Super Kawaii Cute Cat Kaoani
Tampilkan postingan dengan label The Fed. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The Fed. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Desember 2024

Rupiah Jatuh Jelang Pertemuan The Fed

JAKARTA, investor.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka jatuh pada perdagangan Selasa pagi (17/12/2024). Pasar menanti kebijakan moneter The Fed dalam pertemuan terakhir tahun ini pada 17-18 Desember. 

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB di pasar spot exchange, rupiah jatuh 35,5 poin (0,22%) berada di level Rp 16.037 per dolar AS. Pada perdagangan Senin (16/12/2024), mata uang rupiah ditutup ditutup menguat 7 point (0,04%) berada di level Rp 16.001 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dollar terpantau melemah 0,09 poin ( 0,08%) sebesar menjadi 106,76. Sedangkan imbal hasil surat berharga negara (SBN) tenor 10 tahun naik 0,027% di level 7,07% pada Senin (16/12/2024).

Sementara itu, Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi Eksternal memprediksi, mata uang rupiah fluktuatif pada perdagangan Selasa (17/12/2024). “Namun, ditutup melemah direntang Rp 15.090 – 16.050,” ungkap Ibrahim, Senin (16/12/2024).

Ibrahim menjelaskan, para pedagang tetap waspada terhadap penguatan dolar AS sebelum pertemuan The Fed minggu ini. “Bank sentral diperkirakan akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada akhir pertemuan pada hari Rabu, sehingga suku bunga akan turun total 100 bps pada tahun 2024,” tambah Ibrahim.

Namun, Ibrahim memaparkan, prospek suku bunga bank sentral akan diawasi dengan ketat, terutama mengingat data terbaru yang menunjukkan inflasi meningkat pada bulan November, sementara pasar tenaga kerja tetap kuat. The Fed diperkirakan akan memberi sinyal lebih hati-hati atas pelonggaran di masa mendatang, yang dapat membuat suku bunga tetap tinggi dalam jangka panjang.

Di Asia, BOJ diperkirakan akan mempertahankan suku bunga saat ini minggu ini, karena para pejabat mencari lebih banyak waktu untuk mengevaluasi risiko global dan prospek pertumbuhan upah pada tahun 2024. Hal ini berbeda dengan ekspektasi sebelumnya tentang kenaikan suku bunga.

“Kementerian Keuangan Korea Selatan berjanji pada hari Minggu untuk terus menerapkan langkah-langkah stabilisasi pasar dengan cepat sebagaimana diperlukan untuk mendukung ekonomi setelah pemakzulan,” ucapnya.

Konsumen China Melemah

Sedangkan dari China, Ibrahim menjelaskan, produksi industri China tumbuh seperti yang diharapkan pada bulan November karena langkah-langkah stimulus terbaru dari Beijing mendukung aktivitas bisnis, data menunjukkan pada hari Senin. Namun, penjualan ritel tidak mencapai perkiraan, mencerminkan pelemahan yang sedang berlangsung dalam belanja konsumen China meskipun ada dukungan kebijakan.

Sedangkan dari dalam negeri Ibrahim menjelaskan, surplus neraca perdagangan Indonesia masih berlanjut pada November 2024. Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan surplus neraca perdagangan mencapai US$ 4,42 miliar pada November lalu. “Ini adalah surplus ke-55 bulan beruntun,” papar ibrahim, Senin (16/12/2024).

Menurut Ibrahim, surplus pada bulan November ini lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya US$ 2,48 miliar. Surplus ini dipicu oleh nilai ekspor yang lebih tinggi dibandingkan impor. Ekspor RI mencapai US$ 24,01 miliar pada November 2024, sementara impor tercatat US$ 19,59 miliar. Adapun, Impor RI mengalami penurunan hingga 10,71% (mtm) pada November 2024.

Selain itu, tambah Ibrahim, pemerintah resmi memberlakukan kenaikan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12% mulai 1 Januari 2025. Namun, sejumlah barang dan jasa tetap dibebaskan dari PPN, sementara beberapa barang lain mendapatkan fasilitas diskon tarif.




Berita ini dikutip dari : Investor Daily
Penulis : Indah Handayani
17 Des 2024 | 09:21 WIB

Senin, 09 Desember 2024

Skenario Bunga The Fed Turun Jadi Alasan IHSG Dibuka Menguat

Bloomberg Technoz, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka zona hijau pada pembukaan perdagangan pagi hari ini. IHSG senasib dengan Bursa Saham Asia lain yang turut menguat.

Pada Senin (9/12/2024) pukul 09.10 WIB, IHSG berada di posisi 7.404,98. Menguat 0,3% dibandingkan penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia, volume perdagangan tercatat 8,17 miliar saham dengan nilai transaksi Rp34,26 triliun. Adapun frekuensi yang terjadi sebanyak 143.387 kali.

Sebanyak 262 saham menguat, dan 156 saham melemah. Sementara, 196 saham tidak bergerak.

Berbagai indeks saham utama di Benua Kuning juga solid menguat seperti Indeks Nikkei 225 Jepang dan TOPIX Tokyo Jepang, misalnya, menguat masing-masing 0,41% dan 0,31%.

Laporan pasar kerja AS di pekan lalu masih memberi harapan pasar, sejurus dengan peningkatan tingkat pengangguran yang memperkuat ekspektasi penurunan suku bunga acuan Federal Reserve pekan depan.

Fokus pasar saat ini tertuju ke data inflasi AS yang akan melansir data penting penentu kebijakan The Fed, yakni data inflasi CPI untuk bulan November.

