Super Kawaii Cute Cat Kaoani
Tampilkan postingan dengan label ESSA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ESSA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 November 2024

Begini Rekomendasi Saham ESSA Industries (ESSA) di Tengah Kenaikan Harga Amonia

Reporter: Anna Suci Perwitasari | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten sektor barang baku dan industri barang kimia, kinerja PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) didukung oleh harga amonia yang tinggi. Dalam jangka panjang, proyek amonia rendah karbon bakal menjadi sumber pendapatan baru ESSA.

Analis Sinarmas Sekuritas Kenny Shan mencermati, hasil kinerja ESSA di kuartal ketiga telah melampaui ekspektasi. Kejutan positif tersebut sejalan dengan harga amonia yang lebih tinggi, sehingga mendorong ekspansi pada Margin Kotor (GPM) menjadi 37,2% pada kuartal ketiga dibandingkan 34,4% pada kuartal II-2024.

Laba bersih ESSA tercatat sebesar US$ 34 juta di sepanjang Januari – September 2024, melampaui ekspektasi dan telah membentuk 81% dari estimasi setahun penuh dari Sinarmas Sekuritas.

Sementara itu, produksi amonia ESSA mencapai 180 ton pada kuartal ketiga, yang membuat produksi di sepanjang tahun mencapai 561 ton atau bertumbuh 10,38% YoY, menyiratkan tingkat utilisasi sebesar 106,9%.

Dengan hasil terbaru ESSA, Sinarmas Sekuritas telah merevisi perkiraan pendapatan dan laba bersih ke atas masing-masing sebesar 4% dan 8%. Proyeksi ini karena mengantisipasi harga amonia akan tetap berada di atas US$360 per ton di kuartal IV-2024.

’Kami memperkirakan harga amonia akan tetap tinggi, sebagian besar karena melonjaknya biaya gas alam yang penting untuk produksi amonia,’’ ungkap Kenny dalam riset 31 Oktober 2024.

Pada bulan Oktober, harga Platts JKM LNG sebagai acuan utama harga gas alam cair telah mencapai titik terendah sekitar Juli dan terus meningkat sejak saat itu. Ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung antara Rusia dan Ukraina yang terus mengganggu aliran gas ke Eropa, telah memperketat ketersediaan gas alam yang dibutuhkan untuk produksi amonia.

Kenny juga menaikkan asumsi produksi amonia ESSA tahun ini karena perusahaan sekarang mengarahkan produksi 2024 untuk mencapai 750 ribu ton yang akan bertumbuh 7% YoY, lebih tinggi dari perkiraan awal sebesar 739 ribu ton. Sementara itu, ESSA memperkirakan produksi LPG akan mencapai 70.000 ton, turun 4% dari tahun lalu.

Prospek jangka panjang ESSA juga menarik karena menargetkan komisioning proyek amonia rendah karbon skala besar pada  akhir 2027. ESSA berkomitmen untuk mengurangi jejak karbonnya melalui inisiatif penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS).

Sejak 2021, ESSA telah membuat kemajuan signifikan, termasuk Nota Kesepahaman dengan JOGMEC, Mitsubishi, dan ITB untuk inisiatif Amonia Rendah Karbon.

Pada 2023 lalu, ESSA telah menyelesaikan tahap 1, yang mencakup pengumpulan data, pengukuran emisi GRK, dan identifikasi lokasi sumur yang sesuai untuk penyimpanan CO.

Sementara itu, tahap 2 yang dijadwalkan dari tahun 2024 hingga 2025, mencakup validasi terperinci dari struktur reservoir dan studi fasilitas permukaan, dengan pengeboran sumur dan konstruksi yang akan dimulai pada tahun 2026.

Kenny menuturkan, rencana menyelesaikan komisioning proyek amonia rendah karbon akan memposisikan ESSA sebagai salah satu produsen pertama di Asia Tenggara yang menerapkan produksi amonia rendah karbon skala besar.

