Super Kawaii Cute Cat Kaoani
Tampilkan postingan dengan label PGAS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PGAS. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 November 2024

Anak Usaha PGN (PGAS) Bakal Bangun Pipa Hidrogen RI-Singapura

IDXChannel - Indonesia dan Singapura melakukan kerja sama strategis pembangunan pipa transportasi hidrogen yang menghubungkan kedua negara. Kerja sama tersebut melibatkan PT Transportasi Gas Indonesia (TGI), Sembcorp Utilities Pte Ltd. (Sembcorp), dan PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI). 

Ketiga perusahaan tersebut menandatangani Joint Development Framework Agreement (JDFA) pada 13 November 2024 di COP29 Baku, Azerbaijan. JDFA ini merupakan perjanjian mengenai kerangka kerja untuk membangun pipa transportasi hidrogen ke Singapura lewat Sumatera, dalam hal ini Kepulauan Riau.

“Kami sangat antusias dengan kerja sama ini yang memperkuat komitmen kami untuk menyediakan energi bersih bagi masa depan yang lebih berkelanjutan,” ujar Presiden Direktur TGI, A.A.P. Bagus Putra, lewat keterangan resmi yang dikutip Senin (18/11/2024)

Bagus menambahkan rencana pembangunan pipa ini merupakan bagian dari komitmen penuh perusahaan untuk mendukung target Indonesia Net Zero Emission 2060 di mana peran TGI dalam proyek ini menjadi langkah nyata menuju pencapaian target tersebut.

“Sebagai perusahaan yang telah berpengalaman dalam transportasi gas bumi di Indonesia, kami akan terus memperluas portofolio kami ke energi bersih, termasuk hidrogen hijau. Proyek pipa hidrogen ini sejalan dengan misi kami untuk memperkuat ketahanan energi dan mempercepat transisi menuju energi rendah karbon," ujarnya.

"Kami percaya kolaborasi ini akan membawa manfaat besar bagi Indonesia dan Singapura, serta memperkuat posisi PT TGI sebagai pemimpin dalam industri energi berkelanjutan,” katanya.

Sebagai informasi, TGI adalah anak perusahaan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) bersama Transasia Pipeline Company Pvt. Ltd, konsorsium Medco E&P Corridor Holding Ltd., Petronas International Corporation Ltd., SPC Indo-Pipeline Co. Ltd. TGI merupakan pemilik dan operator transportasi gas bumi di Indonesia yang melayani pasar domestik dan internasional seperti Singapura.

Sementara Sembcorp adalah anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Sembcorp Industries Pte. Ltd, perusahaan energi asal Singapura. Sedangkan PT PLN EPI adalah subholding dari PT PLN (Persero).

(Rahmat Fiansyah)



Berita ini dikutip dari :
Market news, Yanto Kusdiantono 18/11/2024 11:08 WIB

Kamis, 31 Oktober 2024

Naik 32%, Perusahaan Gas Negara (PGAS) Cetak Laba Rp4,13 Triliun

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten pelat merah PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) atau PGN melaporkan lonjakan laba yang dapat diatribusikan ke entitas induk sebesar 32,69% secara tahunan (yoy) pada kuartal III-2024.

Merujuk pada laporan keuangan terbaru dikutip dari keterbukaan informasi BEI, laba bersih produsen gas bumi tersebut per September 2024 tercatat sebesar US$263,38 juta atau sekitar Rp4,13 triliun. Sementara di tahun 2023, perseroan membukukan laba sebesar US$198,49 juta.

Dari sisi top line, perseroan membukukan pendapatan sebesar US$2,81 miliar. Capaian ini naik 4,46% dari tahun lalu sebesar US$2,69 miliar.

Direktur Utama PGN Arief S. Handoko mengatakan, kinerja operasi PGN mencatatkan kinerja volume penjualan niaga gas bumi 854 BBTUD, 57 BBTUD niaga LNG serta Terminal Use Aggreement (TUA) dan pemanfaatan kapasitas terminal LNG sebesar 69 BBTUD. Trading LNG global merupakan bisnis yang baru berjalan tahun ini sehingga berkontribusi juga atas kenaikan pendapatan terhadap tahun lalu.