Probabilitas Federal Funds Rate pada Rapat Desember 2024 (Sumber: CME FedWatch)

Data inflasi AS itu akan menjadi data penting paling pamungkas sebelum Jerome Powell dan kolega menggelar Pertemuan Komite Terbuka (FOMC) pada 18 Desember.

Mengutip CME FedWatch Tools pagi ini, peluang pemangkasan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,25–4,5% dalam rapat 18 Desember meningkat probabilitasnya mencapai 85,1%.

(fad)



Berita ini dikutip dari : Bloombergtechnoz
Muhammad Julian Fadli
09 December 2024 09:21

Rabu, 09 Oktober 2024

Sinyal Baru The Fed Jadi Angin Segar, IHSG Lanjut Menguat


Bloomberg Technoz, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini Rabu 9 Oktober 2024, berpotensi melaju di zona hijau. Sentimen positif datang dari pernyataan terbaru pejabat The Fed perihal pemangkasan suku bunga guna menjaga inflasi sesuai target dengan mencegah perlambatan pekerjaan.

Pada perdagangan saham kemarin Selasa (8/10/2024), IHSG menguat 53 poin, atau mencatat kenaikan 0,71% dan menutup perdagangan di posisi 7.557.



Secara teknikal IHSG berpotensi melanjutkan penguatan, dengan menuju area resistance potensialnya pada trendline garis putih pada area level 7.600. Dan IHSG memiliki support kuat pada level 7.500 yang jadi penopang apabila pelemahan terjadi, di dalam time frame daily.

Adapun untuk resistance selanjutnya pada level 7.640, dan apabila berhasil break dengan volume yang optimis, berpotensi menuju 7.670 sebagai target penguatan selanjutnya.

Sentimen pada perdagangan hari ini utamanya datang dari global. Deputi Gubernur Federal Reserve, Adriana Kugler mengatakan Bank Sentral AS harus tetap fokus untuk membawa inflasi kembali ke target 2%, meskipun dengan “Pendekatan yang seimbang,” yang menghindari perlambatan yang “Tidak diinginkan,” dalam pertumbuhan lapangan kerja dan ekspansi Ekonomi AS.

“Meskipun saya percaya fokusnya harus tetap pada upaya untuk terus membawa inflasi ke 2%, saya mendukung pengalihan perhatian ke sisi ketenagakerjaan maksimum dari dua mandat FOMC,” kata Kugler, mengacu pada pertemuan FOMC.

Seperti yang diwartakan Bloomberg News, Pernyataan terbaru itu disampaikan Kugler dalam pidato pada Selasa dalam konferensi kebijakan moneter di Bank Sentral Eropa di Frankfurt.

Ia kembali menegaskan bahwa ia “Sangat mendukung,” keputusan FOMC di bulan lalu untuk memangkas suku bunga acuan sebesar setengah poin.

Prospek rata-rata dari para pembuat kebijakan yang juga berdasarkan proyeksi yang dirilis setelah pertemuan September, menyerukan pemangkasan suku bunga setengah poin lagi selama dua pertemuan The Fed yang tersisa pada 2024.

Kugler mengatakan ia akan mendukung penurunan tambahan “Jika perkembangan inflasi berlanjut seperti yang saya harapkan,” meskipun ia menunjukkan sejumlah faktor risiko.


Mencermati pernyataan pejabat The Fed lain, Raphael Bostic Gubernur Federal Reserve Bank of Atlanta, menegaskan bahwa meskipun risiko inflasi berkurang, ancaman terhadap pasar tenaga kerja meningkat.

“Saya tetap sangat fokus pada target inflasi dan memastikan bahwa kami mencapainya,” kata Bostic pada Selasa (08/10/2024) dalam sebuah diskusi di Atlanta.

Ia menambahkan, “Karena inflasi telah menurun sejauh ini, aspek pekerjaan dari mandat mulai menjadi lebih penting.”

Sementara itu, Susan Collins, Gubernur Federal Reserve Bank of Boston, menegaskan bahwa para pembuat kebijakan harus berhati-hati dan menggunakan data saat menurunkan suku bunga guna menjaga kekuatan Ekonomi AS.

Dalam komentarnya terkait laporan ketenagakerjaan September, Collins menyatakan bahwa pasar tenaga kerja AS berada dalam “Kondisi yang baik secara keseluruhan.”

Ia juga menambahkan, saat ini semakin yakin bahwa inflasi akan kembali ke target Bank Sentral ‘Tepat waktu’ seiring dengan pasar tenaga kerja yang sehat.

“Pendekatan berbasis data sangat penting dalam menyeimbangkan dua mandat utama The Fed: stabilitas harga dan lapangan kerja maksimal.”

Konflik Timur Tengah

Sentimen dari Timur Tengah, Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant akan segera bertolak ke Washington saat negara itu terus menimbang-nimbang bagaimana merespons serangan rudal Iran, sementara AS tetap mendesak untuk menahan diri.

Pentagon mengungkapkan, Selasa, Gallant akan mendiskusikan “Perkembangan keamanan Timur Tengah yang sedang berlangsung,” dengan Menhan AS Lloyd Austin. 

Presiden AS Joe Biden telah mendesak Israel untuk tidak menyerang fasilitas nuklir atau infrastruktur minyak Iran, di tengah kekhawatiran langkah tersebut dapat memicu perang yang lebih luas yang menyeret Washington, yang dapat menaikkan harga energi dan menghantam ekonomi global.

