Super Kawaii Cute Cat Kaoani
Tampilkan postingan dengan label Okt324. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Okt324. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Oktober 2024

Kinerja Emiten Kawasan Industri Masih Penuh Tantangan, Simak Rekomendasi Sahamnya

    Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten kawasan industri dilihat masih akan dapat banyak tantangan, meskipun ada sejumlah sentimen positif yang menghampiri di akhir tahun 2024.

Asal tahu saja, Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 6% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan Oktober 2024.

Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) juga mencatatkan realisasi investasi kuartal III 2024 sebesar Rp 431,38 triliun. 

Secara terperinci, realisasi penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp 232,65  triliun, tumbuh 18,55 % yoy. PMA masih menjadi penyumbang terbesar realisasi investasi pada periode kuartal III tahun ini, dengan kontribusi sebesar 53,92%. 

Di sisi lain, BI mencatat kinerja lapangan usaha (LU) industri pengolahan pada kuartal III 2024 tetap terjaga dan berada pada fase ekspansi tercermin dari Purchasing Manufacturing Index (PMI) BI kuartal-III 2024 sebesar 51,54%. 

Adapun indeks di atas 50 menandakan industri manufaktur sedang dalam fase ekspansi. Meski begitu, indeks PMI BI ini tercatat melambat bila dibandingkan kuartal II 2024 yang mencapai  51,97%.

Vice President of Investor Relations PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) Erlin Budiman mengungkapkan, pendapatan prapenjualan perseroan alias marketing sales lahan hingga bulan September 2024 meningkat 2,706% secara tahunan alias year on year (YoY) menjadi 142 hektare senilai Rp 1,749 triliun.

“Ini naik dari 5 ha senilai Rp 88 miliar pada akhir kuartal III 2023,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (17/10).

Kontrak baru anak usaha SSIA, PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA), meningkat sebesar 49% YoY menjadi Rp 3,417 triliun hingga akhir September 2024. 

“Sementara itu, jumlah okupansi kamar perhotelan di akhir kuartal III-2024 meningkat sebesar 9% YoY menjadi 329.035 kamar,” tuturnya.

Sementara itu, Founder Stocknow.id Hendra Wardana mengatakan, keputusan BI untuk menahan suku bunga di level 6% memberikan stabilitas bagi sektor properti industri, terutama dalam hal pembiayaan dan investasi. 

Di tengah suku bunga yang relatif tinggi, emiten properti industri tetap memiliki prospek positif karena berkurangnya risiko kenaikan suku bunga lebih lanjut. 

Hal ini dapat memberikan ruang bagi perusahaan untuk menjaga struktur biaya mereka dan menarik lebih banyak investor, terutama dengan catatan realisasi investasi BKPM yang mencapai Rp 431,38 triliun hingga kuartal III 2024. 

“Sektor properti industri umumnya mendapatkan manfaat dari aliran investasi ini, terutama yang terkait dengan pengembangan kawasan industri dan logistik,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (17/10).

Namun, kinerja saham emiten properti industri belum sepenuhnya mencerminkan fundamental keuangan mereka. Kinerja saham SSIA, PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS), dan PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) dilihat menunjukkan stabilitas harga yang cenderung sejalan dengan ekspektasi pasar terhadap perkembangan kawasan industri.

Melansir RTI, kinerja saham SSIA sudah naik 183,41% sejak awal tahun alias year to date (YTD) dan saham KIJA naik 37,31% YTD. Sementara, kinerja saham DMAS turun 0,61% YTD.

“Namun, volatilitas di pasar seringkali disebabkan oleh faktor makroekonomi lain, seperti perlambatan di sektor manufaktur,” paparnya.

Melemahnya sektor manufaktur memang dapat memberikan tekanan pada segmen lahan industri, karena permintaan untuk ekspansi pabrik atau fasilitas baru bisa menurun. Meskipun demikian, banyak emiten di sektor ini yang mampu mendiversifikasi pendapatan mereka dari segmen bisnis lain.

“Segmen bisnis properti komersial, residensial, dan pengelolaan aset, yang masih memberikan kontribusi positif terhadap kinerja mereka,” ungkapnya.

Di kuartal III-2024 dan kuartal IV-2024, kinerja emiten properti industri diprediksi akan tetap solid. Sentimen positif yang akan menopang kinerja mereka di antaranya adalah realisasi investasi yang tinggi, program pemerintah dalam mendorong industrialisasi dan pengembangan kawasan strategis. 

