu, kontribusi bisnis layanan internet fixed broadband belum signifikan, mengingat transaksi pengalihan pelanggan (subscribers) dari Linknet yang baru selesai di akhir September 2024.

Adapun pelanggan EXCL tetap stabil di angka 58,6 juta, tetapi ARPU menurun -7% QoQ dan -2% YoY menjadi Rp 41.000 per bulan di kuartal ketiga 2024. Namun di sepanjang tahun, ARPU Gabungan EXCL tercatat sebesar Rp 43 ribu per bulan, lebih tinggi dibandingkan Rp 41 ribu per akhir September 2023 lalu.

Jimmy menilai, kinerja operasional EXCL ke depannya seharusnya bisa terus positif seiring rencana merger dengan FREN. Meskipun, dalam jangka pendek kemungkinan akan timbul one off cost atau biaya satu kali yang berhubungan dengan aksi korporasi tersebut.

Berdasarkan catatan Kontan.co.id, manajemen XL Axiata menyampaikan bahwa merger antara EXCL dan FREN ditargetkan selesai di akhir tahun 2024. Saat ini, proses penggabungan usaha tersebut sudah masuk tahap due diligence alias uji tuntas.

‘’Rencana EXCL merger dengan FREN seharusnya akan positif bagi kinerja operasional ke depannya,’’ kata Jimmy saat dihubungi Kontan.co.id, Kamis (21/11).

Di kuartal keempat, Jimmy memperkirakan, EXCL mungkin bakal kembali ke jalur positif yang dapat tercermin dari peningkatan ARPU ataupun profitabilitas perusahaan. Optimisme itu karena mempertimbangkan adanya potensi penyesuaian tarif produk, serta membaiknya lanskap kompetisi industri telekomunikasi.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Niko Margaronis memandang,  EXCL tetap menjadi pemimpin pasar digital dengan penetrasi pelanggan sebesar 55% di aplikasinya sendiri. Kekuatan tersebut diyakini dapat meningkatkan rata-rata pendapatan per pengguna (ARPU) dan prospek biaya S&M secara bersamaan.

Oleh karena itu, Niko memperkirakan, pendapatan EXCL bakal tumbuh di kuartal keempat, sejalan dengan akuisisi pelanggan LINK sebanyak 750.000 pada akhir September 2024 lalu. XL mempertahankan prospek positif dengan potensi untuk mencapai penetrasi 30% dalam 6 juta homepass selama 3 tahun dari bisnis Fixed Mobile Convergence (FMC) tersebut.

‘’Kami mempertahankan peringkat Beli kami terhadap EXCL, didukung oleh pertumbuhan digital dan inisiatif FMC,’’ ungkap Niko dalam riset 8 November 2024.

Niko menegaskan kembali rekomendasi beli untuk EXCL dengan target harga lebih tinggi sebesar Rp 3.500 per saham. Senada, Jimmy merekomendasikan beli untuk EXCL dengan target harga sebesar Rp 3.500 per saham.





Berita ini dikutip dari : Kontan Investasi
Jumat, 22 November 2024 / 07:38 WIB

Jumat, 08 November 2024

Laba Naik 31,67% per Kuartal III 2024, Simak Rekomendasi Saham XL Axiata (EXCL)

Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT XL Axiata Tbk (EXCL) mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih per kuartal III 2024.

Melansir laporan keuangan yang dirilis pada Kamis (7/11), laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih EXCL mencapai Rp 1,31 triliun per September 2024. Laba ini melonjak 31,67% secara tahunan atau Year on Year (YoY) dari Rp 999,99 miliar di periode sama tahun 2023. 

Dari sisi top line, EXCL mengantongi pendapatan sebesar Rp 25,36 triliun hingga kuartal III-2024, meningkat 6,26% dari kuartal III-2023 sebesar Rp 23,86 triliun.  

Presiden Direktur XL Axiata Dian Siswarini menyampaikan selama sembilan bulan pertama di 2024, situasi dan kondisi industri telekomunikasi sangat menantang karena kompetisi sedang berlangsung ketat.

Dia bilang tantangan ke depan tentunya tidak akan lebih ringan, terutama kondisi ekonomi Indonesia yang masih akan terpengaruh oleh kondisi geopolitik dunia, serta tingkat daya beli masyarakat yang masih lemah. 

