Super Kawaii Cute Cat Kaoani
Tampilkan postingan dengan label BBTN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BBTN. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Februari 2025

Update Spin Off BTN Syariah, Paling Cepat Rampung April 2025


Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) membeberkan update terbaru terkait proses akuisisi PT Bank Victoria Syariah. Aksi korporasi tersebut merupakan bagian dari rencana pemisahan usaha (spin off) Unit Usaha Syariah (UUS), yaitu BTN Syariah.

Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu memperkirakan, usai penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang akan dilakukan pada Maret 2025 maka langsung dilakukan spin off.

"RUPS ini kan Maret akhir ya, jadi mungkin antara April dan Mei. Setelah akuisisi, kita spin-off," ujarnya saat ditemui di GBK Senayan Jakarta, Senin (10/2).


Nixon mengatakan, pergantian nama perusahaan akan dilakukan setelah proses akuisisi selesai. Nantinya, aset BTN Syariah akan dialihkan ke BVIS yang sudah dimiliki BTN.

"Nanti namanya kita ganti, namanya juga kita mau usulin ke pemerintah. Belum boleh dikasih tau dulu. Kalau sudah beli baru boleh kita ganti nama," ucapnya.

Harapannya, dengan pemisahan UUS Syariah ini aman menjadi motor penggerak segmen syariah dan sebagai pelengkap industri perbankan seperti PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS).

"Jadi dia akan ada dua player industri syariah di Indonesia yang besar, BSI dan BTN Syariah ini, apapun namanya nanti. Memang fokusnya BTN Syariah yang paling besar masih di perumahan," sebutnya.

"Ini juga menyebabkan masing-masing akan terus-menerus berusaha memperbaiki kualitas layanan. Kira-kira harapannya kayak gitu. Bagus kan, ada persaingan harga, ada persaingan layanan," pungkasnya.




Berita ini dikutip dari :
Romys Binekasri, CNBC Indonesia
10 February 2025 11:40

Selasa, 15 Oktober 2024

Bos BTN (BBTN) Ungkap Sudah Deal Harga Akuisisi Bank Syariah

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) sudah menyepakati harga dengan calon bank syariah yang akan menjadi cangkang untuk BTN Syariah dalam rangka spin off atau melepas unit usaha syariah (UUS). Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu mengatakan Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat atau Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA) diharapkan bisa rampung tahun ini.

"Karena ada dua dokumen. Pertama mungkin diminta oleh pemilik [bank syariah calon cangkang] yang kita lagi kerjakan dokumen itu. Saya nggak boleh kasih tau dokumennya, tapi saya sedang meminta atau memproses dua dokumen itu," kata Nixon saat ditemui di Menara BTN, Selasa (15/10/2024).

Ia mengatakan transaksi pembelian bank syariah itu bakal disepakati pada rapat umum pemegang saham (RUPS) atau rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB). Maka dari itu, Nixon menyerahkan kapan gelaran RUPSLB kepada pengendali BTN yakni pemerintah.

Meskipun begitu, ia berharap keputusan untuk mengakuisisi bank syariah itu bisa diselesaikan pada awal tahun depan. Itu demi mengejar ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mengharuskan unit usaha syariah (UUS) untuk spin off dalam dua tahun usai jumlah asetnya mencapai minimal Rp50 triliun atau sebesar 50% dari aset bank induk.

"Tapi kalau bisa sih selambat-lambatnya awal tahun lah, ya. Karena kan POJK-nya kami Harus tertib di tahun depan November 2025. Jadi kalau bisa, kami belinya bisa kelar di awal tahun depan," imbuh Nixon.

Barulah setelah itu, Nixon mengatakan peleburan bank cangkang dengan BTN Syariah dilakukan, lalu spin off dilakukan. Ia membidik spin off dapat dilakukan pada bulan Juni atau Juli.

"Jadi ada waktu enam bulan mindahin barang dari BTN ke BTN Syariah. Kurang lebih gitu idenya," jelasnya.

Sebelumnya pada bulan Juli, Nixon mengungkapkan pihaknya menyiapkan total modal sebesar Rp1,5 triliun hingga Rp6 triliun untuk pelepasan UUS tersebut. Jumlah ini supaya BTN Syariah nantinya tetap bertahan di Buku II

"Kami juga sedang menyiapkan spin off UUS Rp1,5 sampai Rp6 triliun total capital-nya, supaya dia nggak turun ke Buku I. Kita harapkan dia tetap di Buku II," ujar Nixon saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Komisi VI DPR, Senin (8/7/2024) lalu.