Namun, tantangan bagi para emiten properti industri masih ada, terutama dari sisi lemahnya pertumbuhan sektor manufaktur yang dapat menekan permintaan lahan industri baru. 

Untungnya, beberapa emiten seperti DMAS dan SSIA telah mengamankan kontrak besar di segmen kawasan industri, yang dapat menopang kinerja mereka hingga akhir tahun 2024.

”Segmen lahan industri masih menjadi kontributor utama bagi kedua emiten itu, namun pertumbuhan bisnis dari aset lain, seperti pengembangan properti residensial atau fasilitas logistik, juga memberikan buffer yang kuat,” paparnya.

Hendra pun merekomendasikan beli untuk DMAS dengan target harga di Rp 179 per saham. Alasannya, karena prospek pengembangan kawasan industri yang kuat dan basis investor asing yang stabil. 

KIJA juga mendapatkan rekomendasi beli dengan target Rp 200 per saham, karena didukung oleh eksposur yang besar pada kawasan industri di Jawa Barat yang terus berkembang. 

Sementara itu, SSIA direkomendasikan beli dengan target harga Rp 1.330 per saham. Sebab, portofolio lahan industri SSIA yang besar dan diversifikasi bisnis yang kuat, terutama dari segmen kontraktor dan hotel yang juga mulai pulih.

Analis Kiwoom Sekuritas Vicky Rosalinda melihat, kinerja keuangan emiten properti industri secara umum masih bagus di semester I 2024. Namun, laba KIJA di semester I 2024 tercatat menurun 75,69% YoY.

Di sisi lain, kinerja saham SSIA dan KIJA yang naik didorong oleh para emiten yang fokus pada ekosistem kendaraan listrik. 

”Meskipun kinerja saham DMAS turun, tetapi perseroan masih fokus pada bisnisnya yang menjadi satu-satunya kawasan yang memiliki 15 penyedia data center tier-IV,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (17/10).

Menurut Vicky, untuk KIJA dan DMAS, segmen bisnis yang mendominasi masih berasal dari penjualan lahan industri. Sedangkan, segmen bisnis yang menopang kinerja SSIA justru berasal dari jasa konstruksi. 

Penahanan suku bunga BI dan realisasi investasi kuartal III 2024 yang sebesar Rp 431,38 triliun juga dilihat akan berdampak positif pada kinerja para emiten properti kawasan industri, setidaknya hingga akhir tahun 2024. 

Sentimen positif utama penggerak sektor ini adalah penurunan suku bunga, perkembangan teknologi yang mendorong permintaan, kenaikan harga tanah, serta kerjasama emiten dengan sejumlah perusahaan besar. 

Sementara, sentimen negatif yaitu perlambatan ekonomi global, ketidakpastian geopolitik, dan penurunan permintaan. 

“Sayangnya, melemahnya sektor manufaktur dapat memberikan sentimen negatif pada emiten,” paparnya.

Vicky pun merekomendasikan buy on weakness untuk SSIA dengan target harga di Rp 1.280 - Rp 1.300 per saham. Sementara, KIJA dan DMAS masih direkomendasikan wait and see terlebih dahulu.




Berita ini dikutip dari : Kontan Investasi
Kamis, 17 Oktober 2024 / 20:05 WIB
Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Anna Suci Perwitasari

Rabu, 16 Oktober 2024

Tumbuh Positif Sejak Awal Tahun, Cermati Rekomendasi Saham IDX High Dividend 20

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Performa IDX High Dividend 20 tengah mengalami tren penguatan. Berdasarkan data statistik Bursa, Rabu (15/10) indeks ini mencatatkan pertumbuhan positif 1,45% secara year to date (ytd).

Analis Stocknow.id Abdul Haq Alfaruqy mengatakan prospek emiten yang menghuni pada indeks ini  berpotensi mencatatkan kinerja yang positif dari segi fundamental maupun pergerakan harga saham. Hal ini didasari oleh kestabilan ekonomi di Indonesia pasca pemangkasan suku bunga Indonesia dan Amerika Serikat (AS).

Abdul mengungkapkan, untuk emiten-emiten perbankan masih menjadi incaran para investor karena melihat pertumbuhan shareholder dari masing-masing emiten seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI)  pada bulan September lalu. 