Kemudian total volume transmisi gas bumi tercatat 1.527 MMSCFD dan minyak bumi sebanyak 150.716 BOEPD. Untuk bisnis lain yang dikelola anak perusahaan atau afiliasi PGN pencapaian tercatatnya dari lifting migas 20.074 BOEPD, regasifikasi LNG 144 BBTUD dan proses LPG 105 ton per hari.

Optimalisasi pengelolaan volume gas bumi ditengah tantangan natural decline pasokan gas pipa dapat dimitigasi dengan baik dan penurunan beban keuangan pasca pelunasan obligasi merupakan salah satu faktor utama yang menyokong pencapaian kinerja keuangan ini," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (31/10).

Kenaikan pendapatan PGAS dikontribusikan oleh Pelanggan industri dan komersial yang menyumbang US$1,85 miliar terhadap pos pendapatan niaga gas bumi. Sisanya, pendapatan dari Pelanggan rumah tangga dan SPBG masing-masing menyumbang sebesar US$17,0 juta dan US$2,33 juta.

Kendati turunnya pendapatan, laba PGAS terhimpit Beban Pokok sebelum pajak sebesar US$2,23 miliar. Sebelumnya, perseroan mengakumulasikan beban sebesar US$2,17 miliar.

Dari segi permodalan, per September 2024, perusahaan mencatatkan aset sebesar US$6,33 miliar. Dengan liabilitas dan ekuitas masing-masing US$2,76 miliar dan US$3,57 miliar.



Berita ini dikutip dari : CNBC
Romys Binekasri & Mentari Puspadini, CNBC Indonesia
31 October 2024 12:52

Selasa, 08 Oktober 2024

Begini Rekomendasi Saham PGN (PGAS) yang Sedang Dibayangi Krisis Pasokan

Reporter: Akmalal Hamdhi | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek bisnis PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) belum mulus. Kekhawatiran utama bagi kinerja PGAS berasal dari risiko kekurangan pasokan gas.

Analis MNC Sekuritas, Vera mengamati bahwa kinerja PGAS lesu di kuartal II-2024 tidak terlepas dari melambatnya volume distribusi gas dan volume lifting. Selain faktor hari libur yang lebih banyak di kuartal kedua, volume gas yang lebih rendah karena potensi kekurangan pasokan.

Seperti diketahui, emiten pelat merah ini membukukan pendapatan sebesar US$ 889,66 juta di kuartal kedua 2024. Hasil tersebut tercatat turun 6,29% quartal on quartal (qoq), namun bertumbuh 4,72% year on year (YoY).

Pelemahan kinerja PGAS secara kuartalan sejalan dengan perlambatan volume distribusi gas menjadi 841BBTud (-1,98% qoq dan -9,76% yoy). Kemudian, volume transmisi gas datar menjadi 1.417 MMScfd, serta volume lifting gas sebesar 1,80 MMBOE yang menurun 14,29% qoq dan 10% YoY.

Vera menyebutkan, volume PGAS lebih rendah akibat faktor musim liburan dan juga kekhawatiran tentang potensi kekurangan pasokan gas. Ini seperti yang ditunjukkan dari penurunan volume pasokan di Sumatera dan Jawa Barat, bersama dengan penurunan produksi dan aktivitas lifting dari blok Pangkah, Fasken, Ketapang, Muara Bakau, dan Muriah.

Akibatnya, PGAS mencatat spread distribusi gas turun 12,34% qoq menjadi US$ 2,16 per Mmbtu pada kuartal II-2024 dari US$ 2,46 per Mmbtu di kuartal I-2024, menyusul moderasi harga jual rata-rata (ASP) menjadi US$ 7,78 per Mmbtu dari US$ 7,94 per mmbtu pada kuartal I-2024.

Selain itu, kenaikan biaya pengadaan dan transmisi gas menjadi US$ 5,62 per mmbtu dibandingkan US$ 5,48 per mmbtu pada kuartal I-2024, turut menekan margin.