Tim Research Phillip Sekuritas memaparkan, dari pasar komoditas, harga kontrak berjangka (Futures) minyak mentah telah lompat lebih dari 3,5% karena pelaku pasar berusaha menebak apakah aksi balasan Israel terhadap serangan Iran akan meliputi penghancuran ladang minyak di Iran.

“Investor merasa khawatir mengenai dampak konflik Timur-Tengah terhadap harga minyak mentah,” mengutip riset harian Tim Research Phillip Sekuritas.

Analis Phintraco Sekuritas memaparkan, kecenderungan Presiden AS, Joe Biden untuk menghalangi Israel menyerang fasilitas produksi minyak Iran. Perwakilan Pemerintah Israel dan AS dijadwalkan bertemu di Washington D.C. pada hari ini untuk membicarakan perkembangan kondisi geopolitik di Timur Tengah, menyeret pelemahan harga minyak yang juga menandai tensi yang ‘Sedikit’ mereda.

“IHSG diperkirakan melanjutkan penguatan ke kisaran 7.600–7.630 di Rabu (9/10). Secara teknikal, terbentuk pola morning star doji pada Selasa, dan terbentuk golden cross pada MACD. Keduanya menjadi indikasi kuat minor bullish reversal,” mengutip riset Phintraco.

Melihat hal tersebut, Phintraco memberikan rangkuman rekomendasi saham hari ini meliputi BBRI, BBNI, BBTN, BNGA dan ICBP.

Senada, Analis BRI Danareksa Sekuritas memaparkan, IHSG mulai memantul dari area support MA-60 di 7.509 dan mulai memantul dari area support.

“IHSG berpotensi menguji resisten MA-20 di 7.700,” papar BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya pada Rabu (9/10/2024).

BRI Danareksa juga memberikan catatan, waspadai penurunan lebih dalam jika harga turun di bawah support 7.454.

Bersamaan dengan risetnya, BRI Danareksa memberikan rekomendasi saham hari ini, ADHI, ASRI, ICBP, dan MAPI.


Berita ini dikutip dari : Bloombergtechnoz.com
Muhammad Julian Fadli
09 October 2024 08:56

Jumat, 27 September 2024

Peluang BI Rate Turun Lagi Kian Besar

Bloomberg Technoz, Jakarta - Ekspektasi para traders di pasar surat utang negara akan penurunan BI rate yang lebih besar ke depan, kian meningkat seiring naiknya taruhan di pasar global bahwa Federal Reserve, bank sentral Amerika, akan menggunting lebih banyak tingkat bunga pinjaman.

Ditambah dengan gebrakan bank sentral China, PBOC, yang menyiapkan paket stimulus moneter untuk membangkitkan ekonomi di Negeri Panda itu, turut menaikkan pamor aset-aset di emerging market Asia, terutama valutanya sehingga peluang pemangkasan bunga acuan lebih lanjut jadi semakin besar.

Sejauh ini, euforia dimulainya siklus penurunan bunga acuan telah memicu reli di pasar surat utang Asia. Indeks Bloomberg Emerging Market Asia Bond telah membukukan return 6% pada kuartal ini, kenaikan terbesar sejak 2008. Sedangkan sepanjang tahun hingga 26 September, return-nya sudah sebesar 7,1% year-to-date.

Mengacu data Bloombergyield atau tingkat imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 2 tahun terkikis tajam pasca putusan penurunan BI rate oleh Bank Indonesia pada 18 September yang mengejutkan mayoritas pelaku pasar. 

Keesokan harinya, yield SBN-2Y yang paling sensitif terhadap arah bunga acuan, turun 12 bps. Sampai data perdagangan Kamis kemarin, yield tenor ini sudah turun 25,2 bps dalam sebulan terakhir, kedua terbanyak setelah penurunan imbal hasil SBN tenor 5 tahun yang mencapai 30,5 bps pada periode yang sama. Sementara tenor 10Y, sebulan terakhir sudah turun 15,5 bps.

"BI selama ini menjadi bank sentral yang paling fokus pada stabilisasi mata uang dan arah kebijakan The Fed bila dibanding bank sentral Asia yang lain," kata Mitul Kotecha, Strategist Barclays Plc, dalam catatannya pekan lalu, dilansir dari Bloomberg.


Koreksi Harga

Dalam perdagangan kemarin, pasar SBN rupiah (INDOGB) dan SBN valas (INDON) mengalami koreksi. Yield INDOGB bergerak dengan pola flattening uang terlihat dari kenaikan yield INDOGB 2Y sebesar 2,7 bps ke level 6,31%. Sementara yield INDOGB 5Y naik 3,3 bps jadi 6,21% dan 10Y naik 2,4 bps ke 6,46%, ditambah tenor 30Y naik 2 bps ke 6,86%. 

"Sementara itu, yield INDON mengalami bearish steepening. Koreksi ini sejalan dengan proyeksi kami, seiring naiknya yield UST 10Y menuju target 3,80%-3,90%," tulis tim analis fixed income Mega Capital Sekuritas, Lionel Priyadi dan Nanda Rahmawati.

Hari ini, Bank Indonesia kemungkinan masih akan kembali menggelar lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) di tengah lontaran rencana akan mengakhiri, seiring arus modal asing yang masuk makin deras di pasar surat utang negara.