ESSA mengharapkan permintaan yang kuat dari Jepang. Hal itu mengingat janji untuk membeli 2 juta ton amonia rendah karbon per tahun pada tahun 2027, dengan potensi untuk ditingkatkan hingga 3 juta ton pada tahun 2030.

Di samping itu, langkah pengurangan utang bakal memperkuat posisi ESSA untuk pertumbuhan di masa depan. Sinarmas Sekuritas memperkirakan ESSA akan berada dalam posisi kas bersih sebesar US$ 22,7 juta pada akhir tahun 2024.

Seperti diketahui, emiten industri barang kimia ini telah membuat langkah-langkah yang mengesankan dalam meningkatkan kesehatan keuangannya dengan mengurangi utang jangka panjang dari US$ 505 juta pada tahun 2019 menjadi hanya US$ 86 juta per akhir September 2024.

Penurunan utang yang stabil ini menghasilkan lebih sedikit biaya bunga dan membebaskan lebih banyak dana untuk inisiatif pertumbuhan di masa mendatang. Hal ini akan memungkinkan ESSA untuk mengejar proyek-proyek baru dengan percaya diri.

‘’Kami terus menyukai ESSA, mengingat aliran pendapatannya yang stabil, alur proyek yang menjanjikan, dan komitmen terhadap dekarbonisasi,’’ ujar Kenny.


Direktur Reliance Sekuritas Reza Priyambada memandang, kinerja ESSA nampak solid yang tercermin dari peningkatan laba bersih, meskipun pendapatan sedikit mengalami penurunan. Performa apik ESSA ini tentunya tidak terlepas dari kenaikan harga amonia di sepanjang tahun.

‘’Ke depan, adanya pergerakan naik dari harga amonia akan berimbas positif pada kinerja dari ESSA di tengah masih tingginya permintaan akan amonia tersebut untuk industri tertentu,’’ imbuh Reza saat dihubungi Kontan.co.id, Rabu (20/11).

Untuk rekomendasi, Reza menyarankan beli untuk ESSA dengan target harga sebesar Rp 965 per saham. Pergerakan harga saham ESSA saat ini dipandang masih cenderung datar (sideways) di tengah masih fluktuatifnya harga komoditas.

Sementara itu, Kenny mempertahankan rekomendasi Buy untuk ESSA dengan target harga sebesar Rp 1.200 per saham. Per Rabu (20/11), ESSA ditutup pada posisi Rp 835 per saham yang terkoreksi sekitar 2.34% dari sehari sebelumnya.




Berita ini dikutip dari : Kontan Investasi
Kamis, 21 November 2024 / 07:42 WIB

Rabu, 20 November 2024

IHSG Sesi I Melemah ke 7.191, Saham TLKM-ISAT di Pucuk Top Losers

IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup koreksi 0,06 persen di 7.191,66 pada sesi I perdagangan Rabu (20/11/2024).

Sempat menguat saat bel pembukaan hingga melewati area psikologis menuju 7.229,71, awan mendung tekanan jual masih menyelimuti indeks komposit.

Total 261 saham menguat, 312 melemah, dan 372 lainnya stagnan. Nilai transaksi menyentuh Rp4,31 triliun, dari volume 9,89 miliar saham.

Sejumlah indeks utama lain bergerak variative, seperti LQ45 naik 0,03 persen ke 877,20, JII melemah 0,36 persen ke 512,47, IDX30 turun 0,03 persen ke 448,60, dan MNC36 melemah 0,04 persen ke 343,08.

Sebanyak 10 dari 11 sektor berada di zona merah dengan penurunan rata-rata di bawah 1 persen. Sementara 1 sektor yang menguat hanya sektor keuangan.

Tiga saham konstituen LQ45 yang memimpin top gainers, yakni PT Bank Jago Tbk (ARTO) melompat 5,49 persen ke Rp2.690, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) mendaki 3,21 persen ke Rp1.125, dan PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) naik 3,09 persen ke Rp1.335.

