KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Prodia Widyahusada Tbk. (PRDA) berencana membawa unit bisnisnya, PT Prodia Diagnostic Line (Proline), melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam dua hingga tiga tahun mendatang.
Founder & Komisaris Utama Prodia Widyahusada, Andi Wijaya mengungkapkan bahwa IPO Proline merupakan bagian dari strategi ekspansi perusahaan.
"Kami memang berencana IPO, tetapi prosesnya tidak instan. Semuanya harus dipersiapkan dengan baik. Jika sesuai jadwal, kami targetkan IPO dalam dua hingga tiga tahun ke depan," ujar Andi pada Selasa (18/2).
Proline merupakan unit bisnis Prodia Group yang bergerak di bidang Diagnostik In Vitro (IVD).
Didirikan pada 2010, perusahaan ini mulai berproduksi pada 2012 dengan berbagai produk seperti reagen kimia klinik, urine strip, produk molekuler, dan imunologi.
Pada Juni 2024, PRDA telah mengakuisisi 39% saham Proline sebagai bagian dari strategi penguatan bisnis di sektor diagnostik.
Selain itu, Proline tengah membangun pabrik baru yang dijadwalkan mulai beroperasi pada April 2025.
Dengan pabrik ini, kapasitas produksi akan meningkat hingga tiga kali lipat dibanding sebelumnya.
Dengan ekspansi ini, Proline diharapkan dapat mendukung berbagai program kesehatan pemerintah, seperti cek kesehatan gratis (CKG).
"Kami adalah satu-satunya perusahaan dalam negeri yang memproduksi reagen kimia untuk pemeriksaan gula darah dan lainnya. Sudah 15 tahun kami berinovasi, dan mutu produk kami diakui dunia, tidak kalah dengan produk impor," tegas Andi.
Langkah IPO ini diharapkan semakin memperkuat posisi Proline sebagai pemain utama dalam industri diagnostik di Indonesia serta mendorong pertumbuhan perusahaan dalam jangka panjang.
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada 41 perusahaan yang melantai di bursa melalui penawaran saham perdana (Initial Public Offering/IPO). Total dana yang dihimpun mencapai US$ 903 juta pada tahun lalu.
Angka ini mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun 2023, yang mencatat 79 saham IPO dengan perolehan dana sebesar US$ 3,6 miliar.
Berdasarkan riset dari Deloitte, sebagian besar IPO pada 2024 dilakukan oleh perusahaan berukuran lebih kecil dengan target pendanaan yang lebih konservatif, mengingat ketidakpastian yang disebabkan oleh tahun politik serta tekanan dari kondisi pasar global.
Namun, riset tersebut menyebutkan aktivitas IPO mulai kembali normal menjelang akhir tahun seiring dengan semakin jelasnya arah kebijakan domestik setelah pelantikan Presiden baru dan kepastian terkait inisiatif strategis nasional.
Nah pada tahun 2025, sejauh ini BEI mencatat ada 20 perusahaan dalam pipe line pencatatan saham. Secara rinci, satu perusahaan memiliki aset skala menengah antara Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar dan 19 perusahaan aset berskala besar di atas Rp 250 miliar. Pada Januari 2025, tercatat ada 8 perusahaan yang melantai di bursa.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas memproyeksikan calon emiten yang akan IPO di 2025 berpotensi lebih meriah dibandingkan 2024.
Pasalnya, setelah melewati tahun politik dan ketidakpastian diperkirakan mereda, sejumlah perusahaan memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai arah ekonomi, peluang, serta risiko yang ada.
Sukarno mengungkapkan ada beberapa perusahaan yang ramai dikabarkan akan melantai di bursa antara lain PT Chandra Daya Investasi dan PT Griya Idola yang bernaung di bawah konglomerat Prajogo Pangestu, PT Blu BCA dari Grup BCA, serta PT Super Bank dan PT Vidio Dot Com yang merupakan bagian dari Grup EMTK.
Sementara itu, dari sektor Badan Usaha Milik Negara (BUMN), terdapat nama-nama seperti PT Pertamina Hulu Energi dan PT Pupuk Kaltim, yang juga disebut-sebut bakal melenggang ke bursa.
"Saham-saham yang terafiliasi konglomerasi masih akan menjadi pilihan utama bagi investor, terutama konglomerasi yang secara historical memberikan kinerja saham yang signifikan dari harga IPO-nya," kata Sukarno kepada Kontan, Selasa (18/2).
Menurutnya, minat pasar terhadap saham IPO tetap tinggi, sehingga peluang penghimpunan dana dalam jumlah besar masih terbuka. Namun, tantangan utama yang perlu diperhatikan adalah sentimen negatif dari faktor eksternal yang dapat memengaruhi pasar.
Sebagai strategi investasi, Sukarno menyarankan untuk memilih saham dengan fundamental yang solid dan potensi dividen tinggi. Alternatif lainnya adalah berinvestasi pada saham konglomerasi yang secara historis mampu memberikan return besar atau memiliki probabilitas keberhasilan IPO di atas 70%.
