Super Kawaii Cute Cat Kaoani
Tampilkan postingan dengan label INDY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INDY. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Januari 2025

Intip Rekomendasi Saham Indika Energy (INDY) yang Terdongkrak Proyek Emas Awak Mas

Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Indika Energy Tbk (INDY) siap memacu proyek emas Awak Mas di Sulawesi Selatan. INDY melalui anak usahanya, PT Masmindo Dwi Area (MDA) telah memilih perusahaan asal Australia, Macmahon Holding Limited sebagai kontraktor jasa pertambangan untuk proyek emas Awak Mas.

Sekretaris Perusahaan Indika Energy Adi Pramono mengungkapkan kontrak jasa pertambangan tersebut telah ditandatangani pada 9 Januari 2025. Nilai yang disepakati untuk kontrak jasa pertambangan tersebut sebesar AUD 463 juta.

Kontrak tersebut berlaku untuk jangka waktu tujuh tahun, dengan opsi dapat diperpanjang untuk lima tahun, yang akan dimulai pada tengah tahun 2025 ini.

"Penunjukan jasa kontrak pertambangan ini merupakan strategi Perseroan, terutama MDA untuk dapat menjalankan proyek emas Awak Mas," ungkap Adi dalam keterbukaan informasi Jumat (10/1).

Merujuk materi paparan publik 20 November 2024 lalu, INDY menargetkan produksi Awak Mas pada semester II-2026. Target produksi emas dari proyek Awak Mas mencapai 100.000 ons troi per tahun.

Perkiraan total investasi untuk proyek Awak Mas hingga tahun 2026 mencapai US$ 429 juta. Hingga September 2024, investasi yang telah dikucurkan untuk proyek Awak Mas sebesar US$ 238,9 juta.

Research Analyst Stocknow.id Emil Fajrizki mengamati, proyek emas Awak Mas memiliki potensi pendapatan jangka panjang yang menarik bagi INDY. Progres dari proyek ini menunjukkan komitmen INDY untuk melanjutkan diversifikasi bisnis dan pengembangan sumber pendapatan baru dari segmen non-batubara.

Selain tambang mineral, INDY juga cukup getol mengembangkan ekosistem kendaraan listrik alias Electric Vehicle (EV) dan energi baru terbarukan (EBT). Meski, pendapatan INDY sejauh ini masih ditopang oleh segmen bisnis batubara.

Seperti diketahui, INDY menargetkan pendapatan dari bisnis non-batubara bisa mencapai 50% pada tahun 2028. Menurut Emil, dari bisnis batubara yang masih dominan, INDY masih memiliki arus kas yang kuat untuk menjadi modal mendorong target diversifikasi bisnisnya.  

"Secara keseluruhan, prospek kinerja INDY masih bergantung pada bisnis inti batubara dalam jangka pendek. Dengan potensi peningkatan dari proyek diversifikasi di sektor emas, EV dan EBT dalam jangka menengah hingga panjang," kata Emil kepada Kontan.co.id, Senin (13/1).

Equity Analyst Indo Premier Sekuritas Dimas Krisna Ramadhani turut menyoroti, dengan kontribusi dominan terhadap profitabilitas, kinerja INDY sampai saat ini masih bergantung pada bisnis batubara. Dus, secara fundamental, posisi INDY masih belum berubah signifikan dalam waktu dekat ini.

Dari sisi pergerakan saham, secara teknikal apabila INDY berhasill breakout dan bertahan di atas level Rp 1.800, maka INDY mengalami transisi dari sideways menjadi uptrend.

"Saat ini INDY berpotensi untuk breakout dari resistance penting di level 1.800 jika dilihat dari sisi volume transaksi dan akumulasi yang terjadi," jelas Dimas.

Dimas menyarankan buy on pullback saham INDY pada area Rp 1.590 - Rp 1.600 untuk target harga Rp 1.800 - Rp 1.850, stoploss jika breakdown ke Rp 1.500.

Sedangkan Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyematkan rekomendasi speculative buy pada saham INDY.

Saran Herditya, cermati support saham INDY di Rp 1.680, resistance Rp 1.770, untuk target harga Rp 1.800 - Rp 1.830. Sementara Emil menyarankan untuk memanfaatkan koreksi saham INDY sebagai peluang masuk dengan target harga Rp 1.795 - Rp 2.000, dan stoploss jika turun ke bawah Rp 1.600 per saham.