Di sisi lain, biaya operasional PGAS membengkak sekitar 65.84% qoq, sebagian besar disebabkan penyisihan kerugian penurunan nilai atas utang dari Kalijagas kepada PC Muriah LTD (PCML). Alhasil, laba bersih PGAS anjlok 45,96% qoq menjadi US$ 65,46 juta pada kuartal kedua, akibat penurunan pendapatan dan peningkatan signifikan biaya operasional.

"Pelemahan kinerja PGAS secara kuartalan sejalan dengan perlambatan volume distribusi gas," ungkap Vera dalam riset tertanggal 18 September 2024.

Namun, laba bersih PGAS di kuartal kedua, secara tahunan masih bertumbuh 10,42% YoY. Secara semesteran, laba bersih PGAS juga bertumbuh sekitar 28,41% YoY menjadi US$ 186,60 pada periode Januari – Juni 2024.

Vera menganalisis, kinerja PGAS yang lebih baik ini terutama didorong oleh beban bunga yang lebih rendah akibat deleveraging melalui pembayaran obligasi sebesar US$ 552,63 juta atau sekitar 35,67% dari total utang pada tahun fiskal 2023, yang berpotensi mengurangi biaya bunga sebesar US$ 28 juta.

Selain itu, tidak adanya penyisihan terkait sengketa pajak seperti pada tahun fiskal 2023 sebesar US$ 29,86 juta dan kontrak yang memberatkan sebesar US$ 11,69 juta, semakin mendukung raihan laba bersih.

"Kinerja keuangan PGAS tetap stabil di saat pasokan gas masih berada di titik kritis," tambah Vera.

MNC Sekuritas telah menyesuaikan kembali estimasi terhadap PGAS. Pada laba operasi diturunkan menjadi US$ 579,18 juta, namun meningkatkan perkiraan laba bersih PGAS menjadi US$ 361,10 juta dengan Net Profit Margin (NPM) sebesar 9,65% untuk tahun fiskal 2024.

Hanya saja, meskipun laba bersih diproyeksi lebih tinggi, kinerja PGAS masih perlu dipantau lebih lanjut. Hal itu karena kekhawatiran utama PGAS berasal dari risiko kekurangan pasokan gas.

Vera berujar, manajemen PGAS sebelumnya telah menyoroti aliran gas dari blok Medco E&P Grissik, berpotensi akan turun secara bertahap dari 410BBTud menjadi 129BBTud pada tahun 2028. Rencana manajemen PGAS untuk mengimpor LNG guna memenuhi permintaan  turut berpotensi menekan margin karena biaya yang lebih tinggi.

Selain itu, spread distribusi PGAS diproyeksi akan lebih sempit pada semester kedua karena biaya pasokan yang lebih tinggi. Proyeksi tersebut sejalan dengan target manajemen PGAS yang tidak merevisi spread distribusi pada kisaran US$ 1,60 – US$ 1,80 per Mmbtu untuk tahun 2024.

"Meskipun kami mengakui optimisme manajemen dalam mempertahankan target volume pada 954 BBTud untuk 2024 melalui upaya aktif untuk mengamankan sumber pasokan tambahan, kami masih mencari kejelasan lebih lanjut," jelas Vera.

Analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta mengatakan, PGAS saat ini tengah melanjutkan berbagai pembangunan infrastruktur gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) dan Gas di Semarang dan Kawasan Industri Batang (KITB) yang menghubungkan jaringan pipa Cisem-1.

Adapun Cisem-1 telah memasok beberapa pelanggan di Kendal dan Batang seperti Rumah Keramik Indonesia dan KCC Glass di Batang dan lima pelanggan di Kendal. Sebagai operator, PGAS akan menerima biaya transmisi sebesar US$0,31 per mmscfd dari Cisem-1, lebih rendah dibandingkan biaya campuran (blended fee) pada semester I-2024 sebesar US$ 0,56 per mmscfd.

Saat ini proyek Cisem-1 hanya berkontribusi sekitar 1,65 mmscfd terhadap volume transmisi gas secara keseluruhan atau sekitar 1% per Agustus 2024. Namun ke depannya, infrastruktur yang dibangun PGAS ini akan bermanfaat bagi prospek jangka panjang. Ke depannya, Cisem-2 akan menghubungkan Semarang dengan Cirebon dan direncanakan akan selesai pada kuartal IV-2025.