Community Lead PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Angga Septianus, menambahkan bahwa meriahnya IPO di 2025 sangat bergantung pada kondisi pasar. Saat ini, pasar masih menghadapi ketidakstabilan akibat faktor geopolitik, perang dagang, serta potensi penurunan suku bunga yang diperkirakan hanya terjadi sekali dalam tahun ini.
"Sehingga prospek IPO menjadi lebih redup karena potensi dana yang didapatkan akan menurun karena antusiasme pasar menurun juga," ucap Angga kepada Kontan, Selasa (18/2).
Meski demikian, Angga menilai PT Chandra Daya Investasi (CDI), anak usaha dari PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) , sebagai salah satu perusahaan yang menarik untuk dinantikan saat melantai di bursa.
Angga juga menekankan saham-saham dari grup konglomerasi juga tetap menjadi pilihan menarik bagi investor, mengingat kepentingan jangka panjang mereka dalam menjaga stabilitas harga saham serta potensi pertumbuhan yang lebih terjaga.
Head of Investment Specialist PT Maybank Sekuritas Indonesia Fath Aliansyah Budiman menyampaikan saat ini pelaku pasar melihat saham-saham yang terkorelasi pada suatu emiten terutama konglomerasi memiliki tingkat probabilitas yang cukup tinggi ketika anak perusahaan atau perusahaan terafiliasi melakukan IPO.
"Memang tidak ada jaminan kenaikan, tapi sejauh ini saham-saham tersebut memiliki performa yang baik," kata Fath kepada Kontan, Selasa (18/2).
Namun, tantangan bagi investor adalah keterbatasan jumlah penjatahan saham yang diperoleh saat IPO. Oleh karena itu, strategi yang dapat diterapkan ialah menambah kepemilikan melalui pasar sekunder pasca-IPO, dengan tetap mempertimbangkan valuasi serta prospek kinerja perusahaan ke depan.
Berita ini dikutip dari : Kontan Investasi Rabu, 19 Februari 2025 / 12:40 WIB
Jakarta, CNBC Indonesia - BUMN Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID memberi sinyal terhadap rencana pencatatan saham atau IPO PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Direktur Portofolio dan Pengembangan Usaha MIND ID, Dilo Seno Widagdo, mengungkapkan bahwa perseroan membuka peluang bagi investor dalam pengembangan proyek strategis.
Dalam persiapan IPO, perseroan ingin memastikan bahwa Inalum memiliki kinerja yang baik serta prospek bisnis yang progresif sebelum memasuki pasar saham.
"Memang, MIND ID sedang menyusun equity story yang kuat untuk INALUM. Kami tidak ingin IPO INALUM sekadar melepas saham, tetapi juga membawa nilai tambah bagi investor dan industri nasional. Kami yakin INALUM akan menjadi perusahaan yang menarik bagi investor nasional maupun global," ujar Dilo dalam keterangannya, Jumat (7/2).
Saat ini, Inalum fokus pada peningkatan kapasitas smelter aluminium dan pengembangan proyek-proyek strategis, termasuk pembangunan smelter kedua.
Kapasitas smelter Inalum di Kuala Tanjung saat ini mencapai 275 ribu ton per tahun, sementara kebutuhan aluminium domestik diperkirakan mencapai 1,2 juta ton per tahun.
"Kami menargetkan peningkatan kapasitas smelter aluminium hingga tiga kali lipat, mendekati 1 juta ton per tahun. Ini akan memenuhi kebutuhan domestik dan memperkuat posisi INALUM sebagai pemain utama di industri aluminium nasional dalam mendukung swasembada," papar Dilo.
Dito menyebut, Inalum akan menjadi bagian integral dalam rantai pasok industri baterai dan kendaraan listrik nasional. Strategi ekspansi Inalum ini juga mendukung program utama Pemerintah yaitu Hilirisasi dan juga Asta Cita Presiden Prabowo.
"Kami melihat aluminium sebagai bahan baku penting bagi industri masa depan, termasuk baterai dan kendaraan listrik. Dengan memperkuat INALUM, kami juga memperkuat ekosistem hilirisasi MIND ID secara keseluruhan, sekaligus menciptakan optimisme bagi calon investor INALUM di masa depan," pungkasnya.
(ayh/ayh)
Berita ini dikutip dari : CNBC Romys Binekasri, CNBC Indonesia 07 February 2025 11:09
JAKARTA, investor.id - Bursa Efek Indonesia (BEI) mengkonfirmasi adanya rencana salah satu badan usaha milik negara (BUMN) untuk melantai di pasar modal melalui mekanisme initial public offering (IPO). Tapi belum menyebut nama BUMN yang akan menggelar IPO.
