Super Kawaii Cute Cat Kaoani
Tampilkan postingan dengan label PTBA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PTBA. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Oktober 2024

Ini Emiten Tambang yang Diuntungkan dengan Skema Pungut Salur Batubara

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Skema pungut salur batubara alias Mitra Instansi Pengelola (MIP) diprediksi menguntungkan sejumlah emiten produsen batubara, terutama bagi produsen yang batubara-nya dijual di dalam negeri dengan harga domestic market obligation (DMO).

Beberapa emiten seperti PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Indika Energy Tbk (INDY) diproyeksikan cetak cuan besar.

Berdasarkan perhitungan Verdhana Sekuritas Indonesia, laba bersih PTBA bakal mencapai US$ 500 juta pada 2025, naik 65% dari proyeksi sebelumnya US$ 305 juta.

Sejalan, laba INDY diproyeksi naik 43% menjadi US$ 172 juta dari US$ 120 juta di tahun depan.

Maklum, kedua produsen emas hitam ini, mayoritas memasok batubara ke pasar domestik sehingga bakal diuntungkan jika MIP diterapkan.

Sekretaris Perusahaan PTBA Niko Chandra menegaskan Bukit Asam mendukung penuh setiap kebijakan Pemerintah yang bertujuan untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan batu bara di dalam negeri. 

"Kami berharap agar aturan terkait skema Mitra Instansi Pengelola (MIP) dapat segera disahkan dan memberikan dampak positif bagi kinerja keuangan PTBA," kata Niko kepada KONTAN, Senin (14/10).

Sementara itu, Head of Coorporate Communication PT Adaro Energy Tbk (ADRO)  Ferbiati Nadira menungkapkan bahwa ADRO sebagai perusahaan yang menerapkan prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance), selalu taat dan siap mengikuti  peraturan perundang-undangan dan kebijakan  yang ditetapkan, di mana saat ini kami masih menunggu keputusan pemerintah terkait MIP.

"Para pelaku industri mengharapkan diterapkannya harga yang kompetitif demi konservasi cadangan batubara dan ketahanan energi nasional," kata Nadira kepada KONTAN, Senin (14/10).

Senada, Direktur dan Sekretaris Perusahaan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Dileep Srivastava menyatakan secara keseluruhan penerapan MIP tampak positif bagi, khususnya bagi BUMI yang juga menerapkan DMO. 

BUMI optimistis untuk mengalokasikan batubara 70% untuk ekspor dan 30% untuk domestik, termasuk DMO.

Menurut catatan Kontan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan target kewajiban pasokan batubara untuk dalam negeri atau DMO pada 2024 lebih besar dibandingkan tahun lalu.  Kebutuhan DMO untuk tahun 2024 sebesar 220 juta ton.

Adapun hitung-hitungan Kontan.co.id, jika dibandingkan dengan realisasi DMO di 2023 sebesar 213 juta ton, terjadi kenaikan kewajiban pasokan ke dalam negeri sebesar 7 juta ton atau 3,2% year on year (YoY). Adapun realisasi DMO di 2023 tercatat melampaui prognosa Kementerian ESDM yakni 120% dari targetnya 177 juta ton. 

Adapun, kabar terakhir dari Kementerian ESDM menargetkan implementasi Mitra Instansi Pengelola (MIP) Batubara pada tahun ini. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Ing Tri Winarno mengatakan, saat ini proses untuk rencana implementasi MIP Batubara masih berjalan.

"Sedikit lagi, satu Kementerian/Lembaga yang belum paraf," kata Tri Winarno di Kementerian ESDM, Jumat (20/9).

Tri Winarno menjelaskan, saat ini hampir sudah tidak ada kendala dalam rencana implementasi MIP Batubara ini. Pihaknya pun mengharapkan regulasi ini bisa segera dijalankan.

"Mudah-mudahan tahun ini," jelas Tri.

Rencana pemerintah dalam menerapkan skema MIP Batubara telah berlangsung untuk waktu yang lama. Skema ini pertama kali diusulkan pada awal 2022 silam untuk mengamankan pasokan batubara domestik. Dua tahun berselang, implementasinya tak kunjung terealisasi.

Berdasarkan draft Peraturan Presiden Republik Indonesia tentang Pemungutan dan Penyaluran Dana Kompensasi Batubara yang diperoleh KONTAN, sejumlah ketentuan terkait mekanisme pungut salut batubara telah disiapkan.




Berita ini dikutip dari : Kontan Investasi
Selasa, 15 Oktober 2024 / 05:50 WIB
Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Anna Suci Perwitasari

Senin, 07 Oktober 2024

ADRO, PTBA, ITMG, BUMI Cs Bisa Panas


JAKARTA, investor.id - Indeks batu bara Newcastle melonjak +5% ke level US$ 149,6/ton pada Jumat (4/10/2024), sebagaimana diungkap dalam ulasan Stockbit Sekuritas pada Senin (7/10/2024).

Kenaikan harga batu bara didorong oleh meningkatnya permintaan dari China dan India serta kenaikan harga gas di tengah eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.