"Namun berbagai inisiatif akan terus XL Axiata lakukan untuk mendapatkan sumber pendapatan baru yang bisa diandalkan di masa mendatang," ujarnya dalam keterangannya, Kamis (7/11). 

Salah satunya, melalui layanan internet rumah. Untuk itu, EXCL terus mendorong dan mengakselerasi pertumbuhan bisnis layanan internet rumah Fixed Broadband (FBB).  

Apalagi XL Axiata juga telah mengakuisisi 750 ribu pelanggan First Media milik  PT Link Net Tbk (LINK). Dus, saat ini memiliki pelanggan FBB secara keseluruhan mencapai lebih dari 1 juta pelanggan.

"Tambahan pelanggan itu, menjadikan sebagai penyedia layanan Internet kedua terbesar di Indonesia, dengan cakupan jaringan FBB sebanyak 6 juta home passed yang tersebar di lebih dari 127 kota," kata Dian. 

Head of Research Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas melihat, meskipun meningkat secara tahunan, kinerja EXCL secara kuartalan agak melemah. Hal itu terlihat dari earning per share (EPS) EXCL yang menjadi Rp 23 atau turun 37,8% secara kuartalan.

“Penurunan salah satunya karena adanya penurunan pendapatan secara kuartalan sebesar 4%, meskipun secara yoy masih tumbuh,” ujar Sukarno kepada Kontan, Kamis (7/11).

Prospek kinerja EXCL di kuartal IV 2024 hingga 2025 masih ada peluang lebih baik. Sebab, ekspansi di luar jawa dan potensi di lini bisnis fixed broadband yang bisa jadi katalis untuk potensi kinerja ke depannya. 

Sementara, sentimen negatifnya yaitu persaingan semakin ketat dan penurunan daya beli konsumen akibat perlambatan ekonomi yang menjadi tantangan. 

“Terkait seberapa efektif inovasi AI yang dilakukan mungkin bisa saja efektif karena akan membantu operasionalnya, sehingga tercipta efisiensi,” tuturnya.

Melansir RTI, kinerja saham EXCL turun 4,74% dalam sebulan terakhir, tetapi masih naik 10,50% sejak awal tahun alias year to date (ytd). 

Menurut Sukarno, penurunan saham EXCL dipengaruhi banyak faktor, salah satunya faktor eksternal, seperti tensi geopolitik yang tidak hanya menyebabkan penurunan pada saham EXCL, tetapi juga penurunan terhadap mayoritas sektor lainnya. 

“Namun, pergerakan saham EXCL jika dibandingkan dengan saham telekomunikasi lainnya, emiten ini lebih baik dan itu sudah cukup mencerminkan kinerja fundamentalnya,” paparnya.

Sukarno pun merekomendasi hold untuk saham EXCL dengan target harga Rp 2.340 per saham.

Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana melihat, pergerakan saham EXCL berada di level support Rp 2.170 per saham dan resistance Rp 2.250 per saham. Herditya merekomendasikan speculative buy untuk EXCL dengan target harga Rp 2.290 - Rp 2.320 per saham.

Equity Analyst Kanaka Hita Solvera William Wibowo melihat, pergerakan saham EXCL berada di level support Rp 2.080 per saham dan resistance Rp 2.350 per saham. William pun masih merekomendasikan wait and see untuk EXCL.



Berita ini dikutip dari : Kontan Investasi
Kamis, 07 November 2024 / 20:33 WIB

Rabu, 09 Oktober 2024

Kabar Keterlibatan DSSA Dalam Merger FREN & EXCL


Bloomberg Technoz, Jakarta - PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dikabarkan terlibat dalam merger PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) dan PT XL Axiata Tbk (EXCL).

DSSA disebut-sebut akan menjadi pihak yang akan melakukan tender offer saham MergeCo atau entitas hasil merger FREN dan EXCL.

Berdasarkan informasi dari pelaku pasar yang mengetahui rencana ini mengatakan, secara garis besar ada dua tahap merger FREN dan EXCL.