Lelang SRBI kemungkinan juga akan memperlihatkan penurunan tingkat imbal hasil yang diminta oleh pasar. Pada lelang terakhir pekan lalu, incoming bids mencapai Rp46,04 triliun, naik 36% dibanding lelang pekan lalu. Investor meminta tingkat bunga diskonto lebih rendah. Bila dalam lelang sebelumnya, SRBI-12M diminta di 7,08-7,20%, dalam lelang hari ini permintaan rate makin rendah di 6,70-7,13%. Bank Indonesia akhirnya memenangkan bunga diskonto SRBI tenor terpanjang di level 6,84%, yang menjadi tingkat bunga terendah sejak awal Maret lalu.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro memprediksi BI akan kembali memangkas suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 bps pada Oktober 2024. Proyeksi itu dilatarbelakangi langkah The Fed yang telah menggunting suku bunga lebih besar ketimbang prediksi, yaitu sebesar 50 bps pekan lalu. 

“Paling tidak kalau untuk ahead the curve Oktober itu ada ruang kemudian memangkas suku bunga acuannya lagi sebesar 25 basis. Apalagi dengan assessment kami tingkat inflasi di domestik itu akan relatif rendah,” ujar Asmo dalam taklimat media di Serang, Banten, Rabu (25/9/2024).

Ia menjelaskan, The Fed diperkirakan masih melanjutkan pemotongan suku bunganya 50 bps pada sisa tahun ini. Yakni, sebesar 25 bps pada November dan 25 bps pada Desember.

-- dengan bantuan laporan Azura Yumna.



Berita ini dikutip dari : Bloombergtechnoz
Ruisa Khoiriyah
27 September 2024 10:20

Rabu, 25 September 2024

IHSG Menjadi 'Korban' Stimulus Ekonomi China

 

Bloomberg Technoz, Jakarta - Penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang hari ini, Rabu (25/9/2024), dinilai akibat imbas adanya stimulus ekonomi China, yang menyebabkan aliran dana asing beralih ke Negeri Panda tersebut.

"Stimulus pasar saham china malah membuat asing lari ke sana," ujar Fixed Income dan Macro Strategist Mega capital Sekuritas Lionel Priyadi saat dihubungi. 

Sejak pembukaan perdagangan pagi, IHSG sudah tertekan dengan rentang perdagangan di area level 7.779 sampai dengan terlemahnya menyentuh 7.633.

Pelemahan tersebut tak lain disebabkan karena hanya ada 217 saham yang menguat, sementara 358 saham melemah, dan 212 saham stagnan.

Total sebanyak 19,85 miliar saham ditransaksikan dengan dengan nilai Rp11,17 triliun. 

Sektor keuangan, termasuk saham big banks menjadi pemberat utama laju IHSG. Saham BBRI anjlok 4,98%. Kemudian, saham BMRI juga anjlok 4,04%. Saham BBNI dan BRIS masing-masing juga anjlok 3,88% dan 2,25%.

Berdasarkan data Bloomberg, BBRI menjadi saham pemberat atau laggard laju IHSG saat ini dengan menekan sebanyak 39,67 poin, diikuti posisi kedua oleh BMRI dengan tekanan 24,49 poin. Sementara, BBNI menekan 8,91 poin.

Jeffrosenberg Chenlim, kepala riset di PT Maybank Sekuritas Indonesia, pergerakan empat saham bank besar yang turut memperburuk IHSG juga karena adanya ekspektasi melemahnya penyalruan kredit.

"Pertumbuhan pinjaman korporasi yang cepat, yang telah kita lihat tahun ini mungkin melambat menjelang akhir tahun 2024 dan hingga tahun 2025 karena itu akan menghabiskan likuiditas di sektor perbankan," jelas Jeffrosenberg.

"Rasio pinjaman terhadap simpanan sektor perbankan akan meningkat dan itu akan membatasi kemampuan bank untuk memperpanjang kredit."

Penurunan tersebut juga terjadi bersamaan dengan pengumuman oleh Gubernur bank sentral China atau People's Bank of China (PBOC), Pan Gongsheng, yang memberikan paket stimulus untuk mendorong perekonomiannya yang sedang lesu, termasuk dukungan likuiditas sebesar setidaknya 500 miliar yuan (sekitar Rp1.078 triliun) untuk sektor saham.

Meski demikian, fenomena ini dinilai tidak akan bertahan lama. Lionel mengatakan, IHSG masih akan mampu bergerak ke level 8.000, yang dipicu oleh momentum penurunan kembali suku bungan The Fed hingga 0,5% pada November dan Desember.

"Masih banyak momentum untuk ke 8000, karena Fed diperkirakan masih memangkas suku bunga acuannya lagi di November dan Desember," kata dia. "Bank Indonesia mungkin akan ikut, dan market sedang spekulasi BI cut Oktober."


Berita ini dikutip dari : Bloomberg Technoz
Sultan Ibnu Affan
25 September 2024 14:10

Jumat, 20 September 2024

Harga Minyak Melesat 3 Persen usai The Fed Pangkas Suku Bunga dan Ketegangan Timur Tengah


IDXChannel - Harga minyak mentah menguat tajam pad Kamis (19/9/2024) seiring investor mulai menambah risiko setelah pemangkasan suku bunga Amerika Serikat (AS).

Di sisi lain, laporan menunjukkan persediaan minyak AS turun pekan lalu dan ketegangan di Timur Tengah meningkat.

Menurut data pasar, kontrak berjangka (futures) minyak jenis Brent meningkat 2,88 persen secara harian ke USD74,90 per barel, rebound dari koreksi sehari sebelumnya. Sedangkan, minyak WTI naik 3,05 persen ke USD71,20 per barel.