Berita ini dikutip dari : Kontan Investasi
Selasa, 14 Januari 2025 / 11:10 WIB

Jumat, 10 Januari 2025

Emas Indika Mulai Ditambang, Saham Bisa Melejit ke Sini

JAKARTA, Investor.id – Macmahon Holdings menggarap tambang emas proyek Awak Mas di Sulawesi Selatan milik PT Masmindo Dwi Area (MDA), anak usaha PT Indika Energy Tbk (INDY). Nilai kontrak jasa penambangan ini US$ 463 juta. 

Kontrak berdurasi tujuh tahun itu memiliki opsi diperpanjang hingga lima tahun. Macmahon akan mengerjakan aktivitas penambangan terbuka, seperti pengeboran, loading, hauling, dan pengembangan area tambang. 

Pengerjaan proyek ini ditargetkan mulai semester I-2025. Perseroan akan mengerahkan alat-alat penambangan kunci, sedangkan kebutuhan modal ke depan mencapai US$ 17 juta. Hal ini masuk belanja modal Macmahon tahun ini sebesar US$ 250 juta. 

Perseroan memastikan, proyek ini tidak akan mendongkrak utang tahun ini yang dalam panduan ditetapkan berkisar US$ 160-170 juta.

“Kami senang bisa terpilih sebagai kontraktor proyek emas Awak Mas, yang mewakili hubungan baik dengan klien,” said CEO and Macmahon Michael Finnegan, seperti dilansir dari miningweekly.com, Jumat (10/1/2025). 

Proyek ini, kata Michael, akan menambah perolehan kontrak perseroan. Proyek ini tidak membutuhkan modal besar, karena perseroan masih bisa menggunakan armada yang tersedia sekaligus menyewa. 

Fokus dan Target Harga Saham

ndika (INDY) saat ini fokus mengembangkan diversifikasi bisnis dan menambah pendapatan dari bisnis non-batubara termasuk dari sektor logistic, infrastruktur, energi terbarukan. Beberapa anak usaha perseroan berpotensi untuk menjadi penopang utama, termasuk EMITS (penyedia solusi tenaga surya) dan Tripatra (penyedia solusi rekayasa terintegrasi berkelanjutan). 

Astronacci menetapkan rekomendasi buy saham INDY dengan target harga Rp 2.320. Saat berita ini ditulis, saham INDY naik 0,3% ke level Rp 1.610. 




Berita ini dikutip dari : Investor Daily
Penulis : Harso Kurniawan
10 Jan 2025 | 13:47 WIB

Selasa, 15 Oktober 2024

Widiyanti Putri Wardhana Dipanggil Prabowo, Saham Ini Tiba-tiba Melejit


JAKARTA, investor.id - Saham emiten sawit PT Teladan Prima Agro Tbk (TLDN) melesat pada awal sesi I perdagangan 15 Oktober 2024. Di sekitar pukul 09.12 WIB saham TLDN ada di Rp 615 atau melonjak 23,99%.

Saham Teladan Prima Agro (TLDN) melejit usai Widiyanti Putri Wardhana menjadi salah satu calon menteri yang dipanggil Presiden terpilih Prabowo Subianto ke Kertanegara pada Senin (14/10/2024) kemarin.

Widiyanti Putri Wardhana merupakan komisaris Teladan Prima Agro (TLDN). Ia menjabat sebagai komisaris Teladan Prima Agro sejak 2021. Berdasarkan laporan tahunan TLDN 2023, Widiyanti menjabat sebagai komisaris di beberapa entitas anak TLDN dan menempati sejumlah posisi strategis lainnya, yakni direktur PT Teladan Resources, PT Teladan Properties, dan PT Teladan Pusaka (sejak 2008).

Selain membangun karier di dunia bisnis, Widiyanti Putri Wardhana merupakan sosok yang aktif di bidang sosial dan menduduki jabatan penting di berbagai organisasi nirlaba. Dia juga didaulat sebagai salah satu pengurus Yayasan Jantung Indonesia (YJI) dan dilantik sebagai Sekretaris Jenderal YJI (sejak 2018). Ia menduduki posisi sebagai ketua Yayasan Teladan Utama dan dewan pengawas Yayasan Kawula Madani.

Indika

Widiyanti Putri Wardhana tidak memiliki saham secara langsung di Teladan Prima Agro (TLDN), namun memiliki saham secara tidak langsung di TLDN sebesar 8,14% melalui PT Teladan Resources. Widiyanti juga merupakan salah satu penerima manfaat akhir TLDN.

Widiyanti Putri Wardhana adalah anak dari Wiwoho Basuki Tjokronegoro pengendali TLDN. Dan juga Widiyanti istri dari Wishnu Wardhana, direktur utama TLDN.

Teladan Resources asal tahu juga merupakan salah satu pemegang saham PT Indika Energy Tbk (INDY) sebanyak 28,08%. Wiwoho Basuki – ayah dari Widiyanti – merupakan salah satu penerima manfaat akhir dari Indika Energy.