Di sisi lain, sektor bahan baku dan energi juga akan terdampak positif dari stimulus China pada penghujung tahun 2024 nanti.

"Mayoritas emiten di dalam konstituen IDX High Dividen 20 memiliki fundamental yang cukup baik, serta pergerakan yang tidak terlalu fluktuatif," kata Abdul kepada Kontan, Selasa (15/10).

Adapun sentimen pendukung dapat dilihat dari ketahanan ekonomi di Indonesia sepanjang semester-I 2024, di mana saham-saham perbankan mencatatkan kinerja yang positif di saat era suku bunga tinggi. 

"Lalu saham-saham pada sektor basic material yang terdampak positif dari kenaikan harga emas dunia, dan nilai tukar rupiah juga ikut turut memberikan kontribusi terhadap sektor konsumer," ujarnya.

Adapun emiten-emiten yang berpotensi membagikan dividen pada akhir tahun, seperti PT Adaro Energy Tbk (ADRO) dengan potensi dividen mencapai Rp 203,8 per lembar saham dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dengan potensi dividen mencapai Rp 66 per lembar saham.

Abdul merekomendasikan untuk buy saham ADRO di harga Rp 3.880 dengan target harga Rp 4.000-Rp 4.060 dan buy saham UNVR pada harga Rp 2.350 dengan target harga Rp 2.490-Rp 2.600.

"Angka potensi dividen diperoleh dari rata-rata 3 tahun terakhir," jelasnya.

Sementara itu, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas menilai, pertumbuhan kinerja IDX High Dividend 20 yang tumbuh tipis tersebut dikarenakan ada sejumlah saham yang turun signifikan seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) yang masing-masing mencatatkan penurunan sebesar 14,06% ytd dan 25,57 ytd.

Kendati begitu, Sukarno menjelaskan, secara prospek emiten yang berada dalam indeks ini masih bagus. Dirinya memproyeksikan indeks ini masih bisa tumbuh positif hingga akhir tahun.

Sentimen pendukungnya ialah transisi pemerintahan baru yang diyakini disambut pelaku pasar dan berharap akan memberikan dampak positif ke pertumbuhan ekonomi seiring kebijakan yang dikeluarkan nanti.

"Emiten yang biasanya bagi dividen di sisa akhir tahun yaitu BBCAADROITMG dan UNVR," ucap Sukarno kepada Kontan, Selasa (15/10).

Para investor bisa mencermati indeks ini terutama saham yang masih mengalami penurunan seperti BBRITLKMASIISMGRANTM. Sebab secara fundamental cukup solid dan valuasi sudah lebih menarik.

Sukarno merekomendasikan untuk mencermati sejumlah saham yang tergabung pada indeks ini, meliputi BBRI dengan target harga Rp 6.000 per saham, ANTM di target harga Rp 1.640 per saham, TLKM pada target harga Rp 3.400 per saham.

Kemudian, cermati juga saham SMGR di target harga Rp 4.450 per saham, AMRT di target harga Rp 3.500 per saham, INKP pada target harga Rp 9.700 per saham, lalu ADRO di target harga Rp 3.990 per saham dan ASII dengan target harga Rp 5.400 per saham.




Berita ini dikutip dari : Kontan Investasi
Rabu, 16 Oktober 2024 / 06:50 WIB
Reporter: Rashif Usman | Editor: Putri Werdiningsih

Selasa, 15 Oktober 2024

Investor Sambut Positif Sri Mulyani, IHSG Dibuka Menguat 0,45%


Bloomberg Technoz, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini, Selasa (15/10/2024), dibuka menguat. Pada pukul 9.10, indeks mencatat kenaikan 33,72 poin atau setara dengan menguat 0,45% ke level 7.593.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia, volume perdagangan tercatat 2,75 miliar saham dengan nilai transaksi Rp1 triliun. Adapun frekuensi yang terjadi sebanyak 105.334 kali.

Sebanyak 203 saham menguat, dan 156 saham melemah. Sementara, 205 saham tidak bergerak.

Sentimen pada perdagangan hari ini utamanya datang dari dalam negeri. Sentimen positif yang potensial utamanya hadir dari 'Kepastian' kursi Menteri Keuangan di kabinet Presiden Terpilih Prabowo Subianto akan tetap diduduki oleh Sri Mulyani Indrawati. Terlebih, investor asing kemungkinan akan menyambut positif penunjukan lagi SMI.