Langkah ini diharapkan dapat menjadi sumber pendanaan strategis sekaligus memperluas basis investor perusahaan BUMN tersebut.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mencapai kesepakatan awal dengan Kementerian BUMN terkait rencana IPO ini. Proses lebih lanjut akan dilakukan dalam bentuk diskusi intensif, terutama setelah transisi pemerintahan usai.
“Sebelumnya, kami sudah menyampaikan bahwa BEI telah memiliki agreement dengan Kementerian BUMN. Dengan adanya pemerintahan baru, kami optimistis diskusi dan tindak lanjut ini akan semakin lancar,” kata Nyoman kepada media di Gedung BEI, Jakarta, Senin (13/1/2025).
Nyoman menjelaskan bahwa BEI siap memberikan pendampingan penuh bagi BUMN yang ingin mencatatkan sahamnya di bursa. Pendampingan ini mencakup persiapan administratif, edukasi pasar modal, hingga strategi untuk menarik minat investor.
“Kami sedang berkomunikasi dengan pihak terkait. Harapannya, pertemuan dengan Kementerian BUMN dapat segera dilakukan dalam waktu dekat untuk membahas langkah-langkah selanjutnya,” ujar Nyoman.
Nama Perusahaan
Meski demikian, ia belum mengungkapkan nama perusahaan BUMN yang dimaksud. Hal tersebut, menurutnya, menjadi kewenangan Menteri BUMN, Erick Thohir, untuk diumumkan. “Untuk detail perusahaan mana yang akan IPO, itu lebih baik disampaikan langsung oleh Pak Erick Thohir,” tambahnya.
Rencana IPO ini diyakini akan menarik perhatian pasar, mengingat perusahaan BUMN biasanya memiliki fundamental yang kuat serta potensi pertumbuhan yang menjanjikan. Langkah ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan transparansi dan tata kelola perusahaan pelat merah.
Jika terealisasi, IPO perusahaan BUMN ini diharapkan dapat menjadi katalis positif bagi pasar modal Indonesia pada tahun 2025. BEI pun berharap langkah ini tidak hanya menjadi sumber pendanaan baru bagi perusahaan BUMN, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap perekonomian secara keseluruhan.
"Kami optimistis bahwa IPO BUMN ini akan menjadi momen penting dalam memperkuat ekosistem pasar modal dan memberikan nilai tambah bagi investor maupun masyarakat," pungkas Nyoman.
Sebelumnya Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengungkapkan bahwa tak menutup kemungkinan ada perusahaan-perusahaan pelat merah yang melakukan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) di sepanjang 2025. Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengungkapkan, dalam waktu dekat ini tampaknya belum ada korporasi pelat merah yang akan melantai di bursa.
Namun, untuk pertengahan tahun depan, Tiko memperkirakan bakal ada BUMN atau anak usaha yang melakukan IPO. Berdasarkan pengamatannya, di antara banyak perusahaan pelat merah yang ada, perusahaan sektor tambang dinilainya sebagai yang paling siap.
Perusahaan yang dimaksud yakni holding BUMN tambang atau Mining Industry Indonesia (MIND ID). Adapun, anggota MIND ID ada PT Aneka Tambang Tbk, PT Timah Tbk, PT Bukit Asam Tbk, PT Freeport Indonesia, PT Vale Indonesia Tbk, dan PT Indonesia Asahan Aluminium.
"Sementara ini belum ada ya. Belum ada yang kita lihat jangka pendek. Tapi jangka menengah menurut kami yang paling bagus untuk IPO itu di grup MIND ID," ungkap pria yang akrab disapa Tiko saat ditemui di Kawasan Cinere, Depok, Jawa Barat, Jumat (27/12/2024).
"Bisa di holding-nya, bisa di Inalum. Bisa dua-duanya, jadi kita kaji," sambungnya.
Sebagai informasi Inalum merupakan perusahaan yang bergerak di sektor produksi aluminium.
Kabar Inalum menjadi BUMN selanjutnya yang bakal IPO bukanlah isu baru. Wacana ini tersiar sejak beberapa tahun ke belakang. Tak hanya Inalum, cukup banyak BUMN atau pun anak usaha BUMN yang dikabarkan sejak beberapa waktu lalu bakal IPO.
Beberapa di antaranya seperti anak usaha PT Pertamina, yakni PT Pertamina Hulu Energi, yakni perusahaan yang khusus bergerak di sektor produksi minyak mentah.
Kemudian, anak usaha PT Pupuk Indonesia yakni PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) yang awalnya digadang-gadang bakal IPO di 2024. Tersiar juga kabar PalmCo, yang merupakan anggota holding dari PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III.
Berita ini dikutip dari : Investor Daily Penulis : Ghafur Fadillah 13 Jan 2025 | 13:56 WIB
IDXChannel -PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan perkembangan terkait penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna mengatakan, bahwa BEI memiliki perjanjian dengan Kementerian BUMN terkait IPO perusahaan pelat merah.
Pihaknya akan membahas kembali mengenai perusahaan BUMN yang akan IPO. Menurut dia, di era pemerintahan baru ini, potensi untuk membicarakan IPO perusahaan BUMN lebih terbuka.
