Super Kawaii Cute Cat Kaoani
Tampilkan postingan dengan label BBCA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BBCA. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Januari 2025

BBCA Mau RUPST, Siap-siap Dividen

JAKARTA, investor.id - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA mengumumkan akan menggelar rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) pada 12 Maret 2025.

“Pemegang saham yang berhak hadir dalam rapat adalah pemegang saham yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham perseroan pada hari Selasa, tanggal 11 Februari 2025, pukul 16.00 Waktu Indonesia Barat,” jelas direksi BCA (BBCA) dalam pengumumannya.

Tapi, belum diungkap rinci mata acara rapat. “Informasi detail terkait mata acara dan pelaksanaan rapat akan diinformasikan lebih lanjut dalam pemanggilan rapat,” terang direksi BBCA.

Namun jika mengacu RUPST pada tahun lalu, salah satu mata acara rapat adalah persetujuan penggunaan laba bersih.

Dividen

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA beserta entitas anak menutup tahun 2024 dengan pertumbuhan kinerja yang solid. Laba bersih BCA dan entitas anak tumbuh tinggi 12,7% secara tahunan (year on year/yoy) mencapai Rp 54,84 triliun.

Laba bersih BCA didorong oleh pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) BCA yang tumbuh 9,5% (yoy) menjadi Rp 82,3 triliun pada 2024. Pendapatan selain bunga naik 10,2% (yoy) menjadi Rp 25,2 triliun, sehingga total pendapatan operasional sebesar Rp 107,4 triliun atau naik 9,7% (yoy).

Seiring dengan pertumbuhan laba yang tinggi tersebut, Presiden Direktur BCA (BBCA) Jahja Setiaatmadja mengatakan, secara tahunan memang dari nominal dividen yang dibayarkan lebih besar kepada para pemegang saham. Namun, hal tersebut harus melalui persetujuan rapat umum pemegang saham (RUPS) terlebih dahulu.

“Kami pernah janji kepada para investor, dividen yang dibayar BCA absolutnya itu harus lebih tinggi setiap tahun, kecuali pada tahun 2020 pada saat Covid, karena profitnya negatif growth 5%. Nah, tahun ini naik 12,7% ini akan ditentukan nanti dalam RUPS. Saya nggak berani menjanjikan apakah ini akan lebih atau kurang. Tapi seingat saya tahun lalu 68,5% dari profit kami bagi sebagai dividen,” urai Jahja dalam konferensi pers, Kamis (23/1/2025).

Untuk tahun buku 2023, BBCA membagikan dividen total Rp 33,28 triliun atau Rp 270/saham. Terdiri dari Rp 42,5/saham untuk dividen interim, dan Rp 227,5/saham sebagai dividen final.

Di tahun buku 2024, BCA sudah menebar dividen interim Rp 50/saham yang dibayarkan pada 11 Desember 2024.




Berita ini dikutip dari : Investor Daily
Penulis : Thresa Sandra Desfika
24 Jan 2025 | 10:51 WIB

Kamis, 09 Januari 2025

Dinilai Defensif, Cermati Rekomendasi Saham BBCA Saat Bursa Bergejolak

Reporter: Akmalal Hamdhi | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Di tengah gejolak bursa saham, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi opsi menarik sebagai saham pilihan. Pinjaman dan simpanan yang solid merupakan keunggulan BBCA dibandingkan emiten bank lain.

Kepala Riset RHB Sekuritas Indonesia, Andrey Wijaya menilai, BBCA dapat menjadi opsi saham yang defensif di tengah kondisi pasar masih volatil.Penyaluran pinjaman BBCA sebesar Rp 875,78 triliun per November 2024, naik 15,47% secara tahunan (yoy) dari Rp 758,43 triliun.

Adapun laba bank terafiliasi Grup Djarum ini senilai Rp 50,47 triliun per November 2024, meningkat 14,31% yoy dari Rp 44,15 triliun.

"Atas dasar pertumbuhan pinjaman yang kuat, manajemen BBCA telah menaikkan panduan pertumbuhan pinjaman tahun 2024 menjadi 10%-12% dari panduan sebelumnya 8%-10%," ucap Andrey, Rabu (8/1).