"Infrastruktur LNG & Gas merupakan kunci untuk volume PGAS di masa mendatang," kata Ryan dalam riset 30 September 2024.

Ryan menuturkan, manajemen PGAS tidak menampik bahwa saat ini memang sedang mengalami kekurangan pasokan gas pipa, dengan LNG merupakan satu-satunya alternatif.

Selain itu, infrastruktur lebih lanjut juga perlu dibangun untuk menyalurkan kelebihan pasokan gas di SOR 3 (Jawa Tengah & Indonesia Timur) ke SOR 1 (Sumatera) dan SOR 2 (Jawa Barat), yang telah mengalami kekurangan gas hingga sekitar 70bbtud. PGAS juga berencana untuk bekerja sama dengan PLN untuk melakukan impor LNG guna mengatasi masalah kekurangan gas.

Namun, manajemen PGAS menegaskan kembali bahwa bisnis perdagangan LNG saat ini akan ditangguhkan sementara hingga kasus Gunvor diselesaikan. PGAS memutuskan untuk tidak memasok kargo LNG yang dapat diperoleh perusahaan dari Petronas (Malaysia) ke Tiongkok.

Walaupun demikian, manajemen PGAS tetap yakin bahwa perseroan telah mematuhi kontrak Gunvor dan saat ini masih dalam proses hukum. Seperti diketahui, PGAS sebelumnya mengalami kendala dalam pengiriman LNG ke Gunvor, perusahaan yang berbasis di Singapura.

Dengan berbagai faktor tersebut, Ryan masih berhati-hati terhadap PGAS karena dibayangi risiko penurunan volume distribusi gas sebagai akibat dari situasi kekurangan pasokan saat ini. Di samping itu, spread distribusi dikhawatirkan lebih rendah, serta adanya potensi biaya satu kali termasuk tertundanya pengiriman pasokan gas ke Gunvor.

Ryan masih menyarankan hold untuk PGAS dengan target harga di Rp 1.500 per saham. Senada, Vera mempertahankan rekomendasi hold untuk PGAS, namun dengan target harga sebesar Rp 1.550 per saham.




Berita ini dikutip dari : Kontan Investasi
Reporter: Akmalal Hamdhi | Editor: Anna Suci Perwitasari
Selasa, 08 Oktober 2024 / 07:05 WIB

Senin, 30 September 2024

Saham Lo Kheng Hong (LKH) di PGAS Lebih Banyak daripada BlackRock


IDXChannel – Investor kenamaan Lo Kheng Hong (LKH) secara perlahan terus memupuk kepemilikan saham di PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS). Bahkan, porsi saham sang Warren Buffett Indonesia tersebut kini sudah melampaui raksasa investasi multinasional BlackRock.

Menurut data dari situsweb PGAS atau PGN, Lo Kheng Hong menggenggam 194.764.800 saham atau setara dengan 0,80 persen dari total saham yang dikeluarkan perseroan per 31 Agustus 2024.

LKH kini berada di posisi ketujuh dalam daftar pemegang saham terbesar PGAS, berada satu peringkat di atas BlackRock yang menduduki peringkat kedelapan dengan kepemilikan 175.434.700 saham (0,72 persen).

Pak Lo, demikian sapaan akrabnya, juga bersanding dengan perusahaan investasi beken asal Amerika Serikat (AS) lainnya, Vanguard yang memiliki 1,69 persen saham PGAS. (Lihat tabel di bawah ini.)

Sumber: situsweb PGN/PGAS

Sebelumnya, seperti yang diwartakan IDXChannel.com pada medio Mei 2024, Lo Kheng Hong masih berada di peringkat kedelapan (0,62 persen), di bawah BlackRock yang saat itu di posisi ketujuh (0,69) per 30 April 2024.

Melihat dirinya kini berada di atas kepemilikan BlackRock di PGAS, LKH mengakui, perusahaan investasi dari Negeri Paman Sam tersebut bukanlah pemain sembarangan di industri investasi.

"BlackRock adalah fund manager terbesar di dunia. Dana kelolaannya sebesar USD10 Triliun," ujarnya.