"Sebelumnya saya sempat bilang bahwa kami dengan Kementerian BUMN ada agreement. Dengan sudah adanya pemerintahan baru, tentunya akan lebih memudahkan kami nanti untuk follow up," kata Nyoman kepada wartawan di Gedung BEI Jakarta pada Senin (13/1).
Pada saat bertemu dengan Kementerian BUMN nanti, Nyoman mengatakan bahwa BEI akan menawarkan pendampingan bagi entitas BUMN yang akan mendaftarkan diri sebagai perusahaan terbuka. Meski demikian, Nyoman tak menjawab pasti mengenai waktu pertemuan BEI dan Kementerian BUMN.
"Iya kami sedang komunikasi, secepatnya (pertemuan dilakukan)," tutur Nyoman. Sebelumnya, Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan dukungannya untuk PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) yang berencana untuk melantai di bursa.
Kementerian BUMN juga kini diketahui tengah mengkaji kemungkinan IPO antara Inalum atau MIND ID. Namun, Nyoman enggan menanggapi terkait kemungkinan dua perusahaan BUMN tersebut IPO. "Di BUMN kayaknya langsung Pak Erick yang menyampaikan di BUMN kemarin," ujar Nyoman.
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Hero Global Investment Tbk (HGII) akan menutup masa penawaran umum (offering) pada hari ini, Selasa (7/1). Setelah mencatatkan saham (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI), HGII akan mengembangkan energi baru & terbarukan (EBT) dengan dukungan dari perusahaan energi asal Jepang.
Perusahaan asal Jepang tersebut adalah Shikoku Electric Power Co. Inc. alias Yonden. Pasalnya, pemegang saham pendiri HGII dan Yonden telah menandatangani perjanjian jual beli saham bersyarat.
Yonden akan mengakuisisi 25% saham HGII setelah penawaran umum perdana saham alias Initial Public Offering (IPO).
Presiden Direktur Hero Global Investment Robin Sunyoto mengungkapkan kolaborasi dengan Yonden memberikan peluang besar bagi HGII untuk mempercepat pertumbuhan EBT. Dukungan teknis dan pengalaman Yonden dalam konstruksi, operasi dan pemeliharaan (operation and maintenance) pembangkit listrik, akan memperkuat kemampuan HGII dalam memastikan kinerja pembangkit yang stabil dan efisien.
"Pasca IPO, kami akan memiliki strategic partner yaitu Shikoku Electric Power dan bersama-sama kami akan menggabungkan sumer daya untuk mengembangkan EBT di Indonesia," ungkap Robin dalam siaran tertulis yang diterima Kontan.co.id, Senin (6/1).
Sebagai informasi, Shikoku Electric Power (Yonden) tercatat di Tokyo Stock Exchange dengan kode saham TYO:9507. Berdiri pada tahun 1951, Yonden merupakan penyedia listrik yang membangkitkan dan menjual listrik di wilayah Shikoku, Jepang.
Yonden memiliki portofolio pembangkit listrik sebesar 5.332 Megawatt (MW) yang bersumber dari hidro, thermal, nuklir dan surya.
Berdasarkan laporan per 31 Maret 2024, Yonden memiliki total aset sebesar JPY 1,62 triliun atau sekitar Rp 167 triliun, serta operating revenue sebesar JPY 787,40 miliar atau sekitar Rp 81 triliun.
Yonden juga telah melakukan investasi di perusahaan energi mancanegara lainnya. Seperti Oman, Qatar, Chile, Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, Saudi Arabia, Myanmar serta Vietnam. Adapun, pelaksanaan akuisisi 25% saham HGII akan menjadi investasi pertama Yonden di Indonesia.
Sebagai catatan, para pemegang saham pendiri akan tetap sebagai pengendali HGII dalam komposisi saham pasca IPO. Para pemegang saham pendiri menguasai 55% saham HGII. Yonden menggenggam 25% saham, dan 20% menjadi kepemilikan publik.
Rencana HGII Pasca IPO
HGII akan ekspansi proyek pembangkit listrik EBT melalui dana yang terhimpun dari IPO. Dalam aksi ini, HGII melepas sebanyak 1,3 miliar saham atau mewakili sebanyak 20% dari jumlah modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO, dengan nilai nomial Rp 25 setiap saham.
HGII mematok harga penawaran sebesar Rp 200 per saham, dalam masa penawaran umum yang berlangsung pada 3 Januari - 7 Januari 2025. Jadwal listing HGII di BEI akan berlangsung pada 9 Januari 2025.
Melalui IPO ini, HGII akan menghimpun dana segar sebesar Rp 260 miliar. Dana itu terutama akan digunakan HGII untuk ekspansi pembangkit EBT dengan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berkapasitas 25 MW dan Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) berkapasitas 10 MW.