“SMI dikenal sebagai sosok yang bertangan dingin mengonsolidasikan fiskal, seorang ahli keuangan yang cerdas yang tahu cara menurunkan premi risiko bagi Indonesia. SMI pada dasarnya telah menurunkan premi risiko rupiah,” kata Vishnu Varathan, Head of Economic and Strategy Mizuho di Singapura.

Pada momen transisi, kepemimpinan SMI menurutnya bisa meringankan beberapa kecemasan terkait risiko fiskal Indonesia ke depan.

Menteri Keuangan RI saat ini, Sri Mulyani dipanggil oleh Presiden Terpilih Prabowo Subianto pada Senin malam di kediamannya di Kertanegara, Jakarta.

Ia menyebut telah diminta oleh Prabowo untuk kembali menjadi menteri keuangan.

“Saat pembentukan kabinet, beliau meminta saya untuk kembali menjadi Menkeu lagi,” ujar Sri Mulyani usai bertemu Prabowo kepada wartawan.

Sri Mulyani mengatakan, Prabowo juga ke depan akan serius memperkuat keuangan negara untuk mendukung program pemerintah ke depan.

Ketegangan Timur Tengah Reda

Selain itu, meredanya ketegangan di Timur Tengah dengan sinyal terbaru Israel tidak akan menyerang fasilitas minyak Iran, telah membuat harga minyak dunia kembali stabil. 

Seperti yang diwartakan Bloomberg News, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan kepada Pemerintahan Biden bahwa ia bersedia melakukan serangan militer, (Terhadap) yang bukan fasilitas minyak atau nuklir Iran, Washington Post melaporkan, mengutip dua pejabat mengetahui hal tersebut.

Analis BRI Danareksa Sekuritas memaparkan, IHSG mulai memantul dari area support MA-60 sesuai antisipasi sebelumnya.

“IHSG berpotensi menguji resistance terdekat di area 7.647,” papar BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya pada Selasa (15/10/2024).

BRI Danareksa juga memberikan catatan, waspadai penurunan lebih dalam jika IHSG Kembali turun di bawah support 7.454.

Bersamaan dengan risetnya, BRI Danareksa memberikan rekomendasi saham hari ini, BRPT, CPIN, PTBA, dan UNVR.


Berita ini dikutip dari : Bloombergtechnoz.com
Muhammad Julian Fadli
15 October 2024 09:18

Senin, 14 Oktober 2024

Saham Antam (ANTM) Lagi Bagus

JAKARTA, investor.id - Saham PT Aneka Tambang Tbk atau Antam (ANTM) kembali menghijau di sesi I perdagangan 14 Oktober 2024 ini. Di sekitar pukul 09.45 WIB saham Antam ada di posisi Rp 1.590 atau +1,60%.

Sebelumnya pada perdagangan 10 dan 11 Oktober saham ANTM juga selalu menghijau masing-masing +1,32% dan +1,95%.

Pada perdagangan 11 Oktober, saham Antam banyak diakumulasi. Di mana broker Verdhana Sekuritas membukukan net buy Rp 30,8 miliar, dan JP Morgan Sekuritas net buy Rp 15,3 miliar.

Saham ANTM juga diborong asing di 11 Oktober. Di mana asing mencatatkan net buy sebesar Rp 33 miliar.


Rekomendasi

Mandiri Sekuritas dalam analisa teknikalnya untuk perdagangan 14 Oktober merekomendasikan saham Aneka Tambang atau Antam (ANTM) untuk swing trade.

Mandiri Sekuritas menyebut target harga saham ANTM Rp 1.650 dan stop loss jika menyentuh Rp 1.470. Mandiri Sekuritas membubuhkan keterangan dalam analisanya terkait saham Antam, yakni Bullish Continuation, High ADX (2/10/2024) hari ke-8.

Sementara itu, jumlah pemegang saham Aneka Tambang atau Antam (ANTM) melonjak 8.860 pihak menjadi 248.997 pemegang saham per 30 September 2024.

ada bulan sebelumnya, yakni per 31 Agustus 2024, jumlah pemegang saham Antam (ANTM) masih 240.137 pemegang saham.



Berita ini dikutip dari : Investor Daily
Penulis : Thresa Sandra Desfika
14 Okt 2024 | 09:53 WIB