Berita ini dikutip dari : Investor Daily
Penulis : Thresa Sandra Desfika
15 Okt 2024 | 09:34 WIB

Ini Emiten Tambang yang Diuntungkan dengan Skema Pungut Salur Batubara

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Skema pungut salur batubara alias Mitra Instansi Pengelola (MIP) diprediksi menguntungkan sejumlah emiten produsen batubara, terutama bagi produsen yang batubara-nya dijual di dalam negeri dengan harga domestic market obligation (DMO).

Beberapa emiten seperti PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Indika Energy Tbk (INDY) diproyeksikan cetak cuan besar.

Berdasarkan perhitungan Verdhana Sekuritas Indonesia, laba bersih PTBA bakal mencapai US$ 500 juta pada 2025, naik 65% dari proyeksi sebelumnya US$ 305 juta.

Sejalan, laba INDY diproyeksi naik 43% menjadi US$ 172 juta dari US$ 120 juta di tahun depan.

Maklum, kedua produsen emas hitam ini, mayoritas memasok batubara ke pasar domestik sehingga bakal diuntungkan jika MIP diterapkan.

Sekretaris Perusahaan PTBA Niko Chandra menegaskan Bukit Asam mendukung penuh setiap kebijakan Pemerintah yang bertujuan untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan batu bara di dalam negeri. 

"Kami berharap agar aturan terkait skema Mitra Instansi Pengelola (MIP) dapat segera disahkan dan memberikan dampak positif bagi kinerja keuangan PTBA," kata Niko kepada KONTAN, Senin (14/10).

Sementara itu, Head of Coorporate Communication PT Adaro Energy Tbk (ADRO)  Ferbiati Nadira menungkapkan bahwa ADRO sebagai perusahaan yang menerapkan prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance), selalu taat dan siap mengikuti  peraturan perundang-undangan dan kebijakan  yang ditetapkan, di mana saat ini kami masih menunggu keputusan pemerintah terkait MIP.

"Para pelaku industri mengharapkan diterapkannya harga yang kompetitif demi konservasi cadangan batubara dan ketahanan energi nasional," kata Nadira kepada KONTAN, Senin (14/10).

Senada, Direktur dan Sekretaris Perusahaan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Dileep Srivastava menyatakan secara keseluruhan penerapan MIP tampak positif bagi, khususnya bagi BUMI yang juga menerapkan DMO. 

BUMI optimistis untuk mengalokasikan batubara 70% untuk ekspor dan 30% untuk domestik, termasuk DMO.

Menurut catatan Kontan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan target kewajiban pasokan batubara untuk dalam negeri atau DMO pada 2024 lebih besar dibandingkan tahun lalu.  Kebutuhan DMO untuk tahun 2024 sebesar 220 juta ton.

Adapun hitung-hitungan Kontan.co.id, jika dibandingkan dengan realisasi DMO di 2023 sebesar 213 juta ton, terjadi kenaikan kewajiban pasokan ke dalam negeri sebesar 7 juta ton atau 3,2% year on year (YoY). Adapun realisasi DMO di 2023 tercatat melampaui prognosa Kementerian ESDM yakni 120% dari targetnya 177 juta ton. 

Adapun, kabar terakhir dari Kementerian ESDM menargetkan implementasi Mitra Instansi Pengelola (MIP) Batubara pada tahun ini. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Ing Tri Winarno mengatakan, saat ini proses untuk rencana implementasi MIP Batubara masih berjalan.

"Sedikit lagi, satu Kementerian/Lembaga yang belum paraf," kata Tri Winarno di Kementerian ESDM, Jumat (20/9).

Tri Winarno menjelaskan, saat ini hampir sudah tidak ada kendala dalam rencana implementasi MIP Batubara ini. Pihaknya pun mengharapkan regulasi ini bisa segera dijalankan.

"Mudah-mudahan tahun ini," jelas Tri.

Rencana pemerintah dalam menerapkan skema MIP Batubara telah berlangsung untuk waktu yang lama. Skema ini pertama kali diusulkan pada awal 2022 silam untuk mengamankan pasokan batubara domestik. Dua tahun berselang, implementasinya tak kunjung terealisasi.

Berdasarkan draft Peraturan Presiden Republik Indonesia tentang Pemungutan dan Penyaluran Dana Kompensasi Batubara yang diperoleh KONTAN, sejumlah ketentuan terkait mekanisme pungut salut batubara telah disiapkan.