Kedua proyek pembangkit tersebut berlokasi di Sumatera Utara. Proyek PLTA 25 MW dan PLTM 10 MW tersebut dijadwalkan memulai konstruksi pada tahun 2026, dan beroperasi secara komersial pada tahun 2028.
Selanjutnya, HGII akan meneruskan ekspansi ke berbagai sumber EBT. Tidak hanya tenaga hidro, tapi juga sumber biomassa, biogas, dan surya. HGII menargetkan total pengelolaan pembangkit hijau bisa mencapai 100 MW pada tahun 2031.
HGII turut melihat peluang ekspansi EBT dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) 2024 -2034 yang sedang dalam tahap finalisasi. Dalam RUPTL tersebut, PLN dikabarkan berencana menambah kapasitas listrik Indonesia sebesar 71.000 MW, yang sebagian besar tambahan berasal dari sumber EBT.
RUPTL tersebut menitikberatkan pada pencapaian target bauran energi bersih menuju net zero emission pada tahun 2060. "HGII siap mendukung pemerintah dan PLN dalam mencapai target penambahan kapasitas listrik terutama dari EBT yang selaras dengan RUPTL baru," tandas Robin.
Berita ini dikutip dari : Kontan Investasi Selasa, 07 Januari 2025 / 09:29 WIB
JAKARTA, investor.id - Saham emiten Agung Sedayu dan Salim Group, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) atau PIK2 melonjak 9,38% ke Rp 17.500 per akhir sesi I perdagangan 2 Januari 2025.
Saham emiten properti ini diserbu di sesi I dengan 11,37 saham diperdagangkan, frekuensi 10.274 kali, dan nilai transaksi Rp 191,24 miliar.
Saham PIK2 (PANI) laris jelang anak usahanya, yakni PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) menggelar initial public offering (IPO).
Berdasarkan prospektus ringkas yang dipublikasikan pada 2 Januari 2025, masa penawaran umum saham Bangun Kosambi Sukses mulai besok 3 Januari sampai dengan 9 Januari 2025.
Dan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) tanggal 13 Januari 2025. Bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek adalah Trimegah Sekuritas.
Dana IPO
Seluruh dana yang diperoleh dari hasil IPO ini, setelah dikurangi biaya-biaya emisi, seluruhnya digunakan oleh Bangun Kosambi Sukses (CBDK) untuk melakukan penyertaan kepada afiliasi perseroan, yaitu PT Industri Pameran Nusantara (PT IPN), dalam bentuk ekuitas, sebanyak 15.277.278 (99,93%) saham.
Dana yang diperoleh IPN akan digunakan IPN sebagai tambahan dana untuk membiayai proyek pembangunan gedung untuk tujuan meetings, incentives, conferences, exhibitions (MICE).
Kegiatan usaha Bangun Kosambi Sukses (CBDK) saat ini fokus kepada pengembangan real estate di kawasan Tangerang bersama dengan dan melalui entitas anak.
Berdasarkan catatan Samuel Sekuritas Indonesia (SSI), CBDK merupakan kontributor terbesar pendapatan induknya, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) atau PIK2. CBDK menyumbangkan 90% pendapatan dan 50,7% aset PANI tahun 2023.
Perseroan mengelola sejumlah proyek pengembangan di PIK, Jakarta Utara, residensial (Permata Hijau, Manhattan, dan Millenial Houses), serta area komersial, seperti Bizpark PIK 2, Soho Manhattan, The Bund, Millenial Shop Office, Soho Wallstreet, Asia Afrika Shop Office, Petak 9 Shop Office, Little Siam Shophouse, dan Menara Syariah.
CBDK memproyeksikan pendapatan 2024 sebesar Rp 2 triliun, tumbuh 2%, dengan net profit margin (NPM) 47%, sehingga laba bersihnya Rp 936 miliar, naik 62%.
Perseroan akan menggunakan dana hasil IPO untuk menggarap proyeksi gedung MICE di atas lahan seluas 40 hektare (ha) milik anak usaha, PT Industri Pameran Nusantara (IPN). Luasnya akan dua kali lipat dari ICE BSD, Tangerang, Banten, yang mencapai 22 ha. Saat ini, ICE BSD masih menyandang gedung MICE terbesar di Indonesia.
Saham IPO CBDK ditawarkan Rp 3.000-4.600 (saat penawaran awal), setara diskon NAV berkisar 72-79% dari total Rp 14.408 per saham. Padahal, rata-rata diskon NAV sektor properti hanya 50%.
“Merujuk angka itu, saham IPO CBDK memiliki potensi kenaikan 157% ke level Rp 7.700. Subscribe IPO CBDK,” tulis SSI, dikutip Jumat (20/12/2024).
Berita ini dikutip dari : Investor Daily Penulis : Thresa Sandra Desfika 2 Jan 2025 | 13:05 WIB
IDXChannel - PT Raharja Energi Cepu Tbk resmi menetapkan harga penawaran umum perdana saham (initial public offering atau IPO) sebesar Rp1.150 per saham. Harga tersebut merupakan batas atas dari harga penawaran awal antara Rp900-Rp1.150.