Sebelumnya, Komite kebijakan Federal Reserve (The Fed) pada Rabu memangkas suku bunga untuk pertama kalinya dalam empat tahun, menurunkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin, dan mengisyaratkan kemungkinan penurunan lagi sebesar 50 basis poin hingga akhir tahun, meski dengan kecepatan yang lebih lambat dari perkiraan beberapa pihak.

“Siklus penurunan suku bunga Fed kini telah dimulai, dan kecepatan penurunannya akan bergantung pada data ekonomi AS yang masuk,” ujar Saxo Bank, dikutip MT Newswires, Kamis (19/9/2024).

Pemangkasan suku bunga The Fed yang agresif mendorong prospek konsumsi bahan bakar di AS dan negara-negara besar lainnya, serta memberi ruang bagi PBoC untuk menurunkan biaya pinjaman dan mendukung permintaan di negara pengimpor minyak terbesar dunia.

Dalam survei mingguannya, Badan Informasi Energi AS (EIA) pada hari Rabu melaporkan bahwa persediaan minyak AS turun 1,6 juta barel pekan lalu, lebih dari yang diperkirakan, yang menunjukkan permintaan tetap kuat saat musim peralihan menuju musim gugur dimulai.

Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah juga mendukung kenaikan harga minyak, setelah ledakan alat pemicu dan walkie-talkie jebakan yang digunakan oleh kelompok militan Hezbollah yang didukung Iran, menewaskan dan melukai ribuan orang.

Hezbollah menyalahkan Israel atas serangan tersebut, meskipun Israel tidak mengklaim tanggung jawab, dan serangan balasan antara kedua pihak terus berlanjut di perbatasan Israel-Lebanon.

Sementara itu, pasar juga memperhatikan potensi peningkatan pasokan dari OPEC+. (Aldo Fernando)

Berita ini dikutip dari : IDX Channel
Market news, TIM RISET IDX CHANNEL 20/09/2024 07:40 WIB

Kamis, 19 September 2024

Ikuti The Fed, Hong Kong Perdana Pangkas Suku Bunga Sejak 2020

 


Katia Dmitrieva - Bloomberg News

Bloomberg, Otoritas Moneter Hong Kong (Hong Kong Monetary Authority/HKMA) memotong suku bunga acuannya untuk pertama kalinya sejak 2020 setelah bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) melonggarkan kebijakan moneternya. Langkah ini diharapkan bisa meringankan kondisi pinjaman di pusat keuangan tersebut.

HKMA menurunkan suku bunga sebesar setengah poin menjadi 5,25% pada Kamis (19/09/2024), dari level tertinggi sejak 2007. Kebijakan ini mengikuti langkah serupa dari The Fed beberapa jam sebelumnya, meskipun Gubernur The Fed, Jerome Powell, telah memperingatkan bahwa pemotongan ini tidak bisa dijadikan patokan untuk langkah selanjutnya.

Meski demikian, para trader memperkirakan akan ada lebih banyak pemotongan suku bunga di AS. Saat ini, pasar memperkirakan adanya tambahan pemotongan sebesar 70 basis poin pada dua pertemuan kebijakan The Fed yang tersisa tahun ini.

Pemotongan suku bunga di Hong Kong diharapkan bisa memberi keringanan bagi bisnis dan konsumen, yang selama bertahun-tahun menghadapi tingginya biaya pinjaman. Biaya pinjaman yang tinggi telah menjadi salah satu faktor terbesar yang memperlambat pertumbuhan ekonomi dan mempengaruhi pasar real estate, di mana harga properti kini berada di titik terendah sejak 2016.

HSBC Holdings Plc, sebagai pemberi pinjaman terbesar di Hong Kong, dan bank-bank lainnya diperkirakan akan mengumumkan penyesuaian suku bunga pinjaman setelah keputusan HKMA. Jika mereka memotong suku bunga, ini akan menjadi kebijakan pelonggaran pertama HSBC sejak 2019.

Meskipun langkah The Fed memicu tren pemotongan suku bunga secara global, bank-bank sentral di Asia kemungkinan besar tidak akan segera mengikuti, karena mereka lebih fokus pada stabilitas keuangan dan risiko lainnya. Bank of Japan diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada pertemuan hari Jumat.

Berita ini dikutip dari : Bloomberg Technoz
News
19 September 2024 09:30

Deretan Saham yang Diuntungkan dari Aksi Pangkas Suku Bunga BI dan The Fed

 


IDXChannel – Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) dan Bank Indonesia (BI) serentak membawa kabar gembira soal pemangkasan suku bunga acuan. Sejumlah saham dinilai bisa mendapatkan katalis positif dari kebijakan tersebut.

Pengamat pasar modal Michael Yeoh menjelaskan, penurunan suku bunga oleh The Fed akan memperlebar selisih suku bunga antara AS dan negara-negara lain.

Hal ini, kata Michael, bisa mendorong perpindahan aliran dana dari negara maju (DM) ke negara berkembang (EM).

Pasar negara berkembang menjadi yang paling diuntungkan dari penurunan suku bunga ini karena risiko mata uang lebih rendah dan prospek pertumbuhan ekonomi yang membaik.

Meski demikian, Yeoh menjelaskan, tidak bisa dipungkiri bahwa beberapa saham bluechip Indonesia, seperti raksasa perbankan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), yang sudah mencapai harga tertinggi sepanjang masa (ATH) berpotensi mengalami aksi ambil untung (profit taking).

