JAKARTA, investor.id - Saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) melompat 3,25% ke Rp 2.860 pada perdagangan 11 Desember 2024 kemarin.
Sebanyak 140,61 juta saham TLKM ditransaksikan, frekuensi 18.689 kali, dan nilai transaksi Rp 400,69 miliar.
Bahkan saham TLKM diakumulasi. Broker CLSA Sekuritas mencatatkan net buy Rp 84,8 miliar, Maybank Sekuritas net buy Rp 54,8 miliar, dan JP Morgan Sekuritas net buy Rp 27,4 miliar.
Asing memborong saham emiten telekomunikasi ini dengan mencatatkan nilai transaksi beli keseluruhan Rp 286 miliar, dan net buy Rp 151 miliar.
Saham Telkom melompat saat PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) mengumumkan rancangan merger ke publik kemarin. Pada perdagangan 10 Desember TLKM juga naik 1,09%, setelah sebelumnya merah beruntun pada 5, 6, dan 9 Desember.
Saham Telkom melompat saat PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) mengumumkan rancangan merger ke publik kemarin.
Sebagaimana disebutkan dalam siaran pers rencana merger EXCL dan FREN, konsolidasi strategis ini sejalan dengan tujuan pemerintah untuk memastikan alokasi spektrum yang efisien dan menciptakan struktur pasar yang lebih sehat dan bermanfaat kepada seluruh masyarakat.
Sebelumnya diberitakan, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham TLKM dengan target harga berbasis discounted cash flow (DCF) sebesar Rp 4.250.
Strategi FMC (fixed mobile convergence) PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) diyakini mampu mendorong pertumbuhan kinerja perseroan. Strategi itu menawarkan potensi kenaikan terbesar, dengan memanfaatkan captive market yang substansial dan konsolidasi trafik jaringan.
Katalis Pendukung
Strategi FMC merupakan layanan yang menggabungkan jaringan fixed broadband dan internet mobile. “Kami mengantisipasi potensi cross-selling yang kuat melalui penawaran FMC, yang makin didukung oleh sistem penagihan tunggal pada kuartal IV-2024 atau kuartal I-2025,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas, Niko Margaronis dalam risetnya.
Telkom melalui anak usahanya, PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), juga telah meluncurkan beberapa inisiatif produk untuk memperluas dan memperdalam pasar.
Menurut Niko, Telkom memiliki katalis pendukung strategi FMC agar mulai membuahkan hasil. Beberapa katalisator menunjukkan potensi pemulihan pada kuartal IV-2024, yaitu stabilisasi belanja konsumen pada Oktober 2024, kenaikan harga sejumlah paket layanan, dan musim yang kuat (pemilu, hari libur, Lebaran 2025).
BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan pertumbuhan pendapatan sebesar 2% qoq untuk Telkomsel dan sektornya pada kuartal IV-2024, yang akan menjadi landasan positif untuk tahun 2025. Sementara itu, pada kuartal III-2024, pendapatan Telkom – emiten berkode saham TLKM – turun 2,7% qoq. Margin EBITDA inti TLKM juga kontraksi 140 bps menjadi 50,6%, yang mencerminkan lemahnya kondisi makro.
Berbeda dengan pesaing, TLKM mempertahankan kepemilikan aset fiber, dengan InfraCo siap dimonetisasi pada 2025-2026. “Kami memperkirakan margin EBITDA minimal tetap 51%, dengan neraca yang relatif tanpa leverage,” sebut Niko.
Berita ini dikutip dari : Investor Daily
Penulis : Thresa Sandra Desfika
12 Des 2024 | 07:28 WIB





0 comments:
Posting Komentar