Raharja Energi berencana melepas maksimal 543,01 juta saham atau 20 persen dari modal disetor dan ditempatkan. Dengan demikian, perusahaan energi yang terlibat dalam Blok Cepu dan Blok Jabung itu berpotensi meraup dana IPO sebesar Rp624,46 miliar dengan nilai kapitalisasi pasar Rp3,1 triliun.
Seluruh dana hasil IPO, setelah dikurangi biaya-biaya emisi akan digunakan sebanyak Rp157,36 miliar akan dipinjamkan kepada anak perusahaan, PT Raharja Energi Tanjung Jabung, untuk memenuhi kewajiban pembayaran Cash Call dari PetroChina International Jabung Ltd. terkait pengelolaan Blok Jabung.
Jumlah kebutuhan dana untuk Cash Call ini sekitar USD10 juta atau setara Rp159,42 miliar, sehingga terdapat kekurangan sekitar Rp2,05 miliar yang akan ditutup dengan dana dari kas internal perseroan.
Apabila dana tersebut dikembalikan kepada perseroan, dana akan digunakan untuk pengembangan usaha, khususnya studi kelayakan pada blok-blok migas, yaitu wilayah perizinan pemerintah untuk eksplorasi, pengembangan, dan produksi minyak dan gas bumi.
Kemudian sebesar Rp34,96 miliar akan dipinjamkan kepada perusahaan asosiasi yaitu PT Petrogas Jatim Utama Cendana, yang akan digunakan untuk mendukung kegiatan operasional melalui pemenuhan kewajiban pembayaran cash call dari ExxonMobil Cepu Ltd. Lalu sisa dana akan digunakan untuk modal kerja, termasuk remunerasi karyawan, pengurus, dan pengawas , serta biaya operasional perseroan.
Perseroan dijadwalkan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 8 Januari 2025 dan akan tercatat dengan kode RATU. Saat ini, proses IPO memasuki masa penawaran umum hingga 6 Januari. Penjatahan efek akan dilakukan pada 6 Januari dan distribusi saham pada 7 Januari.
Dalam gelaran IPO kali ini, anak perusahaan PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) tersebut menunjuk dua penjamin pelaksana efek (underwriter), yakni Henan Putihrai Sekuritas (HP) dan Sucor Sekuritas (AZ). HP memboyong DAAZ dan CUAN melantai di BEI sementara AZ pernah membawa IPO emiten CYBR dan RAAM.
Bloomberg Technoz, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) menyoroti perkembangan PT Terregra Asia Energy Tbk (TGRA), yang tak kunjung merealisasikan ekspansinya.
Padahal, emiten energi baru terbarukan (EBT) itu telah menggelar initial public offering (IPO) sejak 2017.
Berdasarkan site visit yang dilakukan oleh BEI bahkan diketahui berlum ada perkembangan berarti dari rencana pembangunan proyek mini hydro power plant (PLTM).
Direktur & Corporate Secretary TGRA Daniel Tagu Dedo menjelaskan, keterlambatan proyek mini hydro perusahaan karena proses IPO yang di bawah target optimal (undersubscribed).
Sehingga, TGRA hanya memperoleh dana segar Rp110 miliar. Padahal, kebutuhan investasi untuk membangun proyek tersebut mencapai Rp1,5 triliun.
Artinya, TGRA minimal perlu memperoleh dana segar IPO Rp500 miliar, untuk kemudian bisa dikombinasikan dengan pinjaman Rp1 triliun.
"Sejak 17 Juli 2020, manajemen yang baru telah berupaya untuk memperkuat struktur permodalan dan memperoleh sumber pembiayaan. Namun, menemui kegagalan," jelas Daniel dalam surat balasan permintaan penjelasan BEI, dikutip Senin (30/12/2024).
Meski demikian, lanjut Daniel, TGRA masih mempertahankan perjanjian pembelian listrik (PPA) dengan PLN serta berhasil melakukan efisiensi untuk mempertahankan kelangsungan eksistensi perseroan.
Menurut Daniel, sejak April 2024, TGRA juga telah mendapatkan calon investor yang memiliki kapasitas keuangan yang memadai untuk membangun proyek-proyek yang dimiliki perseroan dan bahkan memiliki rencana untuk meningkatkan jumlah portfolio green energy perseroan hingga 1.000 MW.
Proyek yang sebelumnya terbengkalai juga rencananya akan segera dilanjutkan.
Pembangunan PLTM Sisira ditargetkan akan dimulai pada kuartal I-2025. Kemudian, PLTM Batang Toru-3 dan 4 ditargetkan dibangun pada kuartal III-2025.
Kemudian, PLTM Raisan Naga Timbul dan Raisan Huta Dolok ditargetkan akan dibangun pada kuartal IV-2025.