“Tapi, saya melihat aksi profit taking ini akan terjadi sementara waktu saja,” kata Michael kepada IDXChannel.com, Kamis (19/9/2024).

Hal tersebut karena, dalam jangka panjang, Indonesia akan tetap mendapat manfaat, terutama karena dana dari passive fund, yang kini total AUM (assets under management)-nya lebih besar dari active fund di seluruh dunia.

“Kenapa ini penting? Karena dana dari passive fund ini yang selanjutnya diharapkan akan perlahan pindah ke EM,” ujarnya.

Michael pun menyebut sejumlah saham yang bisa diuntungkan dengan aksi pangkas suku bunga ini. Sebut saja, saham sektor keuanganproperti, teknologi, dan peritel.

Pandangan lainnya datang dari Founder WH Project William Hartanto, yang berpendapat, efek pemangkasan suku bunga The Fed tidak signifikan.

“Kemungkinan hanya berefek pada emiten yang memiliki laba dalam dolar saja, karena efek dari pemangkasan suku bunga ini adalah pelemahan dolar,” kata William saat dihubungi IDXChannel.com, Kamis (19/9).

Terkait saham yang sensitif terhadap suku bunga, William menyarankan, misalnya, dua saham emiten kertas dan pulp besutan Grup Sinarmas PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) untuk sebaiknya dipantau dahulu alias wait and see.

Hal ini, kata William, karena kedua perusahaan tersebut memiliki porsi penjualan ekspor yang cukup besar.

Karenanya, investor juga perlu melihat pergerakan nilai tukar terlebih dahulu.

“Apabila tidak ada perubahan signifikan, maka pembelian bisa dilakukan. Kebetulan keduanya juga sedang bergerak dalam tren melemah,” tutur William. 

BI Pangkas Suku Bunga

Diwartakan sebelumnya, BI resmi memotong suku bunga acuan sebesar 25 bps ke 6,00 persen dalam Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pada 17-18 September 2024.

Demikian pula suku bunga Deposit Facility juga dipangkas 25 basis poin menjadi 5,25 persen, dan suku bunga Lending Facility dipotong 25 bps ke level 6,75 persen.

Keputusan menurunkan BI Rate juga didasarkan terhadap kondisi ekonomi global, termasuk Amerika Serikat yang diproyeksikan akan segera memangkas Fed Funds Rate (FFR).

Keputusan ini bertolak belakang dengan ekspektasi sebagian besar ekonom yang memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga guna mendukung nilai tukar rupiah.

Sebelumnya, tiga puluh dari 33 ekonom yang disurvei dalam jajak pendapat Reuters pada 9-12 September memperkirakan bahwa BI akan mempertahankan suku bunga acuan pada level 6,25 persen.

Langkah yang Dinantikan dari The Fed

Pada Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia, The Fed memberikan kejutan dengan memangkas suku bunga sebesar 50 basis poin (di atas konsensus 25 bps), penurunan pertama dalam lebih dari empat tahun.

Bank Sentral AS tersebut juga merilis perkiraan ekonomi terbaru.

Para pembuat kebijakan memperkirakan total pemangkasan suku bunga sebesar 100 basis poin hingga akhir 2024, yang berarti akan ada dua penurunan tambahan sebesar 25 basis poin pada dua pertemuan terakhir tahun ini.

Meski begitu, dalam konferensi pers rutin, Ketua The Fed Jerome Powell menekankan, The Fed tidak terburu-buru melonggarkan kebijakan, dan proyeksi tingkat suku bunga yang diungkapkan bukanlah rencana kebijakan.

Pemotongan suku bunga The Fed ini diharapkan dapat mendukung pengeluaran dan perekonomian AS.

"Intinya bukan pada pemangkasan 25 atau 50 basis poin, tapi pada arah kebijakan ke depannya, dan saya rasa mereka telah memberikan pandangan bahwa ekonomi masih berjalan cukup baik," kata Jason Wong, seorang ahli strategi dari BNZ di Wellington.

"Ini bukan pemangkasan 50 basis poin yang dilakukan secara panik," ujarnya.

Para pembuat kebijakan menurunkan proyeksi suku bunga median mereka dibandingkan dengan perkiraan pada Juli. Namun, Ketua The Fed Jerome Powell menekankan, langkah-langkah selanjutnya akan bergantung pada data ekonomi yang ada.

"Saya tidak berpikir siapa pun harus melihat ini sebagai laju baru," kata Powell kepada wartawan setelah pengumuman penurunan suku bunga jumbo tersebut.

"Kami sedang menyesuaikan kebijakan secara bertahap menuju tingkat yang lebih netral. Dan kami bergerak dengan kecepatan yang menurut kami tepat, mengingat perkembangan ekonomi,” tuturnya.

Penurunan suku bunga AS secara teori memberikan ruang bagi pasar negara berkembang untuk menurunkan suku bunga kebijakan mereka dan mendukung pertumbuhan ekonomi. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.


Berita ini dikutip dari : IDX Channel
Market news Aldo Fernando 19/09/2024 10:09 WIB

Saham Properti Lanjut Pesta setelah BI dan The Fed Kompak Pangkas Suku Bunga

 


IDXChannel – Saham emiten properti dan real estate kembali menguat pada Kamis (19/9/2024), melanjutkan momentum kenaikan sehari sebelumnya.