BBCA akan melanjutkan inisiatif strategi seperti BCA Expoversary 2024 dan BCA Expo 2024 yang sebelumnya mampu mengumpulkan total aplikasi kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit kendaraan bermotor (KKB) lebih dari Rp 78 triliun. BCA UMKM Fest 2024 juga cukup sukses dengan diikuti lebih dari 1.700 pengusaha produk lokal.

Analis Buana Capital Sekuritas, James Stanley Widjaja melihat, ada peluang melirik BBCA di tengah kondisi likuiditas ketat. Penurunan saham emiten bank swasta terbesar itu justru menjadi kesempatan beli saat harga rendah. Sbulan terakhir, BBCA sudah terkoreksi 6,52%.

Hal itu karena investor mengurangi ekspektasi pemotongan suku bunga yang agresif dan memperhitungkan sistem likuiditas yang lebih ketat di industri perbankan.

Kami melihat koreksi harga BBCA sebagai peluang yang menarik untuk mengakumulasi. Profil pertumbuhan laba BBCA tetap utuh mengingat likuiditas yang cukup dan kualitas aset terbaik di kelasnya, ujar James dalam riset 20 Desember 2024.

James memaparkan, laba bersih setelah pajak (NPAT) BBCA bank only mencapai Rp 50,5 triliun yang meningkat 14,3% yoy dan margin bunga bersih (NIM) tetap kuat pada level 6,2% per November 2024.





Berita ini dikutip dari : Kontan Investasi
Kamis, 09 Januari 2025 / 09:39 WIB

Resmi Merger, OJK Cabut Izin Usaha BCA Multi Finance

Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengumumkan telah mencabut izin usaha Perusahaan Pembiayaan PT BCA Multi Finance. Pencabutan izin ini dikarenakan adanya aksi merger di perusahaan.

Sebagaimana tertuang dalam surat keputusan KEP-65/D.06/2024 tertanggal 31 Desember 2024, izin usaha BCA Multifinance resmi dicabut akibat adanya penggabungan Usaha dengan PT BCA Multi Finance ke dalam PT BCA Finance.

Pencabutan izin usaha tersebut berlaku efektif sejak tanggal 1 September 2024 sebagaimana dinyatakan dalam Akta Penggabungan Nomor 135 tanggal 15 Agustus 2024.

"Akta ini juga telah memperoleh bukti pencatatan dalam Sistem Administrasi Badan Hukum sebagaimana tertuang dalam surat Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia nomor AHU-AH.01.09-0246695 tanggal 1 September 2024," sebagaimana disebutkan dalam pengumuman OJK, dikutip Kamis, (9/1/2025).

Sejak tanggal efektif penggabungan PT BCA Multi Finance ke dalam PT BCA Finance, PT BCA Finance selaku pihak yang menerima penggabungan, bertanggung jawab atas pengalihan seluruh kegiatan, kegiatan usaha, operasional, modal saham, karyawan, aset, izin, kewajiban, serta seluruh aktiva dan pasiva lainnya, dalam cakupan yang paling luas, dari PT BCA Multi Finance sebagai akibat dari penggabungan dimaksud.

Melansir website resmi perseroan, BCA Multi Finance mengatakan bahwa nasabah tidak perlu khawatir sebab Tidak ada perubahan pada produk dan layanan atas aksi penggabungan ini.

"Efektif per tanggal 1 September 2024 PT BCA Multi Finance (BCAMF) resmi bergabung ke dalam PT BCA Finance (BCAF) Tidak ada perubahan pada produk dan layanan," sebagaimana dikutip dari laman resminya, Kamis, (9/1/2025).

(fsd/fsd)




Berita ini dikutip dari : CNBC
Mentari Puspadini, CNBC Indonesia
09 January 2025 11:15

Rabu, 20 November 2024

Saham BBCA Menanjak saat Cum Date Dividen Interim Hari Ini

IDXChannel - PT Bank Central Asia Tbk atau BCA (BBCA) memasuki cum date dividen interim di pasar reguler dan pasar negosiasi hari ini, Rabu (20/11/2024).