Berita ini dikutip dari : Kontan Investasi
Selasa, 15 Oktober 2024 / 05:50 WIB
Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Anna Suci Perwitasari

Selasa, 01 Oktober 2024

INDY Lepas Anak Usaha ke Entitas Milik Prajogo Pangestu Senilai Rp26,77 Miliar

IDXChannel - PT Indika Energy Tbk (INDY) akan melepas anak usaha di bidang pengusahaan hutan (HPH), PT Trisetia Citagraha (TCG) ke entitas milik konglomerat Prajogo Pangestu.


Pelepasan TCG dilakukan melalui anak usaha lainnya, PT Indika Multi Properti (IMP) kepada Barito Group, melalui PT Barito Pacific Lumber (BPL) dengan ilai transaksi Rp26,77 miliar.

Diketahui, BPL merupakan entitas yang dimiliki langsung oleh Prajogo Pangestu. BPL juga merupakan pemegang saham minoritas dari PT Barito Pacific Tbk (BRPT).

Sementara TCG adalah anak usaha tidak langsung INDY, di bawah penguasaan IMP. Detailnya, IMP akan mendivestasi 6.332 lembar saham (setara 80 persen) saham TCG kepada BPL. Perjanjian ini ditandatangani dalam sebuah pengikatan jual beli saham bersyarat pada Kamis (26/9/2024).


“Setelah penyelesaian transaksi, TCG tidak lagi menjadi anak perusahaan INDY dan tidak dikonsolidasi dalam laporan keuangan Perseroan,” kata Corporate Secretary INDY Adi Pramono di Jakarta, Senin (30/9/2024).

Transaksi dilaksanakan dalam dua tahapan, dengan rincian 80 persen merupakan nilai pengalihan hak atas uang muka penyetoran modal.

Adi menegaskan langkah ini diambil sesuai strategi bisnis diversifikasi perusahaan. “Kami memastikan perusahaan fokus terhadap pelaksanaan kegiatan usaha yang berkelanjutan,” ungkapnya.

Hingga Senin (30/9/2024), saham INDY turun 1,44 persen ke Rp1.710. Demikian juga BRPT anjlok 3,67 persen ke Rp1.050.

(DESI ANGRIANI)



Berita ini dikutip dari : IDX Channel
Market news, Dinar Fitra Maghiszha 01/10/2024 06:35 WIB

Jumat, 27 September 2024

Saham Indika (INDY) Panas

JAKARTA, investor.id - Saham emiten yang dipimpin Arsjad Rasjid, PT Indika Energy Tbk (INDY) memanas pada sesi I perdagangan 27 September 2024. Di sekitar pukul 10.50 WIB saham INDY ada di Rp 1.730 atau +4,85% yang merupakan level tertingginya sepanjang periode year to date (ytd).

Tercatat sudah 23,94 juta saham Indika diperdagangkan, frekuensi 4.097 kali, dan nilai transaksi Rp 40,59 miliar. Dalam satu pekan terakhir saham INDY melambung sekitar 15%.

Saham Indika melompat usai harga batu bara mayoritas menguat pada Kamis (26/9/2024). Hal itu berkat kabar dari China yang menyebutkan para pemimpin utama China meningkatkan upaya untuk menghidupkan kembali pertumbuhan ekonomi negara tersebut.

Harga batu bara Newcastle untuk September 2024 turun US$ 0,15 menjadi US$ 139,65 per ton. Sedangkan Oktober 2024 meningkat US$ 0,55 menjadi US$ 143,45 per ton. Sementara itu, November 2024 terkerek US$ 0,6 menjadi US$ 145 per ton.

Sedangkan, harga batu bara Rotterdam untuk September 2024 stagnan di US$ 114,95. Sedangkan, Oktober 2024 melonjak US$ 0,75 menjadi US$ 116,5. Sedangkan pada November 2024 melesat US$ 1,1 menjadi US$ 117,35.

Laba

Indika Energy (INDY) - emiten dengan direktur utamanya Arsjad Rasjid - sendiri mencatatkan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sejumlah US$ 21,01 juta sepanjang semester I-2024. Angka laba bersih tersebut turun 76,60% dari raihan US$ 89,80 juta pada periode yang sama tahun 2023 silam.

Laba per saham juga jatuh ke posisi US$ 0,0040 per 30 Juni 2024. Dari sebelumnya di angka US$ 0,0172 pada periode yang sama tahun 2023.

Indika Energy (INDY) mencatatkan penurunan pendapatan menjadi US$ 1,19 miliar dalam periode Januari-Juni 2024. Ketimbang raihan US$ 1,67 miliar pada enam bulan pertama tahun 2023.



Berita ini dikutip dari : Investor Daily
Penulis : Thresa Sandra Desfika
27 Sep 2024 | 10:58 WIB