TGRA IPO di harga Rp200/saham. Harga sahamnya sempat terus naik, bahkan melampaui kisaran Rp800/saham pada 2019. Namun, saham TGRA saat ini hanya diperdagangkan di level Rp29/saham.
JAKARTA, investor.id - Perusahaan energi terbarukan PT Hero Global Investment Tbk (HGII) berencana melakukan penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) sebanyak 1,3 miliar (20%) saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Perseroan membuka harga penawaran awal di kisaran Rp 200-230/saham. Sehingga nilai keseluruhan IPO HGII sebanyak-banyaknya Rp 299 miliar.
Masa penawaran awal (bookbuilding) pada 18-23 Desember 2024. Bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek adalah OCBC Sekuritas dan UOB Kay Hian Sekuritas.
Seiring rencana itu, HGII mengumumkan kemitraan strategis dengan perusahaan terbuka di Tokyo Stock Exchange yaitu Shikoku Electric Power Company Inc atau Yonden (TYO:9507) yang bergerak di bidang pembangkit sekaligus penjualan listrik di wilayah Shikoku, Jepang.
Presiden Direktur HGII Robin Sunyoto berharap kemitraan ini menjadi tonggak penting untuk meningkatkan pembangkit energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia, seiring keahlian Yonden dengan portofolio pembangkit EBT lebih dari 1.000 megawatt (MW).
Yonden melalui anak perusahaannya yaitu SEP International Netherlands BV (SEPI) telah menandatangani perjanjian jual beli saham bersyarat dengan pemegang saham pengendali HGII pada 8 November 2024.
Peluang Besar
SEPI akan bergabung menjadi salah satu pemegang saham Hero Global Investment (HGII) melalui transaksi jual beli sebagian saham milik pemegang saham pengendali, paling lambat satu bulan setelah HGII melantai di BEI.
"Setelah transaksi itu, pemegang saham pengendali tetap memiliki pengendalian atas HGII dengan kepemilikan mayoritas sebesar 55 persen dan SEPI sebesar 25 persen," ujar Robin sebagaimana dilansir Antara, Jumat (20/12/2024).
Robin menjelaskan, struktur kepemilikan saham ini mencerminkan komitmen kedua belah pihak untuk menggabungkan kekuatan dalam mengembangkan HGII di sektor energi terbarukan di Indonesia.
“Kolaborasi dengan Yonden memberikan peluang besar bagi HGII mempercepat pertumbuhan energi terbarukan di Indonesia. Sejalan dengan tujuan nasional untuk mencapai net zero emission pada tahun 2060, HGII berkomitmen memperluas portofolio energi terbarukan," ujar Robin
Robin menjelaskan, rencana ekspansi HGII dalam mengembangkan energi terbarukan ke depan, di antaranya pembangkit listrik tenaga air (PLTA), pembangkit listrik tenaga minihidro (PLTM), pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBg), serta pembangkit listrik tenaga biomassa (PLTBm) dengan target kapasitas hingga 100 MW pada 2031.
Ia mengatakan, dukungan teknis dan pengalaman Yonden pada tahap pengembangan dan pembangunan proyek serta dalam hal O&M (operation and maintenance) akan memperkuat kemampuan HGII dalam pengelolaan pembangkit listrik secara optimal dan berkelanjutan.
“Bersama dengan Yonden, HGII optimis memberikan kontribusi signifikan bagi industri energi terbarukan di Indonesia,” ujar Robin.
Berita ini dikutip dari : Investor Daily Penulis : Thresa Sandra Desfika 20 Des 2024 | 15:09 WIB
IDXChannel - Perusahaan holding energi terbarukan PT Hero Global Investment Tbk (HGII) siap memulai gelaran penawaran umum perdana saham (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Saat ini, HGII telah memasuki masa bookbuilding atau penawaran awal, dengan rentang harga di kisaran Rp200-Rp230 per saham, menurut laman e-IPO, diakses Jumat (22/12/2024).
Menjelang penawaran perdana, manajemen HGII mengumumkan kedatangan investor Jepang, yakni Shikoku Electric Power Company, Inc (Yonden).
Yonden merupakan emiten yang tercatat di Tokyo Stock Exchange dengan kode saham TYO:9507, yang bergerak di bidang pembangkitan sekaligus penjualan listrik di wilayah Shikoku, Jepang.
Presiden Direktur HGII, Robin Sunyoto mengatakan, perseroan dan Yonden menjalin kemitraan strategis untuk mendukung pengembangan EBT di Indonesia.
“Kolaborasi dengan Yonden memberikan peluang besar bagi HGII mempercepat pertumbuhan energi terbarukan di Indonesia,” kata Robin dalam keterangan resmi, Jumat (20/12).
Yonden, melalui entitas anaknya, SEP International Netherlands B.V (SEPI) juga telah menandatangani perjanjian jual beli saham bersyarat dengan pengendali HGII pada 8 November 2024.