BBCA akan membagikan dividen interim tahun buku 2024 sebesar Rp50 per saham. Total nilai dividen interim tunai yang akan dibayarkan sebesar Rp6,16 triliun. 

Dividen interim tersebut dijadwalkan cair pada 11 Desember 2024.

Saat cum date hari ini, saham BBCA bergerak di zona hijau. Hingga jelang penutupan sesi I hari ini, saham BBCA sudah naik 1,51 persen ke Rp10.075.

Saham emiten bank dengan kapitalisasi terbesar di BEI itu ditransaksikan seilai Rp184,68 miliar dengan volume 18,39 juta saham dan frekuensi sebanyak 5.958 kali. 

Saham BBCA menguat hari ini usai dua hari sebelumnya melemah. Pada perdagangan Senin (18/11), saham BBCA berakhir turun 1,72 persen di Rp10.000 dan kembali lesu 0,75 persen menjadi Rp9.925 pada Selasa kemarin (19/11).

(Fiki Ariyanti)



Berita ini dikutip dari : IDX Channel
Market news, Fiki Ariyanti 20/11/2024 11:36 WIB

Selasa, 12 November 2024

BCA (BBCA) Gelontorkan Dividen Interim Rp6,163T, Telisik Jadwalnya

EmitenNews.com - PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) mengumumkan akan membagikan dividen interim tahun buku 2024 dengan total Rp6.163.752.500.000.

Linda Chandrawati Kepala Grup BCA dalam keterangan resmi Selasa (12/11) menyampaikan bahwa pembagian dividen interim tahun buku 2024 dengan keputusan Direksi yang telah disetujui Dewan Komisaris pada tanggal 08 November 2024 sebesar Rp50 per lembar saham.

Adapun jadwal pembagian dividen interim sebagai berikut:

- Cum Dividen di Pasar Reguler dan Pasar Negosiasi pada 20 November 2024.

- Ex Dividen di Pasar Reguler dan Pasar Negosiasi pada 21 November 2024.

- Cum Dividen di Pasar Tunai pada 22 November 2024.

- Ex Dividen di Pasar Tunai pada 25 November 2024.

-  Daftar Pemegang Saham (DPS) yang berhak atas dividen tunai pada 22 November 2024.

- Pembayaran Dividen interim pada 11 Desember 2024.

 

Data Keuangan  per 30 September 2024  yang mendasari pembagian Dividen adalah sebagai berikut:

- Laba Bersih yang didapat diatribusikan kepada entitas induk Rp41.073.863.297.216.

- Saldo Laba Ditahan yang Tidak Dibatasi Penggunaannya Rp232.307.393.816.564. 

- Total Ekuitas sebesar Rp255.961.318.292.474.




Berita ini dikutip dari : Emiten News
Author: Komarudin Muchtar
12/11/2024, 14:05 WIB

Jumat, 27 September 2024

Kinerja Keuangan Bank Besar hingga Agustus 2024, BBCA Paling Ciamik

IDXChannel - Sejumlah bank besar di Bursa Efek Indonesia (BEI) telah melaporkan kinerja keuangannya hingga Agustus 2024. Setidaknya ada empat bank besar yang melaporkan kinerja yakni BBCABBRIBBNI, dan BBTN.

Berdasarkan laporan bulanan yang dikutip Kamis (26/9/2024), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat laba bersih sebesar Rp35,99 triliun hingga Agustus 2024. Capaian laba tersebut melonjak 13,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan laba bersih tersebut didorong oleh peningkatan Net Interest Income (NII) 10,1 persen dan Non–Interest Income 8,1 persen, sementara beban operasional turun 11,5 persen. Net Interest Margin (NIM) BBCA juga terjaga di level 5,9 persen.

Kenaikan laba bersih bank swasta terbesar di Indonesia itu juga sejalan dengan penyaluran kredit yang tumbuh hingga 15,66 persen, tertinggi di antara bank-bank besar lainnya. Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 4,1 persen sehingga posisi Loan to Deposit Ratio (LDR) BBCA berada di level 76,5 persen, sangat kuat untuk menggenjot kredit lebih lanjut.

Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencetak laba bersih Rp36,21 triliun, naik 3,96 persen dalam delapan bulan di 2024. Khusus Agustus, BBRI mencetak laba Rp4,8 triliun naik 12 persen.

Kenaikan laba bersih tersebut disebabkan oleh pertumbuhan Pre-Provision Operating Profit (PPOP) yang mencapai Rp8,9 triliun sementara NIM terjaga di level 6,4 persen (Rp9,4 triliun) dan non-NIM naik 65 persen secara tahunan menjadi Rp5,4 triliun.

Penyaluran kredit BBRI menjadi yang terbesar secara nominal di antara bank-bank lainnya hingga Rp1.204 triliun. Kredit tersebut tumbuh 7,12 persen, lebih rendah dari proyeksi manajemen antara 10-12 persen. Sementara DPK tumbuh 6,6 persen meski posisi LDR semakin ketat menjadi 89,2 persen.

Adapun PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) meraih laba bersih Rp14,22 triliun, tumbuh 4,31 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

NIM BBNI masih cukup stabil di level 4,2 persen dengan NII mencapai Rp3,4 triliun, tumbuh 2,6 persen. Sementara itu, beban operasional naik 16,7 persen dampak dari peningkatan beban tenaga kerja.

Penyaluran kredit BBNI tumbuh 8,97 persen, melandai sekaligus lebih rendah dari target 10-12 persen. Sementara DPK tercatat naik tipis 3,6 persen sehingga LDR naik ke 95,3 persen, yang mengindikasikan posisi likuiditas perseroan yang ketat.

Sementara PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) mencatatkan penurunan laba bersih hampir 10 persen dalam delapan bulan pertama tahun ini menjadi Rp1,8 triliun. Pada periode yang sama tahun 2023, BBTN mengoleksi laba bersih Rp2 triliun.

Penurunan ini disebabkan oleh turunnya NII sebesar 12 persen menjadi Rp7,87 triliun. Upaya BBTN menekan biaya provisi tak cukup untuk mendongkrak bottom line perseroan.

Penyaluran kredit BBTN tumbuh hingga 12,09 persen menjadi Rp312,9 triliun. DPK BBTN juga tumbuh cukup tinggi 16,49 persen meski dibiayai dana mahal atau deposito yang membuat beban bunga naik 27 persen menjadi Rp11,8 triliun.

(Rahmat Fiansyah)




Berita ini dikutip dari : IDX Channel
Banking, Rahmat Fiansyah 26/09/2024 10:05 WIB

Rabu, 11 September 2024

Saham BBCA Diborong Investor Asing Rp141 M Saat IHSG Cetak Rekor

 

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pada perdagangan saham kemarin, Selasa 10 September 2024, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan di zona hijau dengan keberhasilan pecah rekor tertinggi all time high (ATH) dengan kenaikan 58,64 poin, dan menguat 0,76% ke posisi 7.761,38.
Bersamaan dengan melesatnya IHSG, investor asing gencar melangsungkan aksi beli bersih (net buy) mencapai Rp459,47 miliar pada perdagangan saham di seluruh pasar. Sama halnya, di pasar reguler investor asing juga mencatat net buy Rp236,96 miliar.

Adapun investor asing mencatatkan net buy saham terbanyak pada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencapai Rp141,99 miliar di saat IHSG pecah rekor. Bersamaan dengan aksi beli, saham BBCA menguat 0,73%, ke posisi Rp10.350/saham.

Berikut 10 saham dengan angka net buy tertinggi yang paling jadi incaran oleh investor asing selama perdagangan Selasa (10/9/2024):

  1. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp141,99 miliar
  2. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) Rp79,63 miliar
  3. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp49,82 miliar
  4. PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) Rp39,38 miliar
  5. PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) Rp29,26 miliar
  6. PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) Rp24,78 miliar
  7. PT Jasa Marga Tbk (JSMR) Rp24,66 miliar
  8. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Rp24,58 miliar
  9. PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) Rp18,95 miliar
  10. PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) Rp17,92 miliar

Sementara itu, investor asing mencatatkan net sell yang masif pada saham PT Astra International Tbk (ASII) mencapai Rp55,52 miliar. Tidak sejalan dengan tekanan jual, saham ASII tetap solid dengan flat di posisi Rp5.025/saham.