Aksi beli bertahap Lo Kheng Hong di PGAS tampaknya menyiratkan keyakinannya yang besar terhadap emiten distribusi dan transmisi gas bumi yang dikendalikan PT Pertamina (Persero) tersebut.

LKH menyebut, kepada IDXChannel.com, Jumat (27/9/2024), alasan dirinya terus mengakumulasi saham ini, “Karena PGAS adalah wonderful company.”

Pak Lo kembali mengulangi kalimat saktinya tersebut, seperti saat dihubungi IDXChannel pada Mei lalu.

Para penganjur value investing tentu mafhum bahwa Lo Kheng Hong (LKH) meminjam istilah wonderful company tersebut dari investor besar Amerika Serikat (AS) Warren Buffett.

Buffett memang dikenal dengan kutipan, “It's far better to buy a wonderful company at a fair price, than a fair company at a wonderful price.”

Apabila diterjemahkan secara bebas, “lebih baik membeli perusahaan luar biasa dengan harga wajar daripada perusahaan yang biasa-biasa saja dengan harga luar biasa."

Bisa dibilang, gaya investasi Buffett, yang juga dikhidmati LKH tersebut, mengajarkan pentingnya menilai kualitas perusahaan saat berinvestasi dengan mencari perusahaan dengan keunggulan kompetitif, model bisnis yang kuat, hingga tata kelola perusahaan yang baik.

Selain itu, Buffett juga mengajarkan untuk berfokus pada membeli saham perusahaan wonderful tersebut di harga yang wajar, bukan semata-mata mencari harga murah.

“Laba PGAS besar di kuartal II-2024, sebesar USD186,6 juta. [Artinya, PGAS] tetap solid,” kata Lo Kheng Hong, Jumat (27/9).

LKH pun berharap, “Semoga di kuartal III-2024, labanya bisa bertumbuh.”

Lebih lanjut, Lo Kheng Hong menanggapi dengan santai soal perkembangan sengketa PGAS dengan Gunvor Singapore Pte Ltd di The London Court of International Arbitration terkait keterlambatan pengiriman LNG.

“Saya tidak khawatir dengan Gunvor,” katanya.

Sebagai pengingat, Gunvor menggugat PGN karena gagal memenuhi kontrak pengiriman LNG akibat force majeure (kahar). PGN sendiri mengumumkan kondisi force majeure pada 3 November 2023. (Aldo Fernando)




Berita ini dikutip dari : IDX Channel
Market news, Aldo Fernando 30/09/2024 11:30 WIB

Kamis, 19 September 2024

Ada Saham Mendadak Merah Gegara Kabar Kurang Sedap, Lo Kheng Hong Punya Banyak

 


JAKARTA, investor.id - Saham emiten portofolio Lo Kheng Hong, PT Perusahaan Gas Negara Tbk atau PGN (PGAS) memerah pada sesi I perdagangan 19 September 2024.

Di sekitar pukul 09.55 WIB saham PGN (PGAS) ada di Rp 1.475 atau minus 1,67%, yang jadi level terendahnya dalam sepekan terakhir. Pada perdagangan 18 September kemarin saham jagoan Lo Kheng Hong ini masih hijau 0,33%.

Sebagai informasi, berdasarkan data per 30 April 2024, investor kawakan Lo Kheng Hong mengoleksi 149.978.100 (0,62%) saham PGAS dan membuatnya ada di nomor 8 pemegang saham terbesar emiten tersebut.

Saham PGN (PGAS) memerah usai perseroan menyampaikan salah satu keterbukaan informasi terbarunya. Kabar tersebut kurang sedap tentu bagi para investornya.

Sekretaris Perusahaan PGN, Fajriyah Usman menyebutkan terdapat permohonan arbitrase oleh Gunvor Singapore Pte Ltd (Gunvor) ke The London Court of International Arbitration terhadap perseroan (PGAS) berkaitan dengan Master LNG Sale and Purchase Agreement, dan Confirmation Notice.

Ia melanjutkan, PGN menghormati proses hukum yang sedang berjalan dan berkomitmen untuk tetap menjalankan peran utama dalam menyalurkan energi gas bumi bagi Indonesia, menjaga reputasi dan kesehatan finansial melalui tindakan hukum perseroan sebagai berikut.