Hal tersebut seiring investor merespons positif keputusan Bank Indonesia (BI) yang memangkas suku bunga cuan sebesar 25 basis poin (bps) dalam rapat Rabu (18/9) dan langkah Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) yang juga menurunkan suku bunga 50 bps pada Kamis dini hari waktu Indonesia.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks sektor properti terapresiasi 1,22 persen, menjadi yang tertinggi pada Kamis. Pada Rabu, indeks tersebut juga merupakan sektor yang paling hijau.

Pada Kamis pagi, saham PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) meningkat 6,32 persen, PT Megapolitan Developments Tbk (EMDE) 4,97 persen, PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) 2,68 persen.

Kemudian, saham PT Urban Jakarta Propertindo Tbk (URBN) mendaki 3,33 persen, PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK) 3,21 persen, BSDE 2,87 persen, DILD 2,70 persen, PWON 1,96 persen.

Nama-nama lainnya, saham GPRA tumbuh 2,08 persen, PWON 1,96 persen, PANI 1,77 persen, KIJA 1,10 persen, SATU 1,07 persen, ASRI 0,79 persen, CTRA 0,76 persen, hingga DMAS 0,61 persen.

Penurunan suku bunga acuan BI, dan—secara tidak langsung—The Fed, diperkirakan akan berdampak positif pada saham sektor properti.

Dengan suku bunga yang lebih rendah, biaya pinjaman bagi perusahaan pengembang properti maupun konsumen yang mengambil kredit pemilikan rumah (KPR) cenderung turun. Hal ini dapat meningkatkan permintaan terhadap properti, baik untuk hunian maupun investasi.

Selain itu, dengan inflasi yang terkendali dan prospek penurunan suku bunga The Fed (FFR), sentimen pasar terhadap sektor properti kemungkinan akan membaik.  Akses yang lebih murah terhadap pembiayaan bisa meningkatkan penjualan.

Saham-saham properti yang mungkin merasakan dampak positif antara lain pengembang besar dengan portofolio KPR yang kuat, serta emiten yang memiliki proyek-proyek properti di area dengan permintaan tinggi.

BI Potong Suku Bunga

Diwartakan sebelumnya, BI resmi memotong suku bunga acuan sebesar 25 bps ke 6,00 persen dalam Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pada 17-18 September 2024.

Demikian pula suku bunga Deposit Facility juga dipangkas 25 basis poin menjadi 5,25 persen, dan suku bunga Lending Facility dipotong 25 bps ke level 6,75 persen.

Kebijakan menahan BI Rate didasarkan terhadap asesmen menyeluruh terhadap kondisi ekonomi domestik maupun global, hingga proyeksi kebijakan moneter sistem keuangan ke depan.

"Berdasarkan hasil asesmen evaluasi menyeluruh terhadap perkembangan dan prospek ekonomi, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 17-18 September  2024 memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 6,00 persen," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers pengumuman hasil RDG BI bulan September 2024 di Jakarta Pusat, Rabu (18/9/2024).

Perry mengatakan inflasi RI masih terkendali sebesar 2,12 persen yoy pada Agustus 2024. Ini sejalan dengan ketidakpastian ekonomi global yang mulai mereda.

Keputusan menurunkan BI Rate juga didasarkan terhadap kondisi ekonomi global, termasuk Amerika Serikat yang diproyeksikan akan segera memangkas Fed Funds Rate (FFR).

“Sehingga mendorong prospek penurunan FFR yang lebih cepat dan lebih besar dari perkiraan semula,” katanya.

Keputusan ini bertolak belakang dengan ekspektasi sebagian besar ekonom yang memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga guna mendukung nilai tukar rupiah.

Sebelumnya, tiga puluh dari 33 ekonom yang disurvei dalam jajak pendapat Reuters pada 9-12 September memperkirakan bahwa BI akan mempertahankan suku bunga acuan pada level 6,25 persen.

Pangkas Suku Bunga Jumbo ala The Fed

Pada Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia, The Fed memberikan kejutan dengan memangkas suku bunga sebesar 50 basis poin (di atas konsensus 25 bps), penurunan pertama dalam lebih dari empat tahun.

Bank Sentral AS tersebut juga merilis perkiraan ekonomi terbaru.

Para pembuat kebijakan memperkirakan total pemangkasan suku bunga sebesar 100 basis poin hingga akhir 2024, yang berarti akan ada dua penurunan tambahan sebesar 25 basis poin pada dua pertemuan terakhir tahun ini.

Meski begitu, dalam konferensi pers rutin, Ketua The Fed Jerome Powell menekankan, The Fed tidak terburu-buru melonggarkan kebijakan, dan proyeksi tingkat suku bunga yang diungkapkan bukanlah rencana kebijakan.

Pemotongan suku bunga The Fed ini diharapkan dapat mendukung pengeluaran dan perekonomian AS.

"Intinya bukan pada pemangkasan 25 atau 50 basis poin, tapi pada arah kebijakan ke depannya, dan saya rasa mereka telah memberikan pandangan bahwa ekonomi masih berjalan cukup baik," kata Jason Wong, seorang ahli strategi dari BNZ di Wellington.

"Ini bukan pemangkasan 50 basis poin yang dilakukan secara panik," ujarnya.

Para pembuat kebijakan menurunkan proyeksi suku bunga median mereka dibandingkan dengan perkiraan pada Juli. Namun, Ketua The Fed Jerome Powell menekankan, langkah-langkah selanjutnya akan bergantung pada data ekonomi yang ada.

"Saya tidak berpikir siapa pun harus melihat ini sebagai laju baru," kata Powell kepada wartawan setelah pengumuman penurunan suku bunga jumbo tersebut.