Sedangkan yang menghuni top losers LQ45 meliputi PT Indosat Tbk (ISAT) turun 3,67 persen ke Rp2.360, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) melemah 2,52 persen ke Rp2.710, dan PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) turun 2,34 persen ke Rp835.

(Fiki Ariyanti)




Berita ini dikutip dari : IDX Channel
Market news, Dinar Fitra Maghiszha 20/11/2024 12:20 WIB

Selasa, 22 Oktober 2024

Laba Emiten Boy Thohir ESSA Melesat 243 Persen di Kuartal III-2024

IDXChannel - Emiten Garibaldi 'Boy' Thohir dan TP Rachmat, PT Essa Industries Indonesia Tbk (ESSA) mencatat laba sebesar USD33,56 juta atau setara Rp522,11 miliar (mengacu kurs Rp15.557 per USD) di sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2024. Angka itu melesat hingga 243 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar USD9,76 juta.

Sementara itu, pendapatan ESSA tercatat turun 1,08 persen menjadi USD230,11 juta atau Rp3,57 triliun, dari sebelumnya sebesar USD232,63 juta. Secara rinci, penjualan amonia tercatat sebesar USD196,53 juta, penjualan LPG tercatat sebesar USD30,88 juta dan jasa pengolahan mencatatkan pendapatan sebesar USD2,70 juta.

“Meskipun terjadi penurunan harga amonia sebesar 9 persen menjadi USD345 per metrik ton pada sembilan bulan tahun 2024, namun peningkatan volume produksi dan pengendalian biaya yang baik berhasil mendorong peningkatan EBITDA,” kata Sekretaris Perusahaan ESSA Shinta D U Siringoringo dalam keterangan resmi, Jakarta, pada Selasa (22/10/2024).

Dari sisi pengeluaran, beban pokok pendapatan tercatat sebesar USD148,74 juta atau Rp2,31 triliun, turun dari sebelumnya sebesar USD184,26 juta. Beban penjualan tercatat sebesar USD344.145, serta beban umum dan administrasi tercatat sebesar USD18,12 juta.

Hingga September 2024, total nilai aset ESSA tercatat sebesar USD695,65 juta, naik tipis dari sebelumnya sebesar USD695,44 juta. Adapun liabilitas tercatat sebesar USD161,82 juta dan ekuitas tercatat sebesar USD533,83 juta.

Shinta melanjutkan, ESSA senantiasa mempertahankan standar terbaik pada aspek keselamatan dan keandalan seluruh pabriknya. Sejalan dengan hal tersebut, pabrik amonia berhasil mencatatkan 8 juta jam kerja kumulatif tanpa Loss Time Injury, sementara kilang LPG berhasil mencapai tonggak sejarah dengan mencatatkan lima tahun beroperasi secara terus menerus tanpa trip.

“Kegiatan pemeliharaan pabrik amonia selama hampir dua minggu pada kuartal II tahun 2024, berhasil mendorong produktivitas dan efisiensi optimal, seiring dengan keandalan operasional yang lebih baik,” ujar Shinta.

Sementara itu, harga amonia menunjukkan tren kenaikan sepanjang kuartal III-2024 dan ESSA memproyeksikan harga amonia pada kuartal IV-2024 akan berada di level yang lebih baik.

Selain itu, harga LPG tetap berada di atas harga pada periode terendah musiman yang disebabkan oleh perpanjangan pemangkasan produksi minyak secara sukarela oleh negara-negara anggota OPEC+.

“Dengan adanya seasonal winter demand, harga LPG kuartal keempat 2024 juga diproyeksikan akan lebih tinggi apabila dibandingkan dengan harga pada kuartal ketiga 2024,” ujar Shinta.

(Dhera Arizona)


Berita ini dikutip dari : IDX Channel
Market news, Cahya Puteri Abdi Rabbi 22/10/2024 10:15 WIB