Dalam survei tersebut, Indeks Ekspektasi Kondisi Makroekonomi (IKM) pada kuartal III-2024 berada pada level optimistis dengan indeks yang meningkat cukup signifikan menjadi 59 dari 31 pada triwulan II-2024.
Sbpo menghasilkan suatu Indeks Orientasi Bisnis Perbankan (IBP), yaitu indeks komposit yang menunjukkan persepsi dengan rentang nilai 1 sampai dengan 100. Angka lebih dari 50 menunjukkan persepsi optimistis, indeks sama dengan 50 menunjukkan persepsi stabil, dan indeks kurang dari 50 berarti pesimistis.
Sementara itu, suku bunga acuan BI-Rate diperkirakan tetap terjaga stabil seiring dengan upaya Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global, selain itu juga untuk menjaga para investor asing agar tetap tertarik untuk menempatkan dana di Indonesia.
Sebagai informasi, The Fed telah memberikan sinyal pemangkasan FFR namun demikian diperkirakan pemangkasan tersebut baru akan dilaksanakan pada triwulan III-2024. BI diperkirakan baru akan menurunkan BI-Rate pada triwulan IV-2024 setelah penurunan FFR.
Selanjutnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serika diperkirakan menguat dari Rp16.421/USD (kurs tengah 28 Juni 2024). Perkiraan menguatnya nilai tukar tersebut utamanya didorong oleh penguatan ekspektasi penurunan suku bunga The Fed pada triwulan III-2024 dan penguatan imbal hasil portofolio Indonesia, termasuk Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN), kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang baik serta dukungan pemerintah terhadap upaya menjaga stabilitas kurs.
Sebanyak 93 bank menjadi responden Sbpo. Seluruh bank tersebut menyumbang 90,78% dari total aset perbankan umum di Indonesia.
Berita ini dikutip dari : CNBC





0 comments:
Posting Komentar