Berikut 10 saham dengan angka net sell tertinggi oleh investor asing selama perdagangan kemarin, Selasa (10/9/2024):

  1. PT Astra International Tbk (ASII) Rp55,52 miliar
  2. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) Rp50,49 miliar
  3. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp46,55 miliar
  4. PT United Tractors Tbk (UNTR) Rp46,26 miliar
  5. PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) Rp26,97 miliar
  6. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp24,4 miliar
  7. PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) Rp23,67 miliar
  8. PT MD Pictures Tbk (FILM) Rp18,31 miliar
  9. PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) Rp14,89 miliar
  10. PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) Rp11,71 miliar

Berita ini dikutip dari : Bloombergtechnoz
Muhammad Julian Fadli
11 September 2024 07:41

Jumat, 30 Agustus 2024

Soal Porsi Dividen Tahun Buku 2024, Ini Kata BCA (BBCA)

 

Corporate Secretary BCA Raymon Yonarto. Tangkapan Layar: Investortrust/Taufiq Al Hakim

JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA berkomitmen untuk terus memberikan dividen yang terus meningkat dari waktu ke waktu.

 
"Kita dari waktu ke waktu komit untuk memberikan dividen yang terus meningkat. Tahun ini, kita belum desain untuk tahun depan pembagian dividennya. Tapi intinya kita akan terus menjaga supaya capital di BCA itu cukup kuat, dan kita juga melihat ROE (return on equity) kita masih tumbuh 24%, untuk saat ini 24% posisinya," ujar Corporate Secretary BCA Raymon Yonarto dalam acara Public Expose Live 2024 di Jakarta, Rabu (28/8/2024).
 
Raymon menjelaskan, dengan terus menunjukkan performa yang baik kedepannya, maka dengan sendirinya distribusi dividen bisa lebih besar kedepannya.
 
"Jadi capital itu dan liquidity adalah suatu hal yang sangat penting di kita. Jadi hal itu sangat-sangat kita perhatikan," ungkap Raymon.
 
Menurut Raymon, loan to deposit ratio (LDR) BCA per Juni 2024 berada pada level 72,74% dengan modal berkisar pada level 27%.

Lebih lanjut, Raymon menyebut, kebutuhan modal ke depan masih cukup banyak, di mana hal ini sejalan dengan kredit yang masih tumbuh cepat dan ekspansi anak-anak perusahaan BCA. Sehingga, hal tersebut menjadi pertimbangan bank swasta terbesar di Indonesia tersebut dalam memutuskan dividend payout ratio.
 
“Dan juga lending, seperti UMKM yang bertumbuh 15%. Jadi perlu modal ke depannnya juga, tapi ya tadi, kita kalau dilihat track record-nya, dividen kita selalu bertumbuh dari tahun ke tahun,” jelas Raymon.

Sebagai tambahan informasi, sebelumnya diberitakan investortrust.id, BCA telah menetapkan total dividen tunai tahun buku 2023 senilai Rp 33,28 triliun atau Rp 270 per saham. Angka tersebut mencerminkan rasio dividen 68,48% dari perolehan laba bersih tahun 2023.
 
Demikian keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) BBCA di Jakarta, Kamis (14/3/2023). Nilai dividen tunai per saham itu mencatatkan kenaikan 31,7%, dibandingkan dividen tunai tahun buku 2022.
 
Dividen tunai tahun buku 2023 tersebut terdiri atas dividen interim yang telah dibagikan Rp 42,50 per saham kepada para pemegang saham pada 20 Desember 2023.Sehingga, sisanya yang akan dibayarkan selanjutnya senilai Rp 227,50 per saham.

Editor | Lona Olavia 
investortrust.id