Seperti diberitakan sebelumnya, sumber CNBC Indonesia mengatakan bahwa BTN kini telah beralih ke PT Bank Victoria Syariah (BVS) dan nilai transaksi tersebut dikabarkan mencapai Rp1,7 triliun.



Berita ini dikutip dari : CNBC
Zefanya Aprilia, CNBC Indonesia
15 October 2024 12:17

Selasa, 01 Oktober 2024

Ada Program 3 Juta Rumah Prabowo, BTN (BBTN) Untung atau Buntung?


Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk selama masa pemerintahan Jokowi memiliki peran penting dalam mendukung program 1 juta rumah per tahun. Pada masa pemerintahan baru, Prabowo dan Gibran program itu akan dilanjutkan dan ditingkatkan menjadi 3 juta rumah per tahun. Agenda prioritas pemerintah di sektor perumahan tersebut bakal menempatkan kembali BTN sebagai tulang punggung.

Sementara itu, agenda besar pemerintah dalam menekan angka backlog perumahan telah melambungkan aset dan penyaluran kredit BTN.

Tercatat, total kredit dan pembiayaan BTN pada semester I-2024 mencapai Rp352 triliun, dibandingkan dengan Rp260,1 triliun. Sebagai informasi, BTN merupakan pemimpin pasar KPR di Indonesia dengan penguasaan market share sekitar 40%, dan menggerakkan 181 sub-sektor ekonomi serta lebih dari 7.000 pengembang perumahan dan 3.000 notaris telah bermitra dengan perseroan.

Di Indonesia, BTN menjadi bank satu-satunya yang memiliki portofolio terbesar di sektor perumahan, yakni 85% dari total kredit. Jika ditarik lebih jauh lagi, BTN telah menyalurkan kredit dan pembiayaan untuk 5,2 juta unit rumah sejak tahun 1976. 

BTN dikenal sebagai bank yang menguasai pasar KPR subsidi. Dalam setahun terakhir, BTN telah memperluas ekspansi KPR non-subsidinya ke segmen emerging affluent atau kelas menengah ke atas untuk menyediakan pertumbuhan yang berkelanjutan. 

Direktur Eksekutif Segara Research Institute Piter Abdullah mengatakan penyaluran KPR subsidi mendatangkan banyak konsekuensi, termasuk ke kinerja keuangan. Dengan menyalurkan KPR subsidi ke segmen MBR, yang besaran bunganya terbilang rendah dan tidak bisa diubah, BTN tidak dapat menikmati marjin tinggi. 

Skema KPR subsidi (FLPP) tentu berbeda dengan KUR. Bank penyalur KUR dapat menetapkan bunga kredit sesuai harga pasar tapi selisih bunganya ditanggung pemerintah. Dengan demikian, nasabah tetap dapat bunga murah dan bank penyalur tetap menikmati marjin tinggi. "FLPP tidak seperti itu. Andai skema KPR bersubsidi menggunakan skema KUR, dampak ke margin BTN pasti jauh lebih baik," kata Piter.  

Maka itu, lanjut Piter, terbilang wajar jika net interest margin (NIM) BTN terbilang tertinggal dibandingkan bank lainnya, bahkan di bawah rata-rata industri. Tekanan margin makin menjadi jadi ketika bunga acuan BI merangkak naik seiring perubahan kebijakan the Fed demi memerangi inflasi tinggi. BTN harus membayar bunga simpanan lebih mahal, sedangkan kenaikan biaya dana ini tidak bisa serta merta dikompensasikan dalam bentuk kenaikan bunga kredit.

NIM BTN sempat di bawah 3% di era bunga tinggi lantaran pendapatan bunga bersih tergerus oleh lonjakan biaya dana. "Belakangan BTN agresif mengembangkan segmen bisnis komersial dan produk high yield loan. Kombinasi antara efek penurunan bunga acuan dan inovasi di produk komersial serta bermargin tinggi, saya kira akan mengembalikan tingkat marjin atau profitabilitas BTN ke level yang ideal," kata Piter.



Berita ini dikutip dari : CNBC
Muhammad Khadafi, CNBC Indonesia
01 October 2024 12:40