Pertama, merger EXCL dan FREN akan dilakukan terlebih dahulu. Bagi pemegang saham yang tidak menyetujui rencana itu akan ditawarkan pembelian kembali atau buyback saham EXCL di rentang harga Rp2.600/saham hingga Rp2.700/saham.

Rentang tersebut terbilang premium mengingat harga saham EXCL saat ini ada di level Rp2.270/saham.

DSSA kemudian akan melakukan tender offer saham MergeCo pada rentang Rp3.500/saham hingga Rp4.000/saham.

Seperti diketahui, MergeCo merupakan hasil kesepakatan antara Grup Sinarmas dan Axiata Group Berhad.

Kesepakatan itu ditandatangani oleh para pemegang saham dan pengendali Smartfren, yakni PT Wahana Inti Nusantara, PT Global Nusa Data dan PT Bali Media Telekomunikasi dengan Axiata Group Berhad pada 15 Mei 2024.

Direktur DSSA Hermawan Tarjono mengaku belum mendengar informasi tersebut.

"Saya tidak memiliki informasi tentang FREN saat ini," ujar Hermawan.

Direktur Utama EXCL Dian Siswarini juga angkat bicara soal kabar tersebut. "Kami tidak dalam posisi untuk memberikan tanggapan. Kami sarankan disampaikan ke pemegang saham, hal tersebut berada dalam kewenangan mereka," ujar Siswarini saat dikonfirmasi, Rabu (9/10/2024).

Dikonfirmasi terpisah, Presiden Direktur FREN Merza Fachys pun mengaku belum mengetahui teknis merger FREN dan EXCL.



Berita ini dikutip dari : Bloombergtechnoz.com
Sultan Ibnu Affan
09 October 2024 08:34

Senin, 09 September 2024

Pangkas Porsi, Warga Inggris Lepas 3,12 Juta Saham EXCL Rp7,13 Miliar

 

EmitenNews.com - Abhijit J Navalekar mengurangi kepemilikan saham XL Axiata (EXCL). Itu ditunjukkan warga Inggris tersebut dengan melepas 3.125.400 helai alias 3,12 juta lembar. Transaksi penjualan terjadi dengan kisaran harga Rp2.230-2.360 per saham.

Menyusul skema harga itu, Abhijit mengantongi dana taktis senilai Rp7,13 miliar. Transaksi penjualan dilakukan 9 kali periode 28, dan 30 Agustus 2024. Lalu, edisi 2-5 September 2024. Lebih rinci transaksi divestasi tersebut menjadi sebagai berikut. 

Pada 28 Agustus 2024, Abhijit menjual 200 ribu lembar dengan harga Rp2.250 per saham senilai Rp450 juta. Lalu, pada 30 Agustus 2024, Abhijit kembali melepas 500 ribu helai pada harga Rp2.230 per lembar senilai Rp1,11 miliar.

Berikutnya, pada 2 September 2024, kembali Abhijit mendivestasi 250 ribu saham dengan harga pelaksanaan Rp2.280 per helai sebesar Rp570 juta. Selanjutnya, pada 2 September 2024, melego 250 ribu saham dengan harga pelaksanaan Rp2.290 per lembar senilai Rp572,50 juta. 

Pada 4 September 2024, melepas 500 ribu saham dengan harga Rp2.270 per helai senilai Rp1,13 miliar. Kemudian, pada 4 September 2024, Abhijit menjual 500 ribu helai pada harga pelaksanaan Rp2.260 per saham sejumlah Rp1,13 miliar.

Pada 5 September 2024 lepas 250 ribu saham dengan harga Rp2.350 per helai Rp587,5 juta. Terakhir, pada 5 September 2024, Abhijit menjual 675.400 helai dengan harga pelaksanaan Rp2.360 per saham senilai Rp1,59 miliar. 

Menyusul transaksi itu, tabungan saham XL Axiata dalam genggaman Abhijit tersisa 21 lembar. Terpangkas 3,12 juta helai dari sebelum transaksi dengan donasi sekitar 0,024 persen. ”Transaksi penjualan saham dengan status kepemilikan secara langsung,” tegas Ranty Asteri Rachman, Corporate Secretary XL Axiata. (*) 


Berita ini dikutip dari : Emiten News

09/09/2024, 09:30 WIB