Yakni, menunjuk tim internasional yang berpengalaman dalam bidang arbitrase untuk mewakili perusahaan, juga terus memantau situasi untuk memastikan tidak adanya gangguan terhadap operasional dan aktivitas bisnis perseroan.

Selain itu, memastikan penguatan implementasi proses manajemen risiko internal, berkomitmen memastikan transparansi dengan memberikan informasi terkini setiap perkembangan yang material dari proses arbitrase kepada para pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya.

“Perseroan optimis dengan langkah-langkah yang diambil untuk menangani perkara ini,” jelas Fajriyah Usman dalam keterbukaan informasi dikutip Kamis (19/9/2024).

Fokus Utama

Fokus utama Perusahaan Gas Negara atau PGN (PGAS), sambung Fajriyah, adalah melindungi kepentingan perusahaan dan para pemegang saham, serta memastikan penanganan kasus arbitrase dengan penuh kehati-hatian.

“Pada saat pelaporan, belum ada dampak terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan, atau kelangsungan usaha perseroan,” tambahnya.

Sebagaimana diketahui, pada 2023 lalu, emiten portofolio Lo Kheng Hong (PGAS) mengalami kondisi force majeure atas kontrak Liquified Natural Gas (LNG) dengan Gunvor Singapore Pte Ltd.
Berita ini dikutip dari : Investor Daily
Penulis : Thresa Sandra Desfika
19 Sep 2024 | 10:04 WIB

Rabu, 11 September 2024

Kian Santang (RGAS) dan PGAS Kerja Sama Garap Proyek Jargas Rp 29,5 Miliar

 

JAKARTA, investor.id – PT Kian Santang Muliatama Tbk (RGAS) resmi menjalin kerja sama dengan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) atau PGN menggarap proyek pembangunan jaringan gas (jargas) di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Kontrak kerja sama ini mencakup Proyek Jargas Gaskita di Wilayah City Gas 5 dengan nilai kontrak sebesar Rp 29,5 miliar dan berlangsung selama dua tahun.

Presiden Direktur Kian Santang Muliatama (RGAS) Edy Nurhamid Amin menyebutkan, proyek ini merupakan bagian dari upaya percepatan program jaringan gas nasional. “Proyek ini adalah langkah awal sinergi kami dengan PGN untuk mendukung percepatan pembangunan jargas bagi masyarakat,” jelas Edy dalam keterangannya, Rabu (11/9/2024).

Selain kontrak eksisting, Edy menambahkan, RGAS juga berupaya untuk terus mendapatkan kontrak baru. Saat ini RGAS sedang dalam proses mendapatkan mandat tambahan untuk Proyek Jargas Gaskita di Wilayah City Gas 2 yang meliputi Provinsi Banten, termasuk Cilegon, Serang, dan Tangerang.

Sementara itu, Direktur Infrastruktur & Teknologi PGN (PGAS) Harry Budi Sidarta optimistis proyek tersebut dapat selesai tepat waktu, berkat kolaborasi yang terjalin antara kedua perusahaan serta didukung oleh teknologi yang canggih. "Kerja sama ini diharapkan dapat mempercepat pencapaian target RPJMN, yaitu 2,5 juta sambungan jargas, dari total 1 juta sambungan yang telah terpasang saat ini," ujar Harry.

Harry menjelaskan, proyek itu akan mencakup pembangunan jargas sepanjang 60 km dan menargetkan 6.700 rumah tangga di wilayah Semarang dan Yogyakarta. Potensi permintaan jargas di Yogyakarta cukup besar, dengan estimasi mencapai 15 ribu rumah tangga. Terlebih, Yogyakarta adalah daerah wisata dengan banyak UMKM, sehingga sangat penting menyediakan energi yang bersih dan handal untuk mendukung masyarakatnya.

“PGN juga tengah melakukan pendekatan dengan Pemerintah Daerah Yogyakarta untuk memperluas jaringan gas rumah tangga di kawasan tersebut,” tambah Harry.


Berita ini dikutip dari : Investor Daily

Penulis : M. Ghafur Fadillah
 11 Sep 2024 | 12:49 WIB