“Peningkatan harga gas sendiri berpotensi mengerek harga batu bara, yang mana merupakan produk substitusinya sebagai sumber energi,” jelas Investment Analyst Stockbit, Hendriko Gani.

Kenaikan harga batu bara, tentu bisa menjadi katalis positif jangka pendek bagi emiten batu bara, seperti PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), hingga PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Sehingga sahamnya memanas.


Penguatan harga batu bara ditopang oleh China yang mengalami peningkatan konsumsi oleh industri di tengah penurunan produksi akibat hujan lebat. Selain itu, ekspektasi pemulihan ekonomi pasca–pengumuman paket stimulus dari bank sentral China (PBoC) juga mendukung kenaikan harga batu bara.

Peningkatan konsumsi batu bara juga terjadi di India yang melaporkan kenaikan PLTU batu bara sebesar +15% dalam sepekan terakhir seiring penurunan produksi energi terbarukan sebesar -16%.

Harga Batu Bara RI

Menurut Hendriko Gani, kenaikan harga acuan batu bara Newcastle berpotensi memberikan sentimen positif jangka pendek bagi emiten produsen batu bara, seperti ADRO, PTBA, ITMG, BYAN, HRUM, INDY, dan BUMI.

“Di sisi lain, kami melihat bahwa indeks harga batu bara Indonesia tidak mengalami kenaikan yang signifikan dalam 1 pekan terakhir,” paparnya.

Berdasarkan analisis kami, ungkap Hendriko, kenaikan batu bara Indonesia tertinggi dialami oleh kategori ICI5 (+1,1% wow), sementara kenaikan terendah dialami oleh kategori ICI3 (+0,05% wow).

“Kondisi ini dapat membuat kinerja keuangan emiten batu bara Indonesia kurang berkorelasi dengan kenaikan indeks batu bara Newcastle saat ini,” pungkasnya.



Berita ini dkutip dari : Investor Daily
Penulis : Thresa Sandra Desfika
7 Okt 2024 | 08:42 WIB

Senin, 23 September 2024

Saham Bumi Resources (BUMI) & Bukit Asam (PTBA) Panas, Ada Apa?

 


JAKARTA, investor.id - Sejumlah saham emiten batu bara memanas pada sesi I perdagangan 23 September 2024. Di antaranya, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA).

Saham Bumi Resources (BUMI) di sekitar pukul 09.52 WIB ada di Rp 121 atau +4,31%. Sedangkan saham Bukit Asam (PTBA) +3,05% ke Rp 3.040.

Saham Bukit Asam dengan kode PTBA juga sempat melonjak 6,12% pada perdagangan Jumat, 20 September pekan lalu.

Sementara itu, Research and Development ICDX Girta Yoga memprediksi harga batu bara diselimuti tren bullish pada pekan iniHal itu ditopang oleh sentimen positif dari China.

Yoga mengatakan, permintaan batu bara China berpotensi meningkat dalam jangka pendek dipicu oleh gangguan produksi. Hal itu akibat curah hujan tinggi yang melanda negara konsumen batu bara terbesar pertama dunia.

“Ditambah lagi, persiapan pasokan jelang berlangsungnya libur perayaan ‘Golden Week’ di China pada 1-7 Oktober mendatang di tengah gangguan produksi akibat hujan lebat dan pemeliharaan di beberapa jalur kereta transportasi batu bara,” ungkap Yoga kepada Investor Daily, akhir pekan lalu.

Namun, lanjut Yoga, harga batu bara menghadapi hambatan dari permintaan batu bara India. Hal itu karena rencana ambisius pemerintah India untuk meningkatkan produksi batu bara domestik dari 982 juta ton menjadi lebih dari 1,5 miliar ton pada tahun 2030.

Ditambah lagi, Yoga mengatakan, harga gas alam pekan ini berpotensi bergerak stabil cenderung bearish karena prakiraan cuaca yang hangat berpotensi mengurangi permintaan pemanas maupun pendingin ruangan. “Biasanya permintaan gas alam mengalami tren menurun selama bulan September dan Oktober,” ucapnya.

Harga Batu Bara

Sementara itu, harga batu bara kembali membara pada Jumat (20/9/2024). Hal itu berkat persiapan pasokan jelang berlangsungnya libur perayaan ‘Golden Week’ di China. Harga batu bara Newcastle untuk September 2024 stagnan di US$ 139,5 per ton. Sedangkan Oktober 2024 meningkat US$ 2,25 menjadi US$ 139 per ton. Sementara itu, November 2024 terkerek US$ 1,75 menjadi US$ 139,75 per ton.

Penguatan harga batu bara tentu bisa menjadi katalis positif bagi emiten batu bara seperti Bumi Resource (BUMI) dan Bukit Asam (PTBA).

Harga batu bara Rotterdam untuk September 2024 naik 0,1% menjadi US$ 114,35. Sedangkan, Oktober 2024 terkerek US$ 1,55 menjadi US$ 112,35. Sedangkan pada November 2024 meningkat US$ 1,95 menjadi US$ 112,7.


Berita ini dikutip dari : Investor Daily
Penulis : Thresa Sandra Desfika
23 Sep 2024 | 10:03 WIB