Robin menuturkan, SEPI berencana bergabung menjadi salah satu pemegang saham HGII melalui transaksi jual beli sebagian saham milik Pemegang Saham Pengendali, paling lambat satu bulan setelah HGII listing di Bursa Efek Indonesia.
Setelah transaksi tersebut, pengendali HGII tetap memiliki pengendalian atas HGII dengan kepemilikan mayoritas sebesar 55 persen, dan SEPI sebesar 25 persen.
“Struktur kepemilikan saham ini mencerminkan komitmen bersama dari kedua belah pihak untuk menggabungkan kekuatan dalam mengembangkan HGII di sektor energi terbarukan di Indonesia,” kata Robin.
Sesuai indikasi jadwal, periode bookbuilding HGII berlangsung sejak 18-23 Desember 2024. Sementara masa IPO dimulai pada 3-7 Januari 2025, dengan pencatatan perdana pada 9 Januari 2025.
HGII telah menunjuk dua penjamin pelaksana emisi efek, yakni PT OCBC Sekuritas Indonesia, dan PT UOB Kay Hian Sekuritas.
IDXChannel - Penawaran umum perdana saham PT Daya Intiguna Yasa Tbk (MDIY) yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pagi ini, Kamis (19/12/2024), menjadi gelaran terakhir IPO sepanjang 2024.
Mengacu data BEI, terhitung sebanyak 37.225 investor turut meramaikan IPO MDIY di pasar perdana. Perusahaan ritel itu menjadi emiten ke-41 yang tercatat sepanjang 2024.
Saham MDIY cukup fluktuatif setelah bel pembukaan pagi ini. Sempat menyentuh auto reject bawah (ARB), MDIY rebound hingga menguat 9,39 persen Rp1.805 per saham.
Transaksi bersih (net) menjelang penutupan sesi pertama mencapai Rp619 miliar, dengan volume 369 juta saham. Alhasil, kapitalisasi pasar MDIY menembus Rp45,6 triliun hingga pukul 11:38 WIB atau tumbuh sejak pencatatan perdana senilai Rp41,5 triliun.
Dari total saham yang ditawarkan manajemen MDIY kepada publik sebanyak 2,5 miliar saham, terjadi kelebihan permintaan (oversubscribed) sebesar 1,04 kali.
Presiden Direktur MDIY Edwin Cheah mengatakan, perusahaan fokus memanfaatkan peluang pertumbuhan makro, sekaligus memperluas segmen pelanggan.
“Kami berkomitmen tetap relevan dengan kebutuhan pasar yang dinamis, terutama di sektor peralatan rumah tangga,” kata Edwin di Jakarta, Kamis (19/12/2024).
Sebagai catatan, dana IPO MDIY terkumpul sebesar Rp4,15 triliun. MDIY menawarkan ke publik dengan harga perdana Rp1.650 per lembar.
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Raja Roti Cemerlang Tbk berencana untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan dana segar yang dibidik sebesar-besarnya Rp61,21 miliar.
Berdasarkan prospektus, Perusahaan produsen tepung roti atau breadcrumbs ini akan melepas sebanyak-banyaknya sebesar 291.500.000 lembar saham atau mewakili maksimal 30,01% dari jumlah seluruh modal ditempatkan.
Perseroan menetapkan harga penawaran umum saham perdana alias Initial Public Offering (IPO) sebesar Rp 200-210 prr saham. Artinya, perseroan akan menerima dana segar sebanyak-banyaknya sebesar Rp 61,21 miliar.
Saham yang Ditawarkan dalam rangka Penawaran Umum Perdana Saham adalah saham baru yang dikeluarkan dari portepel Perseroan, yang akan memberikan hak yang sama dan sederajat kepada pemegang saham lainnya dari Perseroan yang telah ditempatkan dan disetor penuh, termasuk antara lain hak atas pembagian dividen dan hak untuk mengeluarkan suara dalam RUPS.
Pada aksi korporasi ini, calon emiten dengan kode ticker BRRC telah menunjuk NH Korindo Sekuritas sebagai Penjamin Pelaksana Emisi Efek.
Selain saham, Raja Roti Cemerlang (BRRC) juga akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 145.750.000 waran seri I secara gratis bagi pemegang saham baru. Setiap pemegang 2 saham baru berhak memperoleh 1 waran seri I.
Adaoun setiap waran memberikan hak kepada pemegangnya untuk menebus 1 saham perseroan di Rp 210. Total dana dari pelaksanaan waran seri I maksimal Rp 30,60 miliar.
Sementara itu, seluruh dana yang diperoleh dari hasil IPO dan pelaksanaan waran akan digunakan oleh perseroan untuk modal kerja.
Sebagai informasi, BRRC akan memulai masa penawaran awal (bookbuilding) pada 18-20 Desember 2024. Sementara masa penawaran umum diperkirakan pada 3-7 Januari 2025, dan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 9 Januari 2025.
Berita ini dikutip dari : CNBC Mentari Puspadini, CNBC Indonesia 18 December 2024 09:35