"Kami sedang menyesuaikan kebijakan secara bertahap menuju tingkat yang lebih netral. Dan kami bergerak dengan kecepatan yang menurut kami tepat, mengingat perkembangan ekonomi,” tuturnya.

Penurunan suku bunga AS secara teori memberikan ruang bagi pasar negara berkembang untuk menurunkan suku bunga kebijakan mereka dan mendukung pertumbuhan ekonomi. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.



Berita ini dikutip dari : IDX Channel

Market news, TIM RISET IDX CHANNEL 19/09/2024 09:36 WIB

IHSG Ngamuk Dekati Level 7.900 Usai BI & The Fed Pangkas Suku Bunga

 

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dibuka menguat pada awal perdagangan sesi I Kamis (19/9/2024),setelah Bank Indonesia (BI) dan bank sentral Amerika Serikat (AS) memutuskan untuk memangkas suku bunga acuannya kemarin.

Pada pembukaan perdagangan hari ini, IHSG dibuka menguat 0,62% ke posisi 7.877,41. Selang lima menit setelah dibuka, penguatan IHSG semakin bertambah yakni menanjak 0,73% ke 7.886,11. IHSG pun makin dekati level psikologis 7.900.

Nilai transaksi indeks pada awal sesi I hari ini sudah mencapai sekitar Rp 1 triliun dengan volume transaksi mencapai 1,6 miliar lembar saham dan sudah ditransaksikan sebanyak 71.688 kali.

Pergerakan IHSG pada hari ini akan dipengaruhi oleh keputusan suku bunga terbaru BI dan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed), di mana keduanya pun memangkas suku bunga acuannya.

Kemarin, BI terlebih dahulu memutuskan untuk memangkas suku bunga acuan (BI rate) sebesar 25 basis poin (bp) menjadi 6,00%, dari sebelumnya di level 6,25%. Sementara suku bunga Deposit Facility juga dipangkas menjadi 5,25%, dan suku bunga Lending Facility menjadi 6,75%.

Demikianlah disampaikan Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers, Rabu (18/9/2024).

Pemangkasan suku bunga ini adalah yang pertama sejak Februari 2021. BI mengerek suku bunga sebesar 275 bp sepanjang Agustus 2022-April 2024, sebelum kemudian menahannya pada Mei, Juni, Juli, dan Agustus 2024.

"Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 17-18 September 2024 memutuskan untuk menurunkan BI-Rate menjadi 6%," kata Perry.

Konsensus CNBC Indonesia yang dihimpun dari 17 lembaga/institusi mayoritas memproyeksikan bahwa BI masih akan menahan suku bunganya di level 6,25%. Sementara terdapat dua institusi yang memperkirakan BI akan menurunkan suku bunganya sebesar 25 kali ini menjadi 6,00%.

Setelah BI memutuskan untuk memangkas BI rate, kemudian pada Kamis dini hari waktu Indonesia, kabar baik datang lagi dari The Fed, di mana bank sentral Negeri Paman Sam tersebut memutuskan untuk memangkas suku bunga acuannya. Bahkan yang lebih mengejutkan, pemangkasan kali ini cukup besar atau hard landing yakni sebesar 50 bp menjadi 4,75-5,0%.

Pemangkasan sebesar 50 bp lebih besar dibandingkan ekspektasi pasar yang hanya 25 bp. Pemangkasan ini merupakan yang pertama sejak Maret 2020 atau empat tahun lalu saat awal pandemi Covid-19.

Seperti diketahui, The Fed mengerek suku bunga sebesar 525 bp sejak Maret 2022 hingga Juli 2023. Mereka kemudian menahan suku bunga di level 5,25-5,50% pada September 2023-Agustus 2024 atau lebih.

The Fed meyakini inflasi AS sudah bergerak menuju target kisaran mereka di angka 2% sehingga mereka akhirnya memilih untuk memangkas suku bunga. Namun, faktor utama dari pemangkasan sebesar 50 bp adalah tingkat pengangguran AS yang melambung.

"Mengingat kemajuan dalam inflasi dan keseimbangan risiko, Komite memutuskan untuk menurunkan suku bunga sebesar 50 bp," tulis The Fed dalam website resmi mereka.

Sebagai catatan, inflasi AS jauh melandai ke 2,5% (year-on-year/yoy) pada Agustus 2024, dari 3,7% pada Agustus 2023. Tingkat pengangguran mencapai 4,2% pada Agustus 2023, dari 3,8% pada Agustus 2023. Angka pengangguran bahkan sempat menyentuh 4,3% pada Juli 2024 yang merupakan rekor tertinggi sejak Oktober 2021.

Chairman The Fed Jerome Powell dalam konferensi pers menjelaskan pemangkasan suku bunga 50 bp mencerminkan keyakinan The Fed jika kebijakan tersebut bisa membantu pasar tenaga kerja tetapi tetap membawa inflasi bergerak menuju 2% secara berkelanjutan.

Powell menjelaskan mayoritas anggota Federal Open Market Committee (FOMC) mendukung pemangkasan suku bunga meskipun ada yang tidak sepakat dengan pemotongan 50 bp.

"Dot plot" yang berisikan pandangan 19 anggota FOMC juga menunjukkan bahwa 10 dari 19 menginginkan pemangkasan 50 bps lagi di sisa tahun.

CNBC INDONESIA RESEARCH


Berita ini dikutip dari : CNBC

Chandra Dwi, CNBC Indonesia
